Senin, 29 November 2010

Jannet dan Julie


“Hei, Julie! Lihat.”
Miss Golie berdehem memeringatkan sambil melotot ke arah Jannet. Penggaris papan tulisnya diayun-ayunkan seolah mengancam. Jannet kembali ke kertas ulangan di depannya tapi tetap mencuri-curi pandang ke arah Julie yang berada di baris sebelahnya. Diam-diam ia mengeluarkan secarik kertas dari laci agar Julie bisa melihat.
“Apa itu?” bisik Julie saat Miss Golie sedang sibuk menata rambutnya.
“Aku menemukannya di perpustakaan, kemungkinan besar ini bisa membantu pencarian kita!” balas Jannet bersemangat. “Pulang sekolah nanti, saat yang tepat untuk memulainya.”
“Benarkah? Kita harus beritahu si Mor juga.”
Mereka berdua menoleh ke bangku paling pojok di belakang. Terlihat Mor sedang serius membaca soal ulangan sambil mengetuk-ngetukkan pulpen ke meja.
“Yep, kita cegat dia setelah selesai ulangan,” kata Jannet.
“Ya, kalian bisa melakukannya setelah kalian menyelesaikan semuanya, Nona Jannet dan Nona Julie.” Miss Golie ternyata sudah menjulang di hadapan mereka dengan penggaris diayun-ayunkan. Jannet sampai terlonjak saking kagetnya. Reflek, ia mengembalikan kertas tadi ke dalam laci, sangat berharap Miss Golie tidak melihatnya. “Tapi sayangnya kalian sudah menyia-nyiakan waktu yang kuberikan. Berikan kertas kalian dan kalian boleh keluar sekarang.”
“Tapi, Miss... hanya tinggal dua nomor lagi,” Julie memohon.
“Aku bahkan baru mengerjakan setengahnya,” susul Jannet tanpa dosa, membuat ramai seisi kelas dengan tawa dan ejekan.
Kemudian terdengar suara Mor, “Miss, waktunya tinggal sepuluh menit lagi. Saya rasa tidak ada salahnya kalau membiarkan mereka menyelesaikannya sebentar saja.” Jannet dan Julie mengangguk-angguk penuh harap. “Lagipula, tidak akan membuat banyak perbedaan untuk Jannet.” Anak-anak lain pun kembali tertawa dan mengiyakan. Mor hanya cengar-cengir saat Jannet memasang tampang membunuh ke arahnya.
“Aku hargai kesetiakawananmu, Mor. Tapi seharusnya mereka menyadari hal itu saat berbisik-bisik tadi. Nah, sekarang berikan kertasnya.”
Dengan enggan, Jannet dan Julie menyerahkan kertas mereka dan membereskan peralatan masing-masing. Jannet memberi isyarat peringatan kepada Mor tapi Mor hanya mengangkat bahu.
“Kau tahu? Dua nomor itu mudah saja bagiku!” kata Julie saat mereka sudah di luar kelas. “Nilai sempurnaku...,” tampangnya kelihatan seperti tidak ada harapan.
“Ya, ya, ya. Aku yang salah, maafkan aku. Tapi lihat ini.” Jannet memastikan tidak ada orang di lorong itu dan mengeluarkan kertas tadi dari tasnya. Cepat-cepat ia membuka lipatannya dan di situ segera terlihat sebuah gambar. “Denah ruang bawah tanah sekolah kita! Aku yakin tidak ada orang lain yang tahu.”

Kamis, 25 November 2010

Trauma?

Malam ini adalah malam pertama aku berjalan sendiri sepanjang gang menuju rumahku sejak aku dijambret kurang lebih dua minggu yang lalu. Kalau sebelum peristiwa itu terjadi aku merasa berani-berani saja, kali ini aku merasa agak gemetar, jujur. Mungkinkah itu yang dinamakan trauma? Mungkin.

Aku sempat berpikir seharusnya aku tadi minta dijemput saja oleh ayahku sepulang dari latihan di BiggEst, tapi temanku menawariku untuk pulang bersamanya karena hari ini dia membawa mobil. Biasanya dia akan menurunkanku di pinggir jalan raya, seberang gang yang menuju rumahku, dan selanjutnya aku harus berjalan. Dia juga sempat bertanya, "Kamu nggak trauma to?" Haha aku nggak tahu harus jawab apa. Aku hanya berusaha mengingat saat-saat aku sering berjalan pulang sendiri dulu (larut malam pun pernah), saat aku merasa berani dan yakin tidak akan ada hal buruk menimpaku. Maka aku pun mau diantar olehnya. Tak tahunya aku malah gemetar begitu turun dari mobil.

Aku berjalan sambil memeluk hardcase biolaku, bukan karena apa-apa tapi karena engsel tuanya yang dulu sudah diperbaiki ayahku jebol lagi gara-gara kejadian waktu itu. Tapi kalau seandainya memang ada yang berniat macam-macam, mungkin lebih mudah bagiku untuk menggebuknya. Aku juga terus berdoa agar tidak ada orang jahat yang menghampiri. Aku selalu waspada setiap ada sepeda motor atau mobil yang lewat, bahkan pikiran konyol sempat terlintas waktu ada mobil yang berlawanan arah berjalan melambat: jangan-jangan kali ini penjahatnya mengendarai mobil dan berniat menculikku! Nyeh, aku ragu ada orang yang mau menculik gadis yang kurus kering kerontang dan tidak membawa duit serupiah pun di dalam tasnya (mengingat dompetku dengan sukses ikut terjambret oleh makhluk biadab nan terkutuk yang aku tidak tahu siapa gerangan). Untungnya mobil itu lewat dengan mulus.

Saat berjalan melewati TKP (tempat yang akan selalu mengingatkanku akan kejadian berdarah waktu itu), dari belakang aku mendengar suara deru beberapa sepeda motor mendekat dan ada dua orang yang memanggil-manggil namaku. Jantungku rasanya mau berhenti, bukankah seharusnya aku tidak perlu merasa takut? Kalau dia tahu namaku berarti aku juga mengenalnya 'kan? Tapi sekali lagi, mungkin rasa trauma itu yang membuatku sangat waspada dan mengesampingkan logika. Aku menoleh, berusaha mengenali pemilik suara-suara itu di tengah keremangan gang. Ternyata mereka adalah anak-anak ekstra biola, teman-teman perempuan adikku, yang tadi juga sehabis dari BiggEst. Fiuuh... kaget aku. Aku baru membalas sapaan mereka saat mereka sudah melewatiku. Benar-benar untung.

Dan akhirnya aku pun sampai di rumah dengan selamat. Haaahh... Tuhan benar-benar melindungiku hari ini. Aku yakin Dia tidak akan menimpakan yang lebih buruk lagi. Yang lalu itu sudah cukup menyadarkanku.

Kamis, 18 November 2010

It's Fantasy Time!

Hari yang membosankan lagi.

Siang ini hanya ada aku dan ayahku di rumah. Ibu dan kakakku pergi ke rumah saudara sedangkan adikku sedang sekolah. Tidak ada kegiatan yang bisa kulakukan, padahal aku tahu harus membersihkan kandang hamster. Ah... nanti dulu lah~ aku ingin bersantai-santai lebih lama lagi. Lalu aku ingat ada film yang belum kutonton, Pan's Labyrinth dan Bridge to Terabithia.





Film-film jadul sih tapi aku baru bisa menontonnya sekarang, hiks T_T. Tapi tak apalah.

Pan's Labyrinth (El Laberinto Del Fauno) mengambil setting di Spanyol tahun 1943 (film ini juga buatan negeri sana), dan saat itu sedang berlangsung civil war antara prajurit negara dengan gerilyawan setempat. Film ini bercerita tentang Ofelia, gadis yang terpaksa pindah bersama ibunya yang sedang hamil ke rumah ayah tirinya yang seorang Kapten prajurit. Ternyata Ofelia adalah semacam reinkarnasi dari Putri... aaargh lupa namanya! =3= Yah, dalam cerita, Putri ini adalah Putri dari kerajaan yang ada jauh di dalam tanah, tak terjamah manusia. Karena keingintahuannya akan dunia manusia, ia melarikan diri dari kerajaannya. Tetapi saat sampai di dunia manusia, ia tidak dapat bertahan hidup dan meninggal. Namun ayahnya, sang Raja, yakin bahwa jiwanya masih hidup dan akan kembali suatu saat nanti, maka ia membuka semua portal yang menghubungkan kerajaannya dengan dunia manusia. Labirin itu--yang Ofelia temukan dekat rumah ayah tirinya--adalah portal yang terakhir dan di situ Ofelia bertemu dengan dewa Romawi yang berwujud faun, pelayan Raja. Untuk dapat kembali ke kerajaannya, Ofelia harus melakukan 3 pekerjaan yang diberikan oleh dewa ini sebelum bulan purnama muncul.

Ratingnya "Dewasa" jadi tidak heran kalau ada beberapa adegan sadis yang muncul, aku jadi sering memalingkan wajahku dari layar TV karena tidak sanggup melihatnya. Hih. Mungkin bagi sebagian orang yang sudah terbiasa melihat adegan ekstrim tidak akan menganggapnya begitu berarti. Tapi cukup ngeri bagiku.

Secara keseluruhan, ini adalah film yang suram, menurutku, dan masuk kategori gothic fairy tale dari review yang kulihat di sebuah website. Ceritanya serius, menarik, dan berakhir bahagia. Aku juga mendapat beberapa pesan moral yang bagus. Intinya, aku suka film ini!

Aku agak terkejut saat sedang browsing info film ini dan menemukan sebuah website yang menentang keras keberadaannya karena mengandung Satanisme dan Paganisme. Well, aku tidak bisa berkomentar banyak tentangnya (karena aku tidak tahu banyak) tapi jelas aku tidak memandangnya dari segi itu. Aku mengambil yang baik-baik saja yang bisa kupelajari. I always keep my faith in Jesus. Hal-hal semacam itu tidak memberiku pengaruh apa-apa. Begitulah fantasi, aku hanya menganggapnya sebagai sebuah cerita yang sangat menghibur. Terserah kalian mau bagaimana menanggapinya.

Yang kedua Bridge to Terabithia. Nah, sepertinya aku tidak perlu bercerita lebih banyak lagi untuk film yang satu ini, semua pasti sudah tahu. Yang belum tahu? Tonton saja sendiri hehe... Yang jelas aku sampai dibuat menangis dengan endingnya T_T

Aku suka sekali dengan AnnaSophia Robb yang memerankan Leslie Burke. Wajahnya tipe-tipe wajah peri hahaha. Senyumnya maniiiiisss banget and I love the way she dress in this movie. Lawan mainnya adalah Josh Hutcherson, berperan sebagai Jess. Josh sebelumnya juga berperan dalam film Zathura: A Space Adventure. Aku juga suka film itu walau tipe cerita mirip sekali dengan Jumanji. Yang tidak aku sangka adalah AnnaSophia ternyata pemeran Violet Beauregarde di film Charlie and the Chocolate Factory. Huh? Dia terlihat sangat menyebalkan di film itu, yang berarti aktingnya sukses besar karena dia begitu tampak manis dan menyenangkan di Terabithia. Aku jadi ngefans. Seumur hidupku aku hanya ngefans satu aktris cilik yaitu Dakota Fanning yang sudah main di banyak film (I Am Sam, Charlotte's Web, War of the World, juga New Moon dan Eclipse--walau hanya sebagai pemeran pembantu. Kyaaa~ Jane! XD) dan sekarang ditambah AnnaSophia >_<.


Aku juga menemukan interview AnnaSophia dan Josh tentang Terabithia lho. Kalau mau lihat silakan klik di sini.

Selasa, 16 November 2010

Untuk Selingan

Aaaarrgghh~...!!! Sudah masuk minggu ketiga bulan November! Banyak sekali kejadian tak terlupakan yang kualami di dua minggu terakhir dan aku belum bisa menuliskannya semua! T_T

Untuk para fans dan pengunjung setia blogku *dilempar tomat*, maklumi kemalasan saya. Kalau penyakit ini kambuh, saya sungguh tidak berdaya. Eits, bukan rasa malas semata yang membuatku vakum selama 2 minggu lho. Ada faktor-faktor lain yang benar-benar membuatku tak berkutik *halah*.

Ya sudahlah, masalah itu bisa kuceritakan lain waktu. Sekarang, untuk sekedar mengisi kekosongan selagi aku menyiapkan kisah-kisah yang kualami minggu-minggu kemarin, silakan nikmati ceritaku yang satu ini. Ini adalah cerpenku yang masuk 24 karya terpilih Lomba Nulis Cerpen Gokil rubrik Kantin Banget koran Suara Merdeka sekitar Mei 2009 lalu. Perlu kuperingatkan sebelumnya, ini sama sekali bukan gayaku. Tapi apa boleh buat, saat itu aku sangat ingin memenangkan hadiah utama sebesar 2 juta rupiah $_$, dan syarat utamanya adalah cerita harus se"gokil" mungkin. Mau tidak mau aku harus menyesuaikan gaya berceritaku supaya bisa masuk kualifikasi. Walaupun akhirnya aku tidak memenangkan lomba ini (kalau kulihat-lihat ceritaku biasa saja, wagu malah haha), aku merasa cukup senang cerpenku bisa masuk karya terpilih. Lumayan lah buat pengalaman, apalagi ini lomba cerpen pertamaku.

Ok, that's enough. Have a nice read =p.


JELLYKU UNTUKMU


Ricky dan Andrew cekikikan waktu di kantin sekolah. Mereka mbayangin kalo rencana kali ini pasti sukses besar.

“Eh, ini kemarin kubuat spesial lho,” kata Ricky setengah berbisik.

Andrew mengamati benda yang ditaruh Ricky di atas meja dengan takjub. Benda itu keliatan lembek banget. Nggak disentuh aja udah goyang ke kanan, goyang ke kiri. Takut-takut, Andrew nyentuh permukaannya yang licin. Itu aja udah bikin dia merinding saking jijiknya karena sekarang benda itu mulai bergoyang tak terkendali kayak mau meledak!

“Yuks! Isinya apaan aja sih tu?” Tanya Andrew sambil mengelap tangannya pake tisu. Ternyata baunya busuk juga.

“Ehem… ehem…,” Ricky mulai, “Ulat bulu utuh, walang sangit, telur bebek busuk yang embrionya hampir jadi anak bebek…”

“Huekh!” sela Andrew. “Pantesan tadi aku liat kayak ada bulu-bulu… Sadis…”

“Eits, masih ada lagi. Susu basi yang udah seminggu lebih di kulkas, bekicot cincang, lintah, durian nemu di tempat sampah, ilernya adikku yang masih bayi, semuanya kurebus pake air yang mau masuk ke septictank plus jelly instant bubuk rasa coklat. Hahaha…,” kata Ricky dengan bangga.

Andrew meringis, “Aku nggak bisa mbayangin dapurmu jadi kayak gimana.”

“Wah, lha itu! Untung orang-orang rumah lagi pada pergi. Tinggal aku sama adikku. Aku aja harus pake masker dobel 3. Gilanya, adikku malah kayaknya nafsu banget sama aroma jelly buatanku sampe ngiler terus.”

Andrew tertawa lagi, “Dijamin Erika pasti meledak! Ini rencana kita yang paling ekstrim! Haha… Kira-kira reaksinya kali ini kayak gimana ya…?”

“Tenang aja, bentar lagi kita tahu kok. Tuh orangnya dateng,” Ricky mengisyaratkan pandangan ke arah pintu sambil senyum jail.

Erika datang dengan wajah berseri-seri. Ini sih saat yang pas bagi Ricky dan Andrew untuk menjalankan aksi mereka. Mereka berdua langsung akting, pasang muka seolah-olah nggak ada apa-apa. Jelly yang tadinya ada di atas meja langsung disamber Ricky, dia sembunyikan di bawah meja, siap-siap untuk dikeluarkan pada saat yang tepat.

“Wai!” seru Erika bersemangat. Andrew meliriknya tidak berminat sambil menyeruput es tehnya. Ricky meniup balon dari permen karet lalu melambai ke arah temannya yang ada di meja seberang.

“Ih, pada kenapa sih… Padahal aku punya kabar gembira lhoo…,” ujar Rika sambil pasang tampang ceria yang cukup imut. Mengingat dia memang imut.

Ricky meliriknya lalu berkata, “Apaan sih? Paling-paling cuma pengen ngasih tahu kalo tinggimu nambah satu senti, ‘kan?” Ricky dan Andrew tertawa lalu mereka toss.

Erika mulai kesal dan cemberut, “Iiih….!! Bukan itu!”

Tepat saat Erika akan duduk dekat Ricky, dengan cepat dan tanpa Erika sadari, Ricky sudah menaruh jelly spesial tadi di kursinya. Dan begitu Rika mendudukinya, dengan cepat pula kehebohan terjadi.

CEPROT!

Bom jelly itu langsung saja mengotori rok Erika dan airnya merembes sampai ke baliknya. Pecahan jelly dengan bermacam-macam isi itu pun muncrat ke mana-mana—soalnya jelly ini porsinya lumayan gede—ada yang kena anak yang kebetulan lagi lewat, yang lainnya berceceran di lantai, bikin orang yang nginjek langsung kepleset. Bahkan anak bebek setengah jadi yang ada di jelly itu ikut melompat ke mangkuk bakso di meja sebelah. Bukan main histeris anak yang namanya Yuli itu. Latahan sama pisuhannya keluar semua. Walaupun yang duduk semeja sama dia juga ikut kaget toh akhirnya mereka ketawa juga.

Suasana kantin tambah panas gara-gara kejadian itu. Ricky dan Andrew nggak berhenti-berhenti ngakak sampai berlutut di lantai sambil nahan sakit perut. Banyak juga anak-anak di kantin yang ikut ketawa tapi nggak sedikit yang kaget dan kasihan sama Erika.

Erika sendiri cuma bisa ternganga. Ia menatap ke arah Ricky dan Andrew yang masih belum berhenti ketawa dengan perasaan kecewa. Tanpa berlama-lama lagi ia langsung berjalan cepat keluar kantin, melewati anak-anak yang menertawainya maupun yang nggak tahu apa-apa karena barusan datang.

Andrew yang mulai sadar situasi melayangkan pandangan ke seisi kantin, mencari Erika. Ia melihat Erika di dekat pintu, agak jauh di seberang ruangan, bicara sebentar dengan seorang cowok yang sepertinya dia kenali lalu mereka menghilang. Kelihatan sekali kalau Erika marah besar.

Andrew menyikut lengan Ricky yang parahnya masih aja terus ketawa.

“Eh, yang tadi itu emang lucu,” kata Andrew, “tapi kayaknya habis ini kita yang dapet masalah.”

“Hah?” kata Ricky, masih setengah sadar.

Ternyata beberapa pasang mata sedang memandang ganas ke arah mereka, terutama ‘korban-korban tambahan’ kekacauan tadi, termasuk Yuli yang batal makan suapan pertama bakso uratnya.

Baru saja Yuli akan mendamprat mereka tapi tiba-tiba datang Vina, teman dekat Erika selain Ricky dan Andrew, dan langsung berkata, “Aku tahu kalian bertiga itu sahabat. Aku juga tahu kalo kalian sering ngerjain dia walaupun kelihatannya selama ini dia nggak keberatan. Memang dia nggak keberatan. Tapi kali ini udah keterlaluan tahu nggak sih? Awas kalo kalian sampai bikin dia sakit hati,” ancam Vina.

“Wooo….,” ujar Ricky meremehkan, “Yang kukerjain dia kok yang sewot kamu? Tenang aja kali. Biasanya juga dia nggak bakal kenapa-kenapa kok. Ya ‘kan?” liriknya pada Andrew. Mereka pun tertawa kecil meski Andrew merasa ada yang janggal.

“Ya, mudah-mudahan aja nggak bakal kenapa-kenapa,” kata Vina sinis lalu pergi.

“Hah! Apa sih maunya. Berisik,” gumam Ricky.

Andrew teringat cowok yang dilihatnya tadi. “Eh, tadi aku liat—“

“Andrew White! Ricky Martin! Bagus sekali ya pemandangan di sini?!”

Terdengar suara khas Bu Vero yang menggelegar. Seisi kantin langsung heboh begitu melihat guru Fisika yang killer itu tiba-tiba ada di sana.

“Sialan! Aku paling benci dipanggil gitu,” bisik Andrew.

“Emangnya aku nggak?” balas Ricky.

* * *

“Kok bisa sih dia sama si Yosi itu?” kata Ricky jengkel.

Andrew nggak kalah heran, “Selama ini dia nggak pernah cerita apa-apa ke kita. Lagian si Yosi itu ‘kan… ah, pokoknya aku nggak suka.”

Mereka memandang lapangan basket dari lantai dua, mengamati Erika dan Yosi yang lagi jalan berdua menuju perpustakaan.

“Rasanya tanganku gatel pengen ngerjain yang namanya Yosi.” Otak Ricky mulai dipenuhi ide-ide baru cemerlangnya. Dan waktu ia mulai dengan senyum jailnya, ting! Rencana tinggal dilaksanakan.

Tapi sebelum dia sempat berbuat apa-apa, Vina sudah ada di sampingnya.

“Asal kamu tahu ya, sebenernya udah lama dia pengen cerita ke kalian. Tapi dia nggak yakin kalian bakal nanggepin serius. Ternyata bener ‘kan? Sekarang kalian malah pengen ngerjain Yosi… Dan minggu kemarin itu dia udah bener-bener mau cerita. Eh… malah kalian kerjain, batal deh,” kata Vina santai.

“Kalo nggak muncul tiba-tiba nggak bisa ya?” kata Andrew sambil mengelus dada.

“Ya… Selama kalian masih membahayakan, aku bakal muncul terus.”

“Cerewet,” kata Ricky, beringsut melewati Vina.

“Eits, mau ke mana? Mending kamu jangan ndeketin mereka berdua dulu selama—”

“Eh, kamu pikir selama seminggu ini aku pernah ndeketin mereka? Lihat Erika aja baru kali ini, sama… Yosi pula. Lagian aku mau ke kamar mandi. Puas? Napa? Mau ikut?” Ricky meneruskan langkah pelan tanpa menggubris Vina lagi.

“Kamu tahu ‘kan, kalo kami juga sayang Erika?” kata Andrew. Vina mengalihkan perhatiannya ke Andrew lalu memandang lapangan basket. “Emang sejak kapan mereka jadian?”

* * *

Selama satu minggu Ricky dan Andrew menerima hukuman mengosek WC akibat perbuatan mereka di kantin, selama satu minggu itu juga dan hari-hari setelahnya, mereka nggak pernah lagi bertatap muka dengan Erika secara langsung. Seperti menghilang entah ke mana, padahal satu sekolahan. Kalaupun akhirnya melihat juga, pasti dari jarak yang jauh.

“Gimana nih? Gara-gara kamu sih, bosen aku,” Andrew memutar-mutar sedotan di gelasnya yang sudah kosong.

Ricky cuma diam, memandang kosong ke arah meja di depannya. Andrew menyikut lengan Ricky, “Eh.”

“Enak aja nyalahin aku. Kamu ‘kan juga ikut-ikutan.”

“Tapi semua ide selalu dateng dari kamu.”

“Ya kenapa juga kamu ikut-ikutan?”

“Kamu sendiri yang ngajak. Kalo nggak nanti dibilang nggak setia kawan…”

“Aku nggak pernah bilang gitu!”

“Aku ‘kan bilang ‘kalo’.”

“Ah! Udahlah!”

Ricky dan Andrew kembali diam. Masing-masing merasa kosong, dan kali ini memang lagi bener-bener nggak ada kerjaan, karena biasanya kalo lagi nggak ada kerjaan mereka bakal langsung bikin Erika njerit, kaget, shock, terus merengek-rengek, atau nglakuin sesuatu yang bikin Erika ngeluarin ekspresi kaget yang baru yang tentu aja lucu banget bagi mereka. Buat mereka, tampang kayak Erika memang paling enak dikerjain. Tapi sekarang mereka cuma bisa nganggur, diem-dieman, nggak ada semangat.

Sebenernya ngerjain Erika bukan alasan utama mereka untuk menjadikannya sahabat. Ya memang karena sayang aja dan mengerjainya adalah ungkapan rasa sayang mereka.

Tapi kalau dipikir-pikir, kejadian yang terakhir itu memang agak keterlaluan…

“Jelly spesial datang!!”

CEPROT! CEPROT!

Tiba-tiba Ricky dan Andrew merasakan sesuatu yang dingin dan kenyal pecah di kepala

mereka, dan pecahannya ada yang masuk ke balik baju seragam mereka. Baunya manis kayak coklat susu.

Sorry ya nggak bisa bikin yang menjijikkan, nanti mami bisa marah kalo dapurnya aku berantakin.”

“Nggak pa-pa, lumayan kok rasanya,” kata Andrew, memungut jelly yang masih tersisa di rambutnya.

“Ngapain kamu di sini? Nggak sama si Yosi lagi?” tanya Ricky tak percaya dengan nada meremehkan. Ia mencoba membersihkan tubuhnya dari jelly-jelly yang manis itu

Erika tersenyum nakal, “Mmm… kata Vina kayaknya kalian hampa tanpa aku. Emang enak ditinggalin?” ejeknya. “Makanya jangan macem-macem sama Erika! Oya, kalian masih hutang maaf sama aku!”

Ricky diam sejenak tapi akhirnya berkata, “Ya… aku… minta maaf…”

“Ya, aku juga. Maafin aku ya,” susul Andrew.

Erika tertawa melihat tingkah mereka. “Kalian tu memang lucu, deh!” ia mengacak-acak rambut Ricky dan Andrew. “Nyantai aja kali! Pasti kumaafin kok. Oya, walaupun kalian sudah tahu orangnya tapi belum kukenalin secara resmi ‘kan? Sebenernya dia memang masuk sekolah ini bareng aku, tapi karena takut kalian jadiin korban selanjutnya, jadi kutunda deh.”

Erika menggandeng tangan Yosi yang ternyata sejak tadi ada di dekat-dekat situ. “Kenalin, ini Yosi, sepupu kesayanganku dari Bali. Yosi, ini temen-temenku, Ricky… Andrew. Awas! Jangan dinakalin, lho!” Yosi menjabat tangan mereka satu per satu dengan mantap.

Ricky melongo, “Jadi…”

“Awalnya kupikir juga gitu, tapi aku diberitahu Vina,” jelas Andrew.

“Sialan lo! Kok nggak bilang-bilang sih?!”

“Kamu nggak tanya kok,” jawab Andrew santai.

Semua tertawa kecuali Ricky yang mulai ‘menghajar’ Andrew sedemikian rupa tanpa ampun.


~FIN~

Minggu, 31 Oktober 2010

Halloween

Thinking about Halloween... Though my country doesn't celebrate this kind of event (because it's not our tradition, but still you can find some people held a little party at some places just for having fun), I want to celebrate it with my own way.

I was thinking to make a story used a Halloween concept. You know, pumpkin, Jack O'Lantern, spooks, candies, childrens, trick-or-treat... But I get stucked! I didn't know where was my imagination went to. Too many things I've been thinking of lately. I wish I could get a spare time to relax and expand my mind, sail on the sea of imagination.

Haha.

Just wait for a few days (or maybe until the next Halloween? nyaaa~ >_<), hopefully I could post the story in this blog. ^o^

Click here to get more Halloween wallpapers =)

Jumat, 29 Oktober 2010

Kepercayaan dan Optimisme

Pagi ini aku "ngebo" (istilah anak zaman sekarang untuk molor alias tidur kelamaan). Tidak tanggung-tanggung aku bangun pukul 11.30. What's wrong with me? Ini gara-gara semalam aku begadang sampai pukul 05.00 hanya untuk men-download lagu-lagu YUI *YUI-lover*.

Begitu bangun aku langsung mengecek HP. Ada SMS dari... ada deh, dan rupanya ada SMS yang mau masuk lagi tapi jadi tidak bisa masuk gara-gara memory full. Lalu aku menghapus sebuah SMS supaya SMS itu bisa masuk dan pengirimnya adalah teman gerejaku yang bertanya apakah aku bisa latihan di gereja pukul 11.00 dan SMS itu dikirim pukul 09.40.

???

Tanpa basa-basi lagi aku langsung mandi. SMS itu tidak aku balas terlebih dahulu karena aku ingat hari ini aku harus membimbing anak-anak ekstra biola di SMA adikku untuk berlatih sebuah lagu yang akan mereka pertunjukkan di acara EXPO Study di sekolah mereka besok Sabtu. Dan waktu latihannya adalah sepulang sekolah, jadi aku harus memastikan dulu kapan anak-anak biola akan latihan.

Tapi entah kenapa setelah itu aku malah langsung mengirim SMS ke teman gerejaku dan mengkonfirmasi kalau aku bisa datang, walau agak telat juga, dan meminta tolong padanya untuk menjemputku. Baru aku mengirim SMS ke teman adikku, Bayu namanya, untuk menanyakan kapan mereka latihan.

Sekedar informasi, adikku juga mengikuti ekstra biola. Karena ia tidak pernah membawa HP maka aku meng-SMS temannya.

Pukul 11.45. Balasan dari teman gerejaku datang dan katanya akan menjemputku pukul 12.00. Lalu balasan dari Bayu menyusul, katanya saat itu juga mereka latihan, di samping aula atas. OMG. Guruku tidak bisa datang untuk membimbing mereka karena beliau mengajar di tempat lain. Aku langsung mengirim SMS ke temanku, Witri, menanyakan padanya apakah ia dan Ajeng akan datang ke SMA itu. Katanya mereka sedang dalam perjalanan ke Semarang. Hah? Jadi mereka baru kembali dari Jogja hari ini? Setelah kutanyakan mereka sudah sampai mana, Witri menjawab mereka baru sampai di Jalan Raya Magelang-Jogja km 22.... (_ _) Zzzzzz....

Bingung, bingung deh aku. Akhirnya aku memberitahu Bayu kalau aku tidak bisa membimbing mereka dulu karena harus latihan di gereja dan baru mendatangi mereka sekitar pukul 13.00 serta menyuruh mereka berlatih sendiri.

Pukul 13.30. Saat aku sedang latihan di gereja, tiba-tiba adikku datang dan menunggu aku menyelesaikan sebuah lagu lalu menghampiriku dan berkata kalau teman-temannya sedang menungguku di SMA-nya. He? Kupikir mereka sudah selesai. Katanya permainan mereka kacau dan tidak ada guru pembimbing yang datang. Guru-guru di sekolah mereka sendiri pun tidak ada yang mau mengurus. Karena merasa percuma dan hopeless akhirnya dia mendatangiku. Aku mengatakan padanya kalau sebentar lagi aku selesai, cuma tinggal satu lagu dan ia pun pergi.

Ya ampun mesakke tenan to ya ya... (ini gara-gara YUI aku jadi begadang dan bangun kesiangan *digebuk gitar*)

Setelah selesai latihan di gereja, temanku mengantarku ke SMA adikku. Sesampainya di sana, di lorong kelas lantai 2 aku mendapati mereka selonjoran di sana, beberapa biola dan casingnya bertebaran di sebagian lorong itu. Ada juga yang sedang iseng bermain Canon in D. Saat mereka melihatku sepertinya mereka senang sekali *ge-er*. Tak kusangka anak-anak ini rela menungguku selama hampir dua jam. Saat aku bertemu dengan Bayu, ia mengeluh kalau mereka tidak akan bisa tampil dengan baik jadi lebih baik tidak usah tampil saja. Aku pun menjawab, "Ya jangan to ya, berarti kamu nggak menghargai aku, sudah mau datang ke sini," dan menyemangati mereka kalau mereka pasti bisa. Eh malah ditanggapi guyon. Katanya main lagu Canon in D saja, halaman pertama mereka yang main terus halaman kedua aku yang main sendiri. =.= Yang murid sini siapa sih sebenernya?

Kami pindah ke kelas yang tak jauh dari situ untuk menghindari kebisingan musik band yang ada di aula gedung sebelah dan berlatih pelan-pelan di situ. Di tengah aku mengajar tiba-tiba jendela terbuka dan tampaklah seorang guru-laki-laki mengamati kami. Aku hanya memberinya senyuman, sekedar untuk bersikap ramah lalu meneruskan mengajar. Tanpa kusadari ternyata Bayu sudah ada di luar, ngobrol dengan guru itu, lalu ia memanggilku karena gurunya itu ingin bicara denganku.

Setelah berkenalan kami bercakap-cakap. Kira-kira beginilah percakapanku dengan beliau, aku agak lupa juga *sindrom ingatan jangka pendek*.

Pak Guru: "Gimana ini Mbak, yang biola bisa?"

Aku: "Ya kalau latihan bisa, Pak."

Pak Guru: "Kalau latihan bisa. Kalau untuk besok?"

Aku: (agak mikir juga, tapi akhirnya menjawab) "Ya... bisa, Pak."

Pak Guru: "Bener bisa nggak? Kalau belum siap ya lebih baik..."

Entah kenapa menurutku guru ini tidak percaya sekali dengan kemampuan murid-muridnya. Aku awalnya juga merasa begitu sih *dilempar beling*, tapi akhirnya aku membela mereka.

Aku: "Kalau saya optimis bisa, Pak."

Pak Guru: "Begini lho, Mbak, besok itu 'kan ada dua kesempatan. Yang pertama acara pembukaan atau ceremony, itu pagi hari, yang kedua siang sekitar pukul 12.00. Nah, ini saya tawarkan mau tampil waktu yang mana. Kalau siang 'kan bisa lebih dimantapkan lagi latihannya."

Aku: "Ya sudah kalau begitu siang saja, Pak."

Pak Guru: "Oke, siang ya. Kalau saya sudah memastikan kesiapan di sini 'kan saya juga bisa memastikan kesiapan yang di sana (menunjuk ke aula). Oya, katanya mau diiringi gitar ya?"

Aku: "Wah, saya nggak tahu, Pak. (menengok ke Bayu) Piye? Katanya mau pake akustikan?"

Bayu: "Aku nggak tahu..."

Aku: "Ya nanti kayaknya mau pakai gitar, Pak."

Pak Guru: "Ya sudah, itu nanti 'kan anak-anak kelas 3 yang main."

Setelah itu Pak Guru pamit dan kami saling mengucapkan terima kasih. Saat aku masuk ke kelas, anak-anak bertanya ada apa. Aku memberitahu kalau mereka tampil siang sekitar pukul 12.00. Kata mereka itu adalah saat orangtua murid kelas 3 berkumpul.

Kami pun berlatih lagi dan seorang anak kelas 3 datang, katanya dia yang akan main gitar. Jadilah kami bermain diiringi permainan gitarnya ditambah Ivana (salah seorang murid ekstra biola) yang menyanyikan lagunya (judulnya Begitu Indah). Saat bermain bersama ini aku mendengar kalau suara antara biola dan gitar tidak bisa menyatu. Entah biolanya atau gitarnya yang fales, tapi aku rasa kedua-duanya fales...

Setelah latihan beberapa kali lagi, akhirnya kami memutuskan untuk menyudahinya. Menurutku juga sudah lumayan, mungkin steman biola dan gitarnya saja yang kurang pas, walau masih ada beberapa anak yang juga kurang pas memainkan nada. Tapi sudah mendinganlah.

Ketika beberapa anak pulang, aku, adikku, dan Bayu menghampiri aula di mana Ivana berada. Aku ingin menanyakan padanya apakah ada keyboardis yang akan mengiringi penampilan anak-anak biola besok. Dia malah menyebut Olga (adik kelasku di SMA dulu) dan Mas Ardy (pengajar drum di BiggEst) karena kemarin Kamis mereka berdua yang mengiringi anak-anak saat berlatih di BiggEst. Aku pun bertanya, "Lha yang dari SMA-mu nggak ada?" Dia menyebut temannya yang gendut, yang tadi menungggu di luar kelas saat kami berlatih. Ivana lalu membujuk-bujuk temannya itu supaya mau mengiringi anak-anak biola besok. Untungnya anak itu mau dan Ivana mengajakkku untuk mencoba bermain dengan keyboardis dan gitaris tadi di panggung aula. Hasilnya bagus dan aku merasa agak lega karena dengan begitu kekurangan permainan biola bisa tertutupi dan suasananya bisa lebih ramai.

Aku pulang naik mikrolet sedangkan adikku naik sepeda. Dia sudah ada di belakangku saat aku berjalan di gang pinggir jalan raya yang menuju rumahku. Saat itu kami berbicara mengenai latihan tadi. Dia menyatakan pendapatnya kalau permainan mereka tadi lebih mending daripada sebelum aku datang dan bercerita saat-saat aku belum ada di sana. Dia juga bercerita tentang guru perempuannya yang berbicara kepada Ivana. Kira-kira begini percakapannya.

Bu Guru: "Ini yang main biola jadi nggak?"

Ivana: "Jadi."

Bu Guru: "Kalau jadi, mainnya yang bagus sekalian, jangan ngisin-ngisini (malu-maluin) soalnya nanti tampil di depan orangtua murid."

WTH... What happen with these teachers??

Kalau aku boleh menambahkan sedikit informasi, guru-guru di SMA adikku ini kelihatannya tidak mengurus anak-anak ekstra biola dengan baik sejak awal ekstra ini ada. Begini. Dari pihak BiggEst, sekolah musik yang menawarkan ekstra biola, mewajibkan siswa yang ingin mengikuti ekstra ini untuk membayar sejumlah uang yang sudah ditentukan tiap bulannya, dan pembayaran disalurkan melalui pihak sekolah. Masalahnya sekolah ini tidak mau melayani pembayarannya, malah menyuruh anak-anak langsung membayar ke guru ekstra, padahal mereka juga mendapat bagian dari pembayaran itu. Itu masalah pertama. Masalah kedua, guru pembimbing ekstra biola sepertinya tidak mengurusi ekstra yang menjadi tanggung jawabnya. Serasa tidak ada guru pembimbing. Bagaimana rasanya kalau ekstra tidak ada guru pembimbing? Bingung. Dan sangat menyulitkan pihak anak-anak dan guru ekstra. Apalagi kalau ada situasi tidak terduga yang membuat kedua pihak ini sangat membutuhkan adanya seorang perantara. Masalah yang ketiga. Setelah kedua masalah tadi, para guru ini bisa-bisanya melemahkan mental anak-anak mereka dengan mengucapkan kata-kata seperti yang sudah kusebutkan di atas??

HELLO??? Kalian ngurusin aja enggak gitu loh! Sekalinya nyamperin eh, seenaknya aja menurunkan semangat anak-anak yang benar-benar ingin belajar dan tampil untuk menunjukkan kemampuan mereka. Ada yang pengen mereka lebih baik nggak usah tampil lah, ada yang seenaknya ngomong jangan sampe malu-maluin lah. Nggak ada dukungan sama sekali. Malah bikin tambah hopeless. Sadar nggak sih kalau ucapan mereka itu nggak pantes keluar dari mulut seorang guru? Mereka itu 'kan seharusnya menyemangati dan membuat kepercayaan diri mereka muncul nggak peduli sejelek apa pun hasilnya nanti! Percaya kalau murid mereka pasti bisa dan menanamkan rasa optimis dalam diri murid-muridnya. Itu baru namanya guru.

Aku akui, seperti yang sudah kusebutkan tadi, awalnya aku agak ragu dengan kemampuan anak-anak ini, tapi aku sadar aku tidak boleh berpikiran seperti itu. Segalanya itu mungkin asal aku percaya dan mengusahakannya. Toh setelah aku ajari mereka pelan-pelan akhirnya mereka bisa juga dan jadi lebih baik daripada latihan-latihan sebelumnya. Kalau saat ini mereka sungguh-sungguh berlatih untuk penampilan besok, aku yakin pasti mereka akan menjadi jauh lebih baik lagi daripada tadi siang.

Jadi, Pak Guru dan Bu Guru yang mengajar di SMA-nya adikku, sepertinya Bapak dan Ibu perlu banyak belajar dan baca buku lagi deh, kalau perlu sekolah guru lagi aja sekalian supaya Bapak dan Ibu tahu cara menjadi guru yang baik dan benar.

Dan untuk anak-anak biola di SMA-nya adikku: Semangat! Aku yakin kalian pasti bisa!

Senin, 25 Oktober 2010

Embulku Sayang

Aku nggak tahu deh harus nulis judul apa. Judul di atas sudah merefleksikan perasaanku yang paling dalam...

Jadi beginilah ceritanya.

Kemarin Minggu pagi kira-kira pukul 06.10 saat aku dan keluargaku akan berangkat ke gereja, seperti yang biasa aku lakukan, aku menghampiri tempat di mana anak-anakku (baca: hamster-hamsterku) berada. Yang pertama kuhampiri adalah ember kecil wadah pop corn XXI. Begitu kulihat isinya yang ada hanyalah kumpulan serutan kayu, si Embulku yang kutaruh di situ sudah lenyap! Disappear! Aku pun langsung berseru, "Weh! Iki ning ngendi ki..." Aku tidak bisa menyelesaikan kalimatku. Seketika aku merasakan lubang di hatiku bertambah, kosong, hampa rasanya. Aku celingukan, mencari-cari di lantai sekitar TKP, juga sekilas di lantai pinggir ruang tamu tapi tidak kutemukan dia.

Siapakah si Embul?

Dia adalah hamster kesayanganku, satu-satunya anak dari generasi pertama hasil perkawinan Miku dan Moron yang bisa bertahan hidup. Kunamai Embul karena dia yang paling gembul di antara saudara-saudaranya. Dibandingkan dengan adik-adiknya yang lahir 5 atau 6 bulan kemudian, ukuran badannya malah jauh lebih kecil. Saat adik-adiknya sudah berumur dua bulan, ukuran badan si Embul malah seperti kalau adik-adiknya berumur 1 bulan. Sepertinya dia menderita kretinisme karena aku juga merasa dia tidak bertambah besar. Tapi biarlah, walaupun begitu aku tetap menyayanginya. Dia juga satu-satunya hamster yang tidak pernah menggigitku. Hmm pernah sih tapi ia akan melakukannya kalau aku mengagetkannya dan itu sangat jarang terjadi. Pertama kali aku mengambilnya, dia malah menjilati tanganku, sedikit menggigit tapi mungkin baginya hanya untuk mengetes dan rasanya tidak sakit.

Nah begitu aku berteriak kalau si Embul kabur, aku langsung disalah-salahin & disukur-sukurin oleh kedua orang tuaku. Katanya aku ngeyel karena tidak mau memasukkan Embul beserta wadah pop corn-nya ke dalam akuarium (di akuarium itu sudah ada adik-adiknya, takutnya berantem lagi kalau digabung). Menurutku Embul tidak akan bisa keluar dari ember itu karena dia kecil lagipula dia juga sedang sakit. Entah kenapa kepalanya benjol lumayan besar dan di daerah benjolan itu bulu-bulunya rontok. Sudah agak mendingan waktu aku bedaki dengan bedak bayi walau masih benjol.

Embul adalah hamster kelima yang kabur dari tempat di mana seharusnya mereka berada. Aku masih tidak percaya kalau dia bisa keluar dari ember. Dulu aku juga pernah meletakkannya di ember itu sebelum ayahku menyiapkan akuarium, dia tidak bisa keluar tuh dari situ. Aku yakin pasti ada penyebab lain, sesuatu yang aku sendiri tidak tahu apa...

Beberapa kali aku mencoba mencarinya, merangkak-rangkak di lantai, mencari di kolong-kolong, tapi tetap tidak kutemukan. Aku hampir menangis saat memikirkannya. Rumahku lumayan besar untuk seekor hamster kecil apalagi ada daerah-daerah yang tidak terjamah saking berantakannya. Apakah dia menemukan lubang tikus? Atau lubang kecil di pintu lalu ke luar? Ke dunia yang lebih buas dan kejam di luar sana? Entahlah aku tidak tahu dan tidak ingin memikirkan hal itu! Aku hanya berharap yang baik-baik saja untuk Embulku tercinta.

Embul, semoga kamu bisa bertahan hidup di mana pun kamu berada, di luar sana atau di dalam sini, semoga kamu tidak bertemu tikus-tikus kerabatmu yang jelek dan jahat itu, atau semut-semut penggigit yang nakal. Maafkan aku, Embul, tidak bisa menjagamu dengan baik... Huhuhu...

PS: Bohong banget kalau Hamtaro dkk bisa keluar dari kandang masing-masing untuk bermain bersama dan kembali lagi saat pemilik mereka sudah pulang.

Sabtu, 23 Oktober 2010

Welcome Concert - Love Is Grace

Beberapa hari yang lalu, aku mengunggah beberapa foto waktu konser dulu (Minggu,28 Februari 2010) di akun Facebook-ku. Judulnya "Welcome Concert - Love Is Grace" yang diselenggarakan oleh BiggEst Music Entertainment School di Auditorium RRI Semarang. Welcome Concert sendiri berarti... apa ya? Haha XD. Hmm sebentar (mengingat-ingat perkataan Bu Ester), artinya kurang lebih konser yang diadakan untuk menyambut para siswa BiggEst di dunia permusikan. Maksudnya ini adalah kali pertama mereka tampil menunjukkan kemampuan mereka setelah beberapa lama dilatih oleh BiggEst. Ya begitulah kira-kira, maaf kalau kurang tepat. Sedangkan tema Love Is Grace dipilih karena mengingat konser ini diadakan di bulan Februari yang masih terasa suasana Valentine-nya (mungkin. Sok tau =p). Konser ini adalah konser besar pertama yang diadakan oleh BiggEst, juga konser pertamaku >_<.

Di bawah ini adalah foto-foto waktu gladi bersih, yang mulai kira-kira pukul 10.00.








Foto paling atas adalah foto saat Tim Little Star berlatih. Foto kedua dan ketiga adalah foto Tim Senior di mana aku termasuk juga di dalamnya. Hayo tebak, yang manakah diriku? xp

Waktu gladi bersih ini, kakak dan ayahku juga ikut nonton. Kakakku nantinya nonton konser ini jadi sekalian mau lihat lokasi, bawa kamera dan handycam (pinjeman semua tuh >_<) juga untuk mengetes. Pas aku ada waktu senggang di tengah latihan, aku dan kakakku naik ke balkon mencari tempat duduk yang nantinya bakal ditempati kakakku. Tempatnya mantap, agak di tengah gitu deh dan dari situ kami melihat ke panggung yang lagi dipakai latihan anak-anak tim ansamble gitar. Semua personil terlihat jelas. Dan ternyata tempatnya juga memungkinkan untuk dipasangi tripot jadi nggak capek megang handycam terus. Nice.

Kalau tidak salah ingat, gladi bersih selesai sekitar pukul 13.30. Sampai rumah aku langsung tiduran di kamar, capek juga lho latihan gitu soalnya pake nunggu giliran segala.

Pukul 15.00 aku langsung mandi dan siap-siap, make up sendiri seadanya. Pukul 16.30 aku berangkat diantar ayahku naik sepeda motor, habis itu ayahku balik lagi ke rumah jemput kakakku.

Konser dimulai pukul 18.00 dan inilah susunan acaranya:

1. Pembukaan
2. Sambutan panitia penyelenggara
3. Prolog

- The Concert -

1. Tim Senior:

  • Mirror Cannon
  • Minuet
  • Amazing Grace

2. Tim Twinkle Star & Little Star

  • Twinkle Twinkle Little Star

3. Tim Little Star

  • Minuet 1
  • Flow Gently Sweat Afton

4. Piano

  • Secret (Irine)
  • Ballade Pour Adeline (Lovina Angelia)

5. Ansamble Gitar feat. Christy Voice

  • T’rima Kasih Tuhan
  • My Peace

6. Piano

  • Two Waltzes (Titisari Wardani)
  • Somewhere Out There (Mila Gunawan)

7. Kwartet Violin

  • Love Is Grace

8. Tim Senior feat. Coffee Break Acoustic (Band)

  • Bunda
  • Sempurna
  • Terima Kasih Cinta (Voc. Mas Ardy dari Coffee Break)
  • Cinta Pertama dan Terakhir
  • Begitu Indah (Voc. Bu Ester & MC yang perempuan, duh nggak tahu namanya)
  • Valentine
  • Bukan Cinta Biasa
  • Rasa Ini
  • Terbaik Untukmu
  • I love You Bibeh

Sekolah-sekolah yang siswanya ikut dalam konser ini adalah:
  • SD Dian Wacana
  • SD Meteseh
  • SD Ar Ridho
  • SD Al-Azhar
  • SD Al-Azhar 14
  • SD Al Azhar 25
  • SMP Al-Azhar
  • SD St. Aloysius
  • SMAN 3
  • SMAN 14
  • SD Kristen 1 YSKI
  • SD Kristen 2 YSKI
  • SD Kristen 3 YSKI
  • SMP Kristen YSKI
  • SMA Kristen YSKI
Dibantu juga teman-teman dari:
  • SMM Yogyakarta
  • ISI Yogyakarta
  • UNY
  • UNNES
Vocal:
  • Haliza (SD St. Aloysius)
  • Mega (SMP Kristen YSKI)
  • Clarissa (SMP Kristen YSKI)
  • Chara (SMP Kristen YSKI)
  • Clarity (SMP Kristen YSKI)
  • Stefiosa (SD Kristen 2 YSKI)
  • Evan (SMA Kristen YSKI)
  • Adevita (SMA Kristen YSKI)
  • Priska (SMA Kristen YSKI)
  • Gilang

Coffee Break Acoustic terdiri dari:
  • Andre (Keyboard)
  • Ardy (Drum)
  • Indri (Gitar)
  • Andro Yopi (Bass)
Ini hanya beberapa personil dari Coffee Break yang ikut memeriahkan konser.

Tim Senior membawakan 3 lagu pembukaan. Lagu pertama, Mirror Canon, agak kacau karena Violin 1 masuk terlalu awal (atau Violin 2 yang terlambat ya?). Kalau menurutku sih ini disebabkan oleh conductor yang agak nggak jelas memberi instruksi, kurang tegas dan mantap. Aku jadi bingung. Agak tegang juga bagian ini tapi akhirnya suasana bisa lebih rileks saat lagu Amazing Grace dimainkan karena diiringi oleh permainan piano Mas Andre. Benar-benar terhanyut deh rasanya hihihi...

Setelah itu timku menunggu giliran tampil lagi di samping panggung. Lamaaa banget rasanya, pegel juga tuh kaki-kaki nunggu kelamaan. Saat menunggu giliran ini, ayahku datang membawa temannya yang seorang wartawan Harian Semarang, namanya Oom Nugroho, untuk meliput dan mewawancarai Bu Ester selaku Director konser ini. Oom Nugroho cuma datang sebentar karena setelah itu beliau ada urusan lain. Saat menunggu ini juga kami mendengar permainan piano dari anak-anak yang tampil. Kecil-kecil udah keren aja mainnya, jadi pengen... Selain itu lihat anak-anak dari Tim Little Star dan Twinkle Star, lucu-lucu deh bikin gemes >.<.

Nah, ini foto-foto waktu konser...



Tim Little Star



Tim Little Star & Twinkle Star
Lagu: Twinkle Twinkle Little Star



Tim Senior
Lagu: Rasa Ini, Vocal: Clarissa & Clarity



BiggEst n Friends >.<


Setelah konser selesai biasalah, foto-foto ^^.

Aku, ayahku, dan kakakku pulang langsung bonceng tiga dan selamat sampai di rumah kira-kira pukul 21.00.

Sebenarnya fotonya ada lumayan banyak sih tapi banyak yang kepotong 'n pencahayaannya kurang bagus (sepertinya kamu harus banyak belajar lagi ya, kakakku hehehe) jadi hanya ini yang kuambil, sisanya disimpan entah di mana oleh kakakku. Oya, ada rekaman videonya juga lho. Katanya kakakku sih sudah diedit tapi nggak tahu deh sudah selesai atau belum. Kalau sudah diedit semua akan kuunggah di facebook =p. (Terima kasih ya Mas Abhi sudah berkenan meminjamkan handycam, maaf kalau sudah merepotkan...)

Walaupun nggak kebagian konsumsi (cuma dapet minum doank. Laper, hiks T_T), secara keseluruhan aku merasa bersyukur bisa ikut serta dalam konser ini. Tahu nggak sih, padahal besoknya (Senin, 29 Februari 2010) aku ada try out sekolah untuk persiapan Ujian Nasional. Aku rela nggak belajar seharian itu demi konser ini. Di bulan sebelumnya aku juga rela pulang sore-sore dari sekolah untuk latihan dan rela datang pukul 18.00 ke BiggEst untuk menambah frekuensi latihan selain sepulang sekolah. Menurutku jarang-jarang ada kesempatan ikut konser seperti ini. Lagian try out hari Senin itu cuma Bahasa Indonesia, terus satunya apa lagi gitu, aku lupa =p. (Besoknya setelah hasil try out keluar, nilai Bahasa Indonesiaku cuma 6 koma sekian... (_ _) langsung deh guruku bertanya-tanya. Nggak pa-pa lah, try out doank, nyatanya aku lulus juga XD)

Terima kasih kepada BiggEst karena telah memberiku kesempatan untuk bergabung, kepada kakakku yang jauh-jauh datang dari Jogja hanya untuk melihat adiknya tampil dan membawa peralatan yang lumayan banyak juga bersedia mendokumentasikan hampir keseluruhan acara >_< (besoknya dia langsung balik ke Jogja), kepada Oom Nugroho yang menyempatkan diri untuk meliput di tengah kesibukannya, kepada ayahku yang bersedia mengantar-jemput, kepada ibuku yang membantu mendandani aku (hahaha), kepada teman-teman semua yang tidak bisa kusebutkan satu per satu, kepada orang-orang di balik layar yang sudah membuat acara ini dapat terlaksana. Dan yang terpenting adalah terima kasih kepada Tuhan karena telah membuat segalanya dapat berjalan dengan lancar. Tak ada kata lain selain terima kasih. Semoga BiggEst dapat terus menyelenggarakan acara seperti ini dan terus maju untuk menjadi lebih baik lagi.

God always bless us... ^^

Selasa, 28 September 2010

Kuapan dan Uang Logam

Siapa sih yang nggak pernah ngantuk di kelas? Kalau ada yang bilang nggak pernah, kuanggap kalian tidak normal.

Guru yang membosankan, materi pelajaran yang sama sekali kita nggak paham apa maksudnya, capeknya menerima pelajaran dari pukul tujuh pagi sampai pukul dua bahkan 3 siang terkadang bikin kita menguap lebih dari sepuluh kali. Aku sering mengalami hal ini waktu di SMA, apalagi waktu kelas X, padahal aku duduk paling depan, dan dengan enaknya merem sampai terbawa mimpi nggak jelas. Seringnya sih di pelajaran Bahasa Indonesia dan Agama. Bangun-bangun aku mendapati tulisan-tulisan nggak kebaca tersebar di buku tulisku, niatnya sih pengen tetep nyatet walaupun nggak kuat mempertahankan kesadaranku di dunia nyata.

Tapi kali ini aku tidak akan bercerita tentang pengalaman-paling-nikmat-di-kelas ini sewaktu SMA. Jauh sebelum itu. Saat aku masih kelas 4 SD.

Aku tidak begitu ingat waktu itu sedang pelajaran apa. Apakah Bahasa Indonesia? PPKn? Atau Matematika? Yang jelas pelajaran yang pas dijadikan pengantar tidur siang.

Aku duduk di barisan paling belakang. Wali kelasku, Pak Hari namanya, dengan semangat menjelaskan suatu materi pelajaran di balik meja guru di sudut depan kelas. Entah kenapa waktu itu aku mengantuk sekali, tidak biasanya. Karena merasa tidak enak dengan guruku kalau aku jelas-jelas tidur di meja, aku berusaha tetap sadar dan memerhatikan materi yang sedang diterangkan. Tapi yang namanya ngantuk ya ngantuk. Jadilah badanku perlahan berayun ke depan dan ke belakang, ke kanan dan ke kiri, kepala ikut berayun, mata merem-melek, kadang sambil ngowoh juga. Kalau kuingat sekarang pasti tampangku blo’on banget waktu itu. Sekitar satu dua menit aku berada dalam keadaan seperti itu, berjuang antara keadaan sadar dan tidak sadar.

Tiba-tiba Pak Hari memanggil namaku sambil melambaikan tangannya, menyuruh mendekat. Dengan kesadaran sekitar 70 persen aku berdiri dan menghampiri meja guru. “Wah, pasti Pak Hari dari tadi mengamatiku,” pikirku. Dan sempat terpikir juga bahwa aku pasti akan dimarahi.
Tapi dugaanku sama sekali tidak terjadi. Yang terjadi kemudian sama sekali berbeda dari bayanganku. Guruku ini malah berkata dengan lembut, “Tolong bantu Pak Hari menghitung uang ini, Wid,” sambil menunjuk sejumlah uang logam di meja. Pikirku, “Oh, cuma ngitung uang.” Aku langsung menghitung uang receh itu dengan cermat dan menumpuknya dengan rapi—aku suka menghitung uang =p. Apakah karena aku bendahara kelas sehingga Pak Hari menyuruhku menghitung uang? Di belakang ada beberapa temanku yang bertanya selagi aku menghitung, “Ada apa to, Pak?” atau, “W*** kenapa to, Pak?” (Sorry, my nickname is personal) Guruku pun menjawab dengan santai, “Nggak ada apa-apa.”

Setelah selesai aku berkata, “Sudah, Pak”, dan menyebutkan jumlahnya. Sepertinya guruku tidak terlalu memedulikan berapa jumlahnya karena beliau langsung berkata, “Sudah? Ya sudah, duduk lagi. Makasih, ya.”

Dengan tenang dan perasaan sedikit bangga karena sudah melakukan pekerjaan penting—biasa, anak kecil, kalau sudah membantu guru jadi merasa penting sendiri—aku berjalan menuju tempat dudukku. Teman sebangkuku pun bertanya, “Kenapa to, W**?” Aku menjawab, “Itu, cuma disuruh ngitung uang.”

Setelah itu aku pun mendapati kesadaranku kembali menjadi 100 persen dan bisa menerima pelajaran yang diterangkan dengan baik.

Kesadaranku dalam menerima pelajaran memang 100 persen, tapi kesadaran mengenai maksud guruku menyuruhku menghitung uang baru 100 persen kudapat waktu aku sudah sampai di rumah dan menceritakan kembali kejadian itu kepada ibuku. Kalau kupikir-pikir lagi, kenapa untuk mengetahui jumlah uang logam yang tidak seberapa banyak itu guruku meminta bantuanku untuk menghitungnya?

“Ternyata wali kelasku yang baik hati itu mencoba menghilangkan rasa kantukku dengan menyuruhku menghitung uang logam yang disebarnya di atas meja.”

Dan cara itu benar-benar sangat efektif ketimbang menegur atau memarahi secara langsung seorang anak dan membuatnya malu di depan anak-anak yang lain. Memang sih aku merasa sedikit malu waktu menyadarinya—yang berarti guruku sempat melihat tampang blo’onku—tapi yang tahu ‘kan cuma guruku dan aku sendiri.

Aku akan selalu mengingat pengalaman ini, pengalamanku dengan wali kelasku yang tampan, ramah, anggun, baik hati, pandai menyanyi, dan berwajah semerah tomat kalau sedang tertawa. ^_^

Hei, aku masih menyimpan tulisannya waktu kuminta beliau mengisi biodatanya di buku khusus kumpulan biodata milikku.

Senin, 20 September 2010

In the beginning...

Dulunya aku tidak pernah membayangkan akan benar-benar menyentuh sebuah biola, apalagi memainkannya. Bagiku itu sangat mustahil. Mengapa? Karena biola itu terlalu anggun dan misterius. Aku tidak tahu bagaimana caranya seseorang membuat rangkaian nada yang begitu indah hanya dengan menggesek dan memainkan senarnya, padahal tidak ada fret pada alat musik itu atau petunjuk lain mengenai not apa dimainkan di mana. Setidaknya itulah yang ada dalam benakku ketika menyaksikan seorang pemain biola di TV, dulu sekali saat aku masih kecil.

Tapi kemustahilan yang kurasakan saat itu tidak menghalangi munculnya suatu pikiran dalam otakku: “Aku ingin belajar bermain biola.”

Yah, tapi namanya juga anak kecil. Pikiran itu langsung terlupakan beberapa tahun lamanya. Di selang waktu itu memang sesekali secara kebetulan aku melihat permainan biola di TV atau di kehidupan nyataku, tapi yang kurasakan hanya sebatas rasa kagum.

Sampai pada suatu hari di jam pelajaran musik di kelas XI.

Guru musikku membagikan selebaran daftar ekstrakurikuler. Waktu itu masih awal-awal tahun ajaran. Kulihat ada beberapa ekstra baru seperti fotografi, band, dan... biola... OMG! Seketika aku teringat masa kecilku. Apakah ini jawaban atas mimpiku bertahun-tahun yang lalu??

Tak diragukan lagi aku langsung bersemangat, ditambah lagi ada catatan kecil yang menuliskan biola akan dipinjamkan dari sekolah musik. Tapi tak lama kemudian rasa ragu pun mulai muncul. Penyebabnya adalah: pertama, jika ingin ikut diwajibkan membayar sebesar Rp 40.000,00 tiap bulan, SPP-ku sudah cukup mahal, kalau ditambah lagi aku merasa tidak enak hati dengan beliau yang membiayai sekolahku. Kedua, hari dan jamnya sama persis dengan ekstra Bahasa Jepang. Saat kelas X aku sudah mengikuti ini. Mengingat aku lumayan tergila-gila dengan hal-hal berbau Jepang, ini merupakan pilihan yang sulit. Apalagi sejak kenaikan kelas, teman-teman angkatanku di ekstra Jepang menurun drastis, kalau tidak salah ingat hanya 7 orang, itu pun masih ada kemungkinan akan berkurang lagi. Aku jadi tidak tega meninggalkan Sensei. Ketiga, aku juga ingin mencoba ekstra fotografi, sementara kami hanya boleh memilih 2 ekstra. Yah memang di selebaran itu tersedia 3 nomor, tapi salah satu nomor itu disediakan untuk anak kelas X yang wajib mengikuti ekstra pramuka.

Akhirnya setelah pemikiran yang panjang, kuputuskan untuk memilih Bahasa Jepang dan fotografi, dan dengan berat hati aku harus mengesampingkan biola. Karena kupikir lebih baik les saja sekalian daripada mengikuti ekstra. Well, walaupun aku tidak tahu kapan akan memiliki kesempatan untuk itu.

Tapi sepertinya aku memang harus memenuhi impian masa laluku itu. Di ekstra fotografi harus punya kamera sendiri, dan aku tidak punya, jadi aku keluar saja. Di hari pertama ekstra Bahasa Jepang yang ikut hanya 4 orang termasuk diriku sendiri. Salah satu temanku yang dulunya juga ikut ekstra ini pindah ke ekstra biola. Di hari kedua sebelum ekstra Jepang—alias minggu depannya—aku ngobrol sama temanku itu kenapa dia pindah ekstra—karena menurutku, dan pasti Sensei juga, dia itu paling jago Bahasa Jepangnya. Katanya kalau Bahasa Jepang ‘kan bisa dipelajari sendiri, sedangkan dirinya sendiri sangat tertarik dengan biola dan ingin belajar, kalau ada ekstra biola kenapa nggak dimanfaatkan? Itu kesimpulan yang kudapat. Benar juga sih katanya. Lagipula menurutku masih sangat jarang orang yang bisa bermain biola, dan kesempatan untuk menambah jumlah orang itu ada di depan mata!

Akhirnya aku menguatkan hatiku dan langsung menelepon ibuku untuk meminta izin, juga bilang ke Sensei kalau aku ingin pindah ekstra. Jadilah itu hari pertamaku mengenal biola. Terima kasih Tuhan!!

Century: my first synopsis ^^


Century – Abad
A novel by Sarah Singleton © 2005
Published in Indonesia by PT. Gramedia Pustaka Utama, July 2007

~Sebuah kisah yang mengajarkan kepada kita untuk tidak terjebak dalam masa lalu yang kelam dan menyeret serta orang-orang di sekitar kita untuk turut merasakan kepedihan itu…~

Kubaca novel ini pada bulan Desember 2008. Setelah sekian lama tidak membaca fiksi, tidak kusangka akan menemukan satu yang langsung membuatku terpesona. Bahasa yang memikat dan ide yang tak terbayangkan dari awal hingga akhir sudah cukup membuatku untuk tetap bertahan membacanya sampai selesai saat itu juga…


“Mercy dan adiknya tinggal di dunia yang remang-remang: tidur saat matahari terbit, dan bangun saat matahari terbenam. Rumah mereka pun diselimuti musim dingin tak berkesudahan.
Mercy tidak pernah bertanya pada ayahnya tentang cara hidup mereka—dan penyebabnya—sampai suatu hari ia menemukan di bantalnya sekuntum bunga snowdrop, tanda pertama musim semi.
Pertemuannya dengan Claudius yang misterius mengguncang Mercy dan mengawali perjalanan berlikunya menyusuri sejarah keluarga, mengungkapkan fakta-fakta tentang kematian ibunya dan rumah mereka yang membeku dalam waktu.”


Tahun 1890.
Mercy Galliena Verga dan adiknya, Charity, tinggal dalam rumah mereka yang besar bernama Century—abad. Mereka tinggal bersama Galatea, pengasuh dan pengajar mereka yang tegas, Aurelia, tukang masak yang lembut, dan Trajan, ayah mereka.

Segala sesuatu selalu tampak suram di Century. Mereka terus hidup dalam dunia malam yang dingin dan bersalju. Hari-hari yang terus berlalu selalu tampak sama sampai mereka tidak tahu sudah berapa lama itu berlangsung. Bahkan mereka tidak ingat berapa umur mereka, apakah mereka memiliki kenangan masa lalu, dan yang terpenting adalah mengapa mereka tidak bisa mengingat bagaimana rupa ibu mereka dan bagaimana pemakamannya berlangsung. Tidak ada ingatan yang tersisa.

Mercy yang pertama kali menyadari hal ini sejak ia menemukan bunga snowdrop di atas bantalnya dan melihat hantu wanita baru di bawah lapisan es danau dekat Padang Penyulingan. Ia menyebut hantu bergaun pengantin itu dengan sebutan Wanita Es. Ternyata bunga snowdrop itu adalah pemberian Claudius. Claudius datang dari masa lalu, diam-diam berusaha mencari waktu yang tepat untuk dapat menemui Mercy dan memberitahunya bahwa ada yang salah dengan kehidupan yang dijalani Mercy serta ada yang disembunyikan oleh Trajan, Galatea, dan Aurelia dari Mercy dan Charity.

Dari pertemuannya dengan Claudius, akhirnya Mercy mengetahui bahwa keluarga Verga adalah keluarga yang hidup abadi, dan Trajan memiliki kekuatan yang paling besar di antara anggota keluarga yang lain. Trajan menghimpun seluruh kekuatannya untuk membuat suatu kungkungan mantra yang memerangkap mereka semua dalam 1 lingkaran hari yang terus berulang tanpa henti. Kesemuanya ada 5 hari dan 5 peristiwa penting yang terjadi dalam keluarga Verga, disusun seperti boneka Rusia yang berlapis, satu hari dalam hari yang lain. Masing-masing hari ditulis seperti bab dalam buku milik Trajan yang bersampul kulit warna merah dan diembos warna emas berjudul Century. Terdapat batas antara hari yang satu dan hari yang lain.

Claudius sendiri adalah paman Mercy, yang juga terkungkung oleh mantra Trajan. Ia berhasil menemukan batas antara harinya dengan hari Mercy dan meminta bantuan Mercy agar mematahkan mantra itu karena ia mewarisi kekuatan Trajan. Ia harus menemukan batas di antara tiap hari, melihat semua kejadian yang ada di dalamnya, kemudian menuliskan kembali semuanya secara lengkap menjadi cerita yang utuh.

Mercy sempat bimbang dan tidak percaya. Namun ketika ia menceritakan ini kepada Trajan, Aurelia, dan Galatea, mereka bersikap aneh dan mulai mengekang Mercy. Mercy membutuhkan jawaban atas semua ini dan ia mengikuti permintaan dan petunjuk-petunjuk dari Claudius mengenai apa yang harus ia lakukan, karena ia tahu ada yang salah dan ia ingin menjalani hidup dengan normal.

Mercy mulai menjelajahi semua hari melalui tempat-tempat, ruang-ruang, dan celah-celah dalam Century yang dapat menghubungkannya ke masa lalu. Tugas ini terasa sangat berat untuk dilakukan. Seringkali rasa takut dan ragu menyelimutinya, serta perasaan bersalah karena telah menentang ayahnya. Namun ia terus melangkah karena ia ingin bebas dari musim dingin yang selama ini dijalaninya.

Sekarang Mercy tahu apa yang terjadi dengan keluarga Verga setelah melihatnya dengan mata kepalanya sendiri.

Claudius mencintai Marietta, seorang manusia biasa. Ia teramat mencintainya sampai tidak ingin kehilangan dirinya. Claudius mulai membuat eksperimen terlarang. Ia membuat tiruan Marietta dari boneka dan menggunakan segenap kekuatannya untuk menciptakan boneka yang terlihat sangat persis seperti manusia. Hal terakhir yang perlu dilakukan adalah memindahkan roh Marietta ke dalam boneka itu. Saat sebelum pernikahan berlangsung, Claudius mengatakan semua ini kepada Marietta. Marietta tidak berkata apa-apa. Ia merasa sangat sedih dan berlari menuju danau dekat Padang Penyulingan lalu menenggelamkan dirinya. Ayah Marietta yang mengetahui hal ini merasa sangat marah dan mencoba membunuh Claudius. Namun Thecla, istri Trajan dan ibu Mercy, melindungi Claudius dan ia yang terkena tembakan ayah Marietta. Trajan tidak bisa menerima kematian Thecla. Dalam kesedihan yang teramat dalam, ia pun menggunakan kekuatan yang sebenarnya tidak ingin ia gunakan untuk mengekang seluruh anggota keluarga Verga dan peristiwa di dalamnya. Hal ini ia lakukan juga karena ia tidak ingin Claudius berbuat lebih jauh lagi.

Ketika sampai di hari terakhir, di mana pemakaman ibunya berlangsung, Mercy merasa putus asa dan tidak yakin ia sanggup menyelesaikan tugas ini. Namun ia menjadi kuat kembali setelah mendapat dorongan dari ibunya, serta bantuan dari Charity yang sebelumnya telah menggambar untuknya demi melengkapi buku yang ditulisnya.

Kehidupan keluarga Verga sama sekali berbeda ketika Mercy menulis kalimat terakhir di bukunya. Mantra Trajan terpatahkan. Trajan sadar bahwa mereka harus melanjutkan hidup dan meninggalkan kesedihan yang berlarut-larut. Roh Thecla pun dapat tenang dan kembali ke surga. Setelah kematian Marietta, Claudius pergi jauh ke luar kota untuk menjalani hidup barunya. Keluarga Verga dan Century bangkit kembali. Mereka mulai membuka diri terhadap orang-orang dan kehidupan di sekitarnya dalam hangat sinar matahari yang sudah lama tidak mereka rasakan.

~FIN~


Benar-benar cerita yang menggugah jiwaku untuk kembali menulis. Aku benar-benar bisa merasakan kesuraman dan dinginnya Century, serta sensasi saat Mercy menemukan semacam portal untuk kembali ke masa lalu. Menggunakan buku dan tulisan untuk mengekang hari? Baru kali ini aku menemukan hal semacam itu. Tapi sayangnya, tidak diceritakan secara jelas makhluk macam apa sebenarnya keluarga Verga itu. Hidup abadi tapi bukan vampir.... Hmm... apa ya?

Bagi kalian yang tidak paham dengan penceritaanku yang agak kacau ini, harap maklum karena aku ini penulis yang masih amatir, dan bagiku buku ini cukup sulit untuk diceritakan kembali. Penasaran? Baca saja sendiri bukunya kalau begitu =p. Bagi yang sudah pernah membaca, mohon maaf jika terdapat banyak kesalahan, karena aku sudah agak lupa bagaimana tepatnya cerita ini. Untuk Sarah Singleton: Two thumbs up for you! Hahahaha....

The Past, The Present, and The Future

Nani ga atte mo omae no shinjiru michi o yuke,
omae no kako o ukete iru...
Apapun yang terjadi melangkahlah menuju jalan yang kau percayai,
dan terimalah masa lalumu...


Dalam kehidupan ini aku sering menyayangkan segala sesuatu yang telah kulalui. Sepertinya tidak ada satu pun pekerjaan yang kulakukan dengan benar. Kemudian pasti muncul kata-kata “Seandainya saja waktu itu aku...”, dan berharap dalam sekejap aku dapat kembali ke masa itu dan memperbaiki semuanya.

Tentu saja semua orang tahu bahwa yang berlalu tak bisa diubah kembali, termasuk aku. Namun butuh waktu cukup lama bagiku untuk benar-benar bisa memahaminya. Walau sulit aku tetap harus dapat menerimanya. Yang lalu biarlah berlalu, tapi jangan pernah melupakannya, karena tanpa masa lalu itu mungkin aku tidak akan mengalami hal sekarang yang patut kusyukuri. Terlalu lama berkubang dalam masa lalu akan menguras tenagaku dan melewatkan banyak hal berharga yang sedang terjadi di sekitarku. Yang terpenting adalah percaya bahwa jalan yang sedang kutapaki sekarang adalah jalan yang benar dan baik bagiku, dengan begitu aku bisa menatap masa depan dengan penuh percaya diri.