Senin, 20 September 2010

In the beginning...

Dulunya aku tidak pernah membayangkan akan benar-benar menyentuh sebuah biola, apalagi memainkannya. Bagiku itu sangat mustahil. Mengapa? Karena biola itu terlalu anggun dan misterius. Aku tidak tahu bagaimana caranya seseorang membuat rangkaian nada yang begitu indah hanya dengan menggesek dan memainkan senarnya, padahal tidak ada fret pada alat musik itu atau petunjuk lain mengenai not apa dimainkan di mana. Setidaknya itulah yang ada dalam benakku ketika menyaksikan seorang pemain biola di TV, dulu sekali saat aku masih kecil.

Tapi kemustahilan yang kurasakan saat itu tidak menghalangi munculnya suatu pikiran dalam otakku: “Aku ingin belajar bermain biola.”

Yah, tapi namanya juga anak kecil. Pikiran itu langsung terlupakan beberapa tahun lamanya. Di selang waktu itu memang sesekali secara kebetulan aku melihat permainan biola di TV atau di kehidupan nyataku, tapi yang kurasakan hanya sebatas rasa kagum.

Sampai pada suatu hari di jam pelajaran musik di kelas XI.

Guru musikku membagikan selebaran daftar ekstrakurikuler. Waktu itu masih awal-awal tahun ajaran. Kulihat ada beberapa ekstra baru seperti fotografi, band, dan... biola... OMG! Seketika aku teringat masa kecilku. Apakah ini jawaban atas mimpiku bertahun-tahun yang lalu??

Tak diragukan lagi aku langsung bersemangat, ditambah lagi ada catatan kecil yang menuliskan biola akan dipinjamkan dari sekolah musik. Tapi tak lama kemudian rasa ragu pun mulai muncul. Penyebabnya adalah: pertama, jika ingin ikut diwajibkan membayar sebesar Rp 40.000,00 tiap bulan, SPP-ku sudah cukup mahal, kalau ditambah lagi aku merasa tidak enak hati dengan beliau yang membiayai sekolahku. Kedua, hari dan jamnya sama persis dengan ekstra Bahasa Jepang. Saat kelas X aku sudah mengikuti ini. Mengingat aku lumayan tergila-gila dengan hal-hal berbau Jepang, ini merupakan pilihan yang sulit. Apalagi sejak kenaikan kelas, teman-teman angkatanku di ekstra Jepang menurun drastis, kalau tidak salah ingat hanya 7 orang, itu pun masih ada kemungkinan akan berkurang lagi. Aku jadi tidak tega meninggalkan Sensei. Ketiga, aku juga ingin mencoba ekstra fotografi, sementara kami hanya boleh memilih 2 ekstra. Yah memang di selebaran itu tersedia 3 nomor, tapi salah satu nomor itu disediakan untuk anak kelas X yang wajib mengikuti ekstra pramuka.

Akhirnya setelah pemikiran yang panjang, kuputuskan untuk memilih Bahasa Jepang dan fotografi, dan dengan berat hati aku harus mengesampingkan biola. Karena kupikir lebih baik les saja sekalian daripada mengikuti ekstra. Well, walaupun aku tidak tahu kapan akan memiliki kesempatan untuk itu.

Tapi sepertinya aku memang harus memenuhi impian masa laluku itu. Di ekstra fotografi harus punya kamera sendiri, dan aku tidak punya, jadi aku keluar saja. Di hari pertama ekstra Bahasa Jepang yang ikut hanya 4 orang termasuk diriku sendiri. Salah satu temanku yang dulunya juga ikut ekstra ini pindah ke ekstra biola. Di hari kedua sebelum ekstra Jepang—alias minggu depannya—aku ngobrol sama temanku itu kenapa dia pindah ekstra—karena menurutku, dan pasti Sensei juga, dia itu paling jago Bahasa Jepangnya. Katanya kalau Bahasa Jepang ‘kan bisa dipelajari sendiri, sedangkan dirinya sendiri sangat tertarik dengan biola dan ingin belajar, kalau ada ekstra biola kenapa nggak dimanfaatkan? Itu kesimpulan yang kudapat. Benar juga sih katanya. Lagipula menurutku masih sangat jarang orang yang bisa bermain biola, dan kesempatan untuk menambah jumlah orang itu ada di depan mata!

Akhirnya aku menguatkan hatiku dan langsung menelepon ibuku untuk meminta izin, juga bilang ke Sensei kalau aku ingin pindah ekstra. Jadilah itu hari pertamaku mengenal biola. Terima kasih Tuhan!!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar