Selasa, 28 September 2010

Kuapan dan Uang Logam

Siapa sih yang nggak pernah ngantuk di kelas? Kalau ada yang bilang nggak pernah, kuanggap kalian tidak normal.

Guru yang membosankan, materi pelajaran yang sama sekali kita nggak paham apa maksudnya, capeknya menerima pelajaran dari pukul tujuh pagi sampai pukul dua bahkan 3 siang terkadang bikin kita menguap lebih dari sepuluh kali. Aku sering mengalami hal ini waktu di SMA, apalagi waktu kelas X, padahal aku duduk paling depan, dan dengan enaknya merem sampai terbawa mimpi nggak jelas. Seringnya sih di pelajaran Bahasa Indonesia dan Agama. Bangun-bangun aku mendapati tulisan-tulisan nggak kebaca tersebar di buku tulisku, niatnya sih pengen tetep nyatet walaupun nggak kuat mempertahankan kesadaranku di dunia nyata.

Tapi kali ini aku tidak akan bercerita tentang pengalaman-paling-nikmat-di-kelas ini sewaktu SMA. Jauh sebelum itu. Saat aku masih kelas 4 SD.

Aku tidak begitu ingat waktu itu sedang pelajaran apa. Apakah Bahasa Indonesia? PPKn? Atau Matematika? Yang jelas pelajaran yang pas dijadikan pengantar tidur siang.

Aku duduk di barisan paling belakang. Wali kelasku, Pak Hari namanya, dengan semangat menjelaskan suatu materi pelajaran di balik meja guru di sudut depan kelas. Entah kenapa waktu itu aku mengantuk sekali, tidak biasanya. Karena merasa tidak enak dengan guruku kalau aku jelas-jelas tidur di meja, aku berusaha tetap sadar dan memerhatikan materi yang sedang diterangkan. Tapi yang namanya ngantuk ya ngantuk. Jadilah badanku perlahan berayun ke depan dan ke belakang, ke kanan dan ke kiri, kepala ikut berayun, mata merem-melek, kadang sambil ngowoh juga. Kalau kuingat sekarang pasti tampangku blo’on banget waktu itu. Sekitar satu dua menit aku berada dalam keadaan seperti itu, berjuang antara keadaan sadar dan tidak sadar.

Tiba-tiba Pak Hari memanggil namaku sambil melambaikan tangannya, menyuruh mendekat. Dengan kesadaran sekitar 70 persen aku berdiri dan menghampiri meja guru. “Wah, pasti Pak Hari dari tadi mengamatiku,” pikirku. Dan sempat terpikir juga bahwa aku pasti akan dimarahi.
Tapi dugaanku sama sekali tidak terjadi. Yang terjadi kemudian sama sekali berbeda dari bayanganku. Guruku ini malah berkata dengan lembut, “Tolong bantu Pak Hari menghitung uang ini, Wid,” sambil menunjuk sejumlah uang logam di meja. Pikirku, “Oh, cuma ngitung uang.” Aku langsung menghitung uang receh itu dengan cermat dan menumpuknya dengan rapi—aku suka menghitung uang =p. Apakah karena aku bendahara kelas sehingga Pak Hari menyuruhku menghitung uang? Di belakang ada beberapa temanku yang bertanya selagi aku menghitung, “Ada apa to, Pak?” atau, “W*** kenapa to, Pak?” (Sorry, my nickname is personal) Guruku pun menjawab dengan santai, “Nggak ada apa-apa.”

Setelah selesai aku berkata, “Sudah, Pak”, dan menyebutkan jumlahnya. Sepertinya guruku tidak terlalu memedulikan berapa jumlahnya karena beliau langsung berkata, “Sudah? Ya sudah, duduk lagi. Makasih, ya.”

Dengan tenang dan perasaan sedikit bangga karena sudah melakukan pekerjaan penting—biasa, anak kecil, kalau sudah membantu guru jadi merasa penting sendiri—aku berjalan menuju tempat dudukku. Teman sebangkuku pun bertanya, “Kenapa to, W**?” Aku menjawab, “Itu, cuma disuruh ngitung uang.”

Setelah itu aku pun mendapati kesadaranku kembali menjadi 100 persen dan bisa menerima pelajaran yang diterangkan dengan baik.

Kesadaranku dalam menerima pelajaran memang 100 persen, tapi kesadaran mengenai maksud guruku menyuruhku menghitung uang baru 100 persen kudapat waktu aku sudah sampai di rumah dan menceritakan kembali kejadian itu kepada ibuku. Kalau kupikir-pikir lagi, kenapa untuk mengetahui jumlah uang logam yang tidak seberapa banyak itu guruku meminta bantuanku untuk menghitungnya?

“Ternyata wali kelasku yang baik hati itu mencoba menghilangkan rasa kantukku dengan menyuruhku menghitung uang logam yang disebarnya di atas meja.”

Dan cara itu benar-benar sangat efektif ketimbang menegur atau memarahi secara langsung seorang anak dan membuatnya malu di depan anak-anak yang lain. Memang sih aku merasa sedikit malu waktu menyadarinya—yang berarti guruku sempat melihat tampang blo’onku—tapi yang tahu ‘kan cuma guruku dan aku sendiri.

Aku akan selalu mengingat pengalaman ini, pengalamanku dengan wali kelasku yang tampan, ramah, anggun, baik hati, pandai menyanyi, dan berwajah semerah tomat kalau sedang tertawa. ^_^

Hei, aku masih menyimpan tulisannya waktu kuminta beliau mengisi biodatanya di buku khusus kumpulan biodata milikku.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar