Selasa, 23 Oktober 2018

Aku Datang, Dunia yang Baru!


Aku lulus!

Aku telah melalui masa perjuangan yang penuh keringat, air mata, dan ingus. Literally. Kamu nggak tahu berapa kali aku sakit di tengah badai skrip-s hanya untuk lulus! Sungguh drama yang emosional.

Kalau mungkin ada banyak orang yang tidak tahu apa yang akan mereka lakukan setelah lulus kuliah, aku tahu. Aku tahu apa yang akan kulakukan, dan bukan sekedar mendapatkan pekerjaan yang lebih baik untuk mendapatkan uang lebih banyak—atau menikah. Ya, mengumpulkan uang itu penting tapi itu hanyalah bagian kecil dari rencana besarku!—dan menikah juga bukan tujuan hidupku. Ada banyak sekali, aku sampai bingung harus mulai dari mana. Mungkin harus aku mulai dengan menulis kiriman baru di blog-ku ini. Hah!

Sebenarnya aku sudah menulis daftar, tapi itu adalah daftar tentang hal-hal yang harus kuselesaikan sebelum memulai perjalanan baru dalam hidupku. Hal-hal yang seharusnya sudah kulakukan sejak lama, dan belum semuanya terlaksana. Aku berencana untuk menyelesaikannya bulan ini. Aku tidak tahu apakah aku bisa menyelesaikannya tepat waktu karena tugas-tugas baru terus berdatangan! Betapa sibuknya pikiranku ini untuk terus merancang program dan merealisasikannya sampai hampir tidak ada waktu untuk berleha-leha membaca habis tumpukan buku-selanjutnya-yang-harus-dibaca atau menulis cerita-cerita baru sementara menunggu waktu wisuda (omong-omong soal wisuda, sebenarnya aku tidak ingin wisuda, hanya ingin ambil ijazah, selesai, tidak perlu bayar biaya wisuda. Lumayan buat bayar les musik satu bulan yang sebenarnya jauh lebih bermanfaat. Tapi sistem di kampus kami seolah-olah membuat para mahasiswa tidak mungkin untuk lulus tanpa wisuda =_=).

Ya, ampun, aku ingin sekali menulis lebih banyak tapi aku harus membuat daftar baru dan mengerjakan proyek-proyekku. Mungkin aku akan menuliskannya dalam kiriman-kiriman berikutnya, lebih fokus dan terarah. Aku akan berusaha sebaik mungkin!

Selasa, 01 Mei 2018

Road to Low-waste Lifestyle


My low-waste weapons

Tadinya kiriman ini ingin saya publikasikan di Hari Bumi Sedunia—sekaligus hari ulang tahun saya (hah!)—tapi karena hari-hari menjelang hari itu banyak pekerjaan yang harus diselesaikan dan banyak pikiran yang harus diwujudnyatakan, kiriman ini baru berhasil saya publikasikan sekarang. Akhirnya! Lagipula, tiap hari adalah Hari Bumi, bukan? Sudah lama saya ingin berbagi cerita mengenai upaya yang berhasil saya lakukan untuk mengurangi sampah yang sulit hingga tidak dapat terurai oleh tanah yang kita injak di bumi tercinta. Upaya tersebut adalah membawa botol minum berbahan stainless steel ke mana pun saya pergi dan menolak menggunakan kantong plastik untuk menampung barang belanjaan saya. Ya, sejauh ini baru dua upaya itu yang berhasil saya lakukan.

Sedih.

Bagi saya yang hidup di kawasan perkotaan di mana semuanya serba praktis, gaya hidup low-waste apalagi zero-waste merupakan sebuah tantangan yang bukan main beratnya; supermarket dan minimarket ada di mana-mana, berbagai produk yang saya butuhkan maupun tidak begitu saya butuhkan (cemilan merk terbaru yang menggoda selera misalnya) mayoritas dikemas dalam kemasan plastik dan karton pabrikan. Jadi, tiap kali saya berbelanja di supermarket atau minimarket langganan, saya merasa sangat berdosa, “Katanya mau ngurangin sampah plastik. Semua barang yang kaubeli dibungkus plastik, tuh!” Begitu bunyi suara di kepala saya. Membawa tas belanja sendiri rasanya masih belum cukup. Belum lagi kalau saya menerima paket dari situs belanja online yang hampir pasti dibungkus plastik. Beban hidup jadi terasa lebih berat.

Walau begitu, saya selalu berusaha menyemangati diri sendiri, setidaknya ada satu langkah kecil yang sudah saya buat dan satu langkah itu pasti akan memicu langkah-langkah kecil berikutnya.

Bagi Anda yang ingin menerapkan gaya hidup low-waste, Anda harus belajar untuk berencana sebelum berbelanja, karena inti dari gaya hidup ini adalah perencanaan yang matang dan komitmen tentunya. Berikut langkah-langkah yang saya lakukan untuk mengurangi penggunaan kantong plastik yang dapat Anda ikuti juga:
1.     Buat daftar belanja. Selain menghemat pengeluaran, daftar belanja juga membantu Anda untuk menentukan jumlah tas belanja dan wadah yang harus Anda bawa (untuk menampung belanjaan apa saja).
2.  Siapkan tas belanja. Pastikan Anda memiliki tas belanja yang dapat digunakan berulang kali lebih dari satu dan tersedia dalam berbagai ukuran. Tas belanja yang saya miliki ada yang khusus saya beli dari supermarket, ada juga yang saya dapat dari membeli produk dari berbagai toko (butik, gerai ponsel, gerai kacamata) atau tas bekas souvenir. Ada yang berbahan plastik tebal maupun kain. Tiap kali belanja bulanan, saya akan membawa tas-tas berikut: satu tas besar untuk barang-barang umum, tas kecil untuk buah-buahan (kalau sedang ingin beli buah. Usahakan pilih buah yang tidak dibungkus jaring), dan tas kecil untuk bawang merah dan bawang putih. Kalau sedang ingin beli tape ketan, saya akan membawa tas plastik kecil dari rumah karena kemasan tape ketan itu tidak anti tumpah (tas plastik itu akan saya cuci agar bisa dipakai lagi).
3.    Siapkan wadah khusus. Ada produk-produk segar yang tidak langsung dikemas (yang biasanya akan dibungkus plastik kemudian) dan tidak mungkin Anda jadikan satu dengan belanjaan lainnya. Contohnya adalah telur, daging, kelapa parut, jus, es campur dan berbagai bahan makanan atau minuman lain. Untuk produk-produk tersebut saya menyiapkan tempat telur, mangkuk atau wadah bertutup, dan gelas bertutup. Saya sengaja membeli satu merk telur di satu supermarket—agak mahal harganya dibanding telur biasa—supaya tempatnya dapat saya gunakan kembali, tak perlu lagi membungkus telur dengan plastik, pun lebih aman. Mangkuk atau wadah bertutup saya gunakan untuk daging atau bahan makanan lain, dan gelas bertutup untuk kopi, teh, jus, atau minuman lain. Saya baru saja membeli mug termos (baru muncul di supermarket langganan), berukuran 450 ml, mungkin akan saya coba pakai kalau ingin beli milk tea favorit—semoga cukup hehe.

Nah, itulah 3 langkah mudah mengurangi penggunaan kantong plastik saat berbelanja yang dapat saya bagikan. Tampak ribet di awal dan ada kemungkinan Anda akan ditertawakan pegawai toko. Serius. Saya mengalami ini beberapa kali di satu supermarket langganan ketika akan menimbang telur atau buah. Pegawai yang melayani saya gonta-ganti, sih, jadi tidak tahu kebiasaan saya—ketemu dengan pegawai yang sama juga dia tetap menertawakan saya, denk. Yang paling bikin sebal adalah masa-masa awal saat saya menimbang buah (apel/pir/jeruk yang saya beli untuk diri sendiri, paling hanya tiga atau empat buah) tanpa menggunakan kantong plastik yang telah disediakan. Salah satu pegawai ngeyel supaya saya menggunakan kantong plastik walau saya sudah bilang tidak, tidak, dan tidak. Dipikirnya saya anak kecil yang nggak tahu caranya belanja kali, ya. Alhasil, karena saya bukan tipe orang yang bisa galak dengan orang asing, saya pasrah saja saat dia mengeluarkan buah saya dari dalam tas kain lalu memindahkannya ke dalam kantong plastik dan dengan senyum puas menempelken stiker harga lalu menyerahkannya kepada saya. Ih, bikin kesel, deh! Semoga Anda tidak mengalami hal yang sama. Kalau iya, jangan menyerah! Masih ada kesempatan. Lama-lama Anda akan terbiasa dan dapat dengan fasih mengucapkan, “Nggak usah diplastik, ya, Mbak/Mas/Pak/Bu!” Intinya adalah disiplin, konsisten, dan tegas (dengan pegawai toko). Rencanakan belanja Anda di rumah. Kalau di tengah jalan tiba-tiba ingin belanja tapi tidak bawa tas belanja, ya tidak usah belanja (kecuali belanjaan Anda sedikit dan muat dalam tas yang sedang Anda bawa atau Anda berada dalam situasi di mana kalau nggak beli barang itu Anda bisa mati). Perlahan Anda akan mengalami perubahan gaya hidup; pengeluaran lebih terkontrol, menghindari cemilan kurang sehat, mulai membawa bekal, makan makanan yang lebih sehat, dan mulai memerhatikan dan menggunakan produk-produk ramah lingkungan.

Sebagai informasi tambahan, saya memulai gaya hidup ini karena terinspirasi oleh Lauren Singer yang bisa Anda tonton videonya di sini. Dia memberi solusi atas kekhawatiran saya tiap kali membuang sampah kemasan ke tempat sampah. Berikut rencana saya selanjutnya yang terinspirasi darinya: membeli sikat gigi bambu, membeli sikat pencuci piring ramah lingkungan, membeli sedotan stainless steel, membeli produk pencuci piring, pelembut pakaian, dan pembersih lantai curah, dan membuat deodoran dan lotion sendiri. Selain itu, kesadaran saya untuk benar-benar mengurangi sampah kemasan meningkat setelah menonton video yang menyorot Boyan Slat dan proyeknya yang luar biasa untuk menjaring jutaan ton sampah dari lautan—Anda harus tonton videonya di sini. Ini adalah masalah serius yang harus kita atasi bersama, teman-teman, kalau kita ingin bumi ini bertahan lebih lama dan dapat terus memberikan kebaikannya untuk kita semua. Jangan pernah meremehkan dampak yang bisa dibuat oleh satu orang.

Jika Anda memiliki pengalaman, informasi tambahan, kritik, maupun saran yang ingin Anda bagikan terkait gaya hidup low-waste atau zero-waste, silakan tinggalkan pesan di kolom komentar :). Terima kasih sudah membaca! Selamat berjuang menyelamatkan bumi tercinta! Sampai berjumpa di kiriman berikutnya!

Senin, 13 Maret 2017

Double Happiness

Jumat, 10 Maret 2017
Menjelang tengah hari

Aku sedang sibuk mengetik not angka yang cukup bikin stres untuk paduan suara gerejaku ketika ibuku menyebut namaku (dua nama tengahku) sambil memegang sebuah amplop putih. Penasaran karena aku hanya menggunakan nama itu di beberapa media sosialku, aku mendekati ibu dan girang bukan main karena ternyata  itu adalah surat balasan dari teman pena pertamaku! Seolah itu belum cukup mendebarkan, ibuku menyebut namaku lagi (nama kecilku) dan kali ini beliau memegang amplop coklat yang langsung saja kurebut karena ibu suka berlama-lama mengamati barang orang dan bertanya-tanya (agak kepo memang =w=). Amplop coklat itu berisi pesananku dari seorang teman (yang tidak jadi barang pesanan karena ia memberikannya dengan cuma-cuma =w=). Tak kusangka cepat juga sampainya.

Yang pertama kali kuamat-amati tentu saja surat dari teman penaku karena aku tidak menyangka ia akan membalasnya. Aku sudah pasrah kalau-kalau ia tidak ada niatan untuk membalas surat pertamaku untuknya karena sudah empat bulan lebih tidak ada kabar sejak ia menerima suratku itu. Teman penaku ini berasal dari Florida, otomatis pakai bahasa Inggris kan ya, aku merasa takut dan malu kalau-kalau dia tidak menyukai (surat)ku dan menganggapku aneh (karena perbedaan budaya dan sebagainya). Tapi ternyata dia membalasnya! Aku tidak henti-hentinya memekik kegirangan, cengar-cengir sendiri, mengagumi coretan bolpoin hitamnya yang memenuhi bagian belakang amplop. Ada gambar macam-macam: pelangi, pepohonan, keyboard, gitar, dan banyak lagi yang diselingi berbagai kata-kata yang menghangatkan hati. Aku bertanya-tanya apakah ada di antara kata-kata itu yang berasal dari lirik sebuah lagu. Yang paling menarik perhatianku adalah ada gambar negara bagian Florida yang ia tandai dengan "I'm here" dan tidak jauh dari situ kata-kata "you are here" yang ditulis di atas gambar di suatu tempat dalam tata surya XD. Perangkonya juga bagus sekali, bergambar Jimi Hendrix. Jujur saja aku belum pernah mendengarkan Jimi Hendrix. Pertama kali tahu Jimi Hendrix adalah saat aku melihat pameran lukisan dan berbagai benda seni rupa di Gedung Merak sekitar dua tahun yang lalu. Ada seorang seniman yang melukis Jimi Hendrix di atas media yang sangat besar dengan sangat indah. Perangko ini mengingatkanku akan lukisan itu karena bagiku sama indahnya <3. Aku jadi malu karena waktu aku mengirim suratku, aku membeli perangko seadanya. Hiks. Maklum masih pemula. Aku tidak langsung membaca surat itu karena aku masih merasa sayang untuk membukanya, lagipula saatnya tidak pas. Pekerjaanku belum selesai, aku belum mandi, dan satu jam lagi harus berangkat mengajar. Jadi kusimpan surat itu untuk kubaca sore nanti kalau aku sudah pulang.

Aku sukaaa amplop ini!

Jimi Hendrix stamps

Aku beralih ke amplop coklat dan terkejut karena ternyata ukuran patch-nya besar juga =w= dan lagi ada dua buah padahal aku hanya memesan satu. Setelah kukonfirmasi, kata Pakdhe itu bonus. Yang bikin tambah sebal adalah, katanya aku transfer ongkos kirim saja, tapi ujung-ujungnya aku dibilang nggak usah transfer. Jadi gratis donk. Padahal awalnya kan aku memang niat mau beli =__=. Awas saja deh, Pakdhe, tunggu pembalasanku! Hahaha. Aku memesan patch itu karena punyaku yang kudapat dari membeli album bundling hilang, kucari-cari tidak ketemu padahal mau kupasang. Patch yang dijual terpisah berukuran lebih besar lagipula tulisan nama band-nya berbeda warna, sengaja begitu karena patch yang di-bundling ceritanya edisi spesial. Kalau besar begini aku jadi bingung mau pasang di mana, sementara disimpan dulu saja di kotak cepat sembuh. Hehe.

The Cloves and the Tobacco - Across the Horizon patch

Begitulah. Di hari Jumat yang lumayan melelahkan dan bikin stres itu, aku jadi bersemangat lagi karena dua buah amplop yang membawa kebahagiaan datang di waktu yang bersamaan. Aku belum pernah mendapatkan dua kiriman di hari yang sama. Bagiku itu adalah hal yang sangat menggembirakan! \(^o^)/

Sabtu, 13 Juni 2015

Selamat Ulang Tahun!

Sepertinya akhir-akhir ini aku akan sering telat memperbarui blog-ku. Maaf, ya. Semoga kalian tetap menikmatinya. Hohoho ^.^ 

25 April 2015


Hujan semalam masih bertahan hingga pagi ini, berupa gerimis yang cukup membuatmu basah kuyup dan kedinginan apabila terlalu lama berdiri di luar. Tapi aku tidak ingin bercerita tentang pagi yang melankolis kali ini. Aku ingin bercerita tentang kue ulang tahun pertama yang kubuat sendiri sepanjang sore hingga malam kemarin! XD
 

Hari ulang tahunku sendiri memang sudah lewat, aku bahkan hampir melupakannya di hari-hari sebelumnya karena terlalu mencemaskan banyak hal. Walau aku ingat pun aku tidak akan terlalu heboh juga menyambutnya karena hari ulang tahun sama saja seperti hari-hari biasa, tidak ada yang terlalu istimewa. Tapi tetap saja aku berterima kasih kepada Pakdhe Wid, Mas Nosan, Pipin, Kikik, dan kakakku yang memberi ucapan selamat ulang tahun lewat SMS. Aku sangat senang mereka benar-benar ingat—aku menyembunyikan tanggal lahirku di akun facebook-ku, selain tidak ingin membuat akunku penuh dengan ucapan selamat dari orang-orang yang tidak kukenal, aku ingin melihat siapa saja orang yang ingat tanpa mendapatkan pemberitahuan, itu artinya mereka benar-benar spesial ^^. Nah, aku sudah bilang sebelumnya kan kalau bagiku tidak ada yang terlalu istimewa di hari ulang tahun? Walau begitu, di tahun ini setidaknya aku ingin melakukan satu hal yang belum pernah kulakukan sepanjang hidupku: membuat kue ulang tahun plus hiasannya sendiri, dan beginilah jadinya!



Memang tidak sempurna, tapi aku menyukainya! Aku menikmati tiap tahap membuatnya: mencampur, mengocok, mengaduk, memanggang, memotong, mengoles, membentuk, menata. Ah, sungguh menyenangkan!

Meski menyenangkan bukan berarti tidak ada masalah ;)

Aku menggunakan resep kue yang sama seperti yang selama ini kubuat, resep turun temurun dari nenekku, dulu ibuku sering membuatnya dan ia mengajarkannya padaku. Yang menjadi masalah adalah, aku menggunakan loyang bundar yang baru kubeli berdiameter 22 cm dan tinggi 3 cm, sedangkan adonan yang kubuat biasa dituang ke dalam loyang persegi dengan sisi 22 cm dan tinggi 5 cm. Bayangkan kuenya membludak jadi seperti apa. Awalnya aku tidak ingin menuang semua adonannya tapi ibuku bersikeras untuk menuang semuanya, menurutnya kuenya paling akan menggembung sedikit. Tetap saja aku cemas. Kecemasanku bertambah saat loyang kupindah ke rak atas oven, kueku semakin menggembung dan tampak menyentuh atap oven =w=. Saat matang, aku melihat ada sedikit bagian gelap di bagian tengah yang sepertinya menyentuh—atau hampir menyentuh?—atap oven. Selain itu kuenya baik-baik saja, aku sudah mengeceknya dengan lidi dan memastikan kuenya matang merata, meski tampak agak menggembung ke samping dan gosong di pinggir permukaannya. Saat aku membaliknya, aku cukup terkejut karena ternyata bagian dasarnya mulus tanpa cela—biasanya kalau ibuku yang membuat, bagian dasarnya sering menempel di loyang—sehingga aku memutuskan bagian dasar akan menjadi bagian atas, jadi aku harus memotong bagian atas—yang sekarang jadi bagian dasar—agar kuenya dapat berdiri tegak lurus. Aku belum pernah memotong dengan cara seperti itu dan sangat senang saat mendapatkan hasil yang sempurna! Hahaha. Kakakku langsung memotong-motongnya, dan rasanya sangat enak—seperti biasa XD.
 

Tiba saatnya untuk membuat lapisan krimnya! Aku belum pernah membuat krim sebelumnya. Aku mengikuti resep krim yang ada di bungkus gula pasir. Di situ tertulis 3 bahan untuk membuat krim: mentega putih, soft cream, dan susu kental manis. Aku tidak punya soft cream karena tidak tersedia di toko bahan kue langgananku, jadi aku hanya mengocok mentega putih dan susu kental  manis. Ibuku menambahkan gula halus sebagai pengganti soft cream, selain itu agar rasanya bertambah manis sedikit—aku sudah menuangkan setengah kaleng susu tapi rasanya masih tawar. Saat krim sudah jadi, maka aku sampai pada bagian yang paling menantang: menghias! Mengoles seluruh permukaan sampai rata dengan krim itu susah-susah gampang, banyak susahnya sih. Entah karena tekstur krim yang kubuat atau pisau yang kugunakan atau memang aku yang tidak berbakat mengoles? Semakin kurapikan kelihatannya semakin kacau. Saat kurasa kelihatan sedikit rapi aku harus cukup puas dengan bentuk yang seperti itu kalau tidak ingin menghabiskan sepanjang malam untuk mengacaukannya lebih jauh. Aku paling suka bagian mencampur warna. Aku membuat empat macam warna: biru muda, merah muda, coklat tua, dan coklat muda. Hanya empat warna itu yang terbayang dalam pikiranku saat merencanakan untuk membuat kue ini beberapa bulan yang lalu. Warna-warnanya sungguh cantik, persis seperti yang ada dalam bayanganku, walau bentuk-bentuk yang kubuat selanjutnya tidak sesempurna itu. Sekali lagi entah karena alat yang kugunakan atau tanganku yang tidak berbakat. Yah, ini kan pertama kalinya, aku sudah cukup puas dengan hasil kerja tanganku dan imajinasiku yang sederhana. Menurutku kueku cukup cantik, dan jika aku bertemu dengan orang yang tepat, aku akan mampu membuat yang lebih baik dari ini suatu hari nanti! XD.

Oh, ya. Keuntungan dari membuat kue ulang tahun sendiri adalah, selain kau bebas menentukan bentuk kue dan hiasan yang kauinginkan, kau juga bebas menentukan lilin angka mana yang ingin kaupasang di atasnya! Mwahaha. Percaya atau tidak, aku berumur sembilan belas untuk selamanya! XD
Lakukanlah hal-hal yang ingin kaulakukan. Meski kadang merepotkan—begitu juga yang dipikirkan oleh orang-orang di sekitarmu—kau akan memelajari banyak hal dan menemukan kepuasan tersendiri. Kepuasan itulah yang akan membuatmu ingin melakukan sesuatu yang lebih baik lagi di masa yang akan datang. Selamat ulang tahun! \(>w<)/