Minggu, 31 Oktober 2010

Halloween

Thinking about Halloween... Though my country doesn't celebrate this kind of event (because it's not our tradition, but still you can find some people held a little party at some places just for having fun), I want to celebrate it with my own way.

I was thinking to make a story used a Halloween concept. You know, pumpkin, Jack O'Lantern, spooks, candies, childrens, trick-or-treat... But I get stucked! I didn't know where was my imagination went to. Too many things I've been thinking of lately. I wish I could get a spare time to relax and expand my mind, sail on the sea of imagination.

Haha.

Just wait for a few days (or maybe until the next Halloween? nyaaa~ >_<), hopefully I could post the story in this blog. ^o^

Click here to get more Halloween wallpapers =)

Jumat, 29 Oktober 2010

Kepercayaan dan Optimisme

Pagi ini aku "ngebo" (istilah anak zaman sekarang untuk molor alias tidur kelamaan). Tidak tanggung-tanggung aku bangun pukul 11.30. What's wrong with me? Ini gara-gara semalam aku begadang sampai pukul 05.00 hanya untuk men-download lagu-lagu YUI *YUI-lover*.

Begitu bangun aku langsung mengecek HP. Ada SMS dari... ada deh, dan rupanya ada SMS yang mau masuk lagi tapi jadi tidak bisa masuk gara-gara memory full. Lalu aku menghapus sebuah SMS supaya SMS itu bisa masuk dan pengirimnya adalah teman gerejaku yang bertanya apakah aku bisa latihan di gereja pukul 11.00 dan SMS itu dikirim pukul 09.40.

???

Tanpa basa-basi lagi aku langsung mandi. SMS itu tidak aku balas terlebih dahulu karena aku ingat hari ini aku harus membimbing anak-anak ekstra biola di SMA adikku untuk berlatih sebuah lagu yang akan mereka pertunjukkan di acara EXPO Study di sekolah mereka besok Sabtu. Dan waktu latihannya adalah sepulang sekolah, jadi aku harus memastikan dulu kapan anak-anak biola akan latihan.

Tapi entah kenapa setelah itu aku malah langsung mengirim SMS ke teman gerejaku dan mengkonfirmasi kalau aku bisa datang, walau agak telat juga, dan meminta tolong padanya untuk menjemputku. Baru aku mengirim SMS ke teman adikku, Bayu namanya, untuk menanyakan kapan mereka latihan.

Sekedar informasi, adikku juga mengikuti ekstra biola. Karena ia tidak pernah membawa HP maka aku meng-SMS temannya.

Pukul 11.45. Balasan dari teman gerejaku datang dan katanya akan menjemputku pukul 12.00. Lalu balasan dari Bayu menyusul, katanya saat itu juga mereka latihan, di samping aula atas. OMG. Guruku tidak bisa datang untuk membimbing mereka karena beliau mengajar di tempat lain. Aku langsung mengirim SMS ke temanku, Witri, menanyakan padanya apakah ia dan Ajeng akan datang ke SMA itu. Katanya mereka sedang dalam perjalanan ke Semarang. Hah? Jadi mereka baru kembali dari Jogja hari ini? Setelah kutanyakan mereka sudah sampai mana, Witri menjawab mereka baru sampai di Jalan Raya Magelang-Jogja km 22.... (_ _) Zzzzzz....

Bingung, bingung deh aku. Akhirnya aku memberitahu Bayu kalau aku tidak bisa membimbing mereka dulu karena harus latihan di gereja dan baru mendatangi mereka sekitar pukul 13.00 serta menyuruh mereka berlatih sendiri.

Pukul 13.30. Saat aku sedang latihan di gereja, tiba-tiba adikku datang dan menunggu aku menyelesaikan sebuah lagu lalu menghampiriku dan berkata kalau teman-temannya sedang menungguku di SMA-nya. He? Kupikir mereka sudah selesai. Katanya permainan mereka kacau dan tidak ada guru pembimbing yang datang. Guru-guru di sekolah mereka sendiri pun tidak ada yang mau mengurus. Karena merasa percuma dan hopeless akhirnya dia mendatangiku. Aku mengatakan padanya kalau sebentar lagi aku selesai, cuma tinggal satu lagu dan ia pun pergi.

Ya ampun mesakke tenan to ya ya... (ini gara-gara YUI aku jadi begadang dan bangun kesiangan *digebuk gitar*)

Setelah selesai latihan di gereja, temanku mengantarku ke SMA adikku. Sesampainya di sana, di lorong kelas lantai 2 aku mendapati mereka selonjoran di sana, beberapa biola dan casingnya bertebaran di sebagian lorong itu. Ada juga yang sedang iseng bermain Canon in D. Saat mereka melihatku sepertinya mereka senang sekali *ge-er*. Tak kusangka anak-anak ini rela menungguku selama hampir dua jam. Saat aku bertemu dengan Bayu, ia mengeluh kalau mereka tidak akan bisa tampil dengan baik jadi lebih baik tidak usah tampil saja. Aku pun menjawab, "Ya jangan to ya, berarti kamu nggak menghargai aku, sudah mau datang ke sini," dan menyemangati mereka kalau mereka pasti bisa. Eh malah ditanggapi guyon. Katanya main lagu Canon in D saja, halaman pertama mereka yang main terus halaman kedua aku yang main sendiri. =.= Yang murid sini siapa sih sebenernya?

Kami pindah ke kelas yang tak jauh dari situ untuk menghindari kebisingan musik band yang ada di aula gedung sebelah dan berlatih pelan-pelan di situ. Di tengah aku mengajar tiba-tiba jendela terbuka dan tampaklah seorang guru-laki-laki mengamati kami. Aku hanya memberinya senyuman, sekedar untuk bersikap ramah lalu meneruskan mengajar. Tanpa kusadari ternyata Bayu sudah ada di luar, ngobrol dengan guru itu, lalu ia memanggilku karena gurunya itu ingin bicara denganku.

Setelah berkenalan kami bercakap-cakap. Kira-kira beginilah percakapanku dengan beliau, aku agak lupa juga *sindrom ingatan jangka pendek*.

Pak Guru: "Gimana ini Mbak, yang biola bisa?"

Aku: "Ya kalau latihan bisa, Pak."

Pak Guru: "Kalau latihan bisa. Kalau untuk besok?"

Aku: (agak mikir juga, tapi akhirnya menjawab) "Ya... bisa, Pak."

Pak Guru: "Bener bisa nggak? Kalau belum siap ya lebih baik..."

Entah kenapa menurutku guru ini tidak percaya sekali dengan kemampuan murid-muridnya. Aku awalnya juga merasa begitu sih *dilempar beling*, tapi akhirnya aku membela mereka.

Aku: "Kalau saya optimis bisa, Pak."

Pak Guru: "Begini lho, Mbak, besok itu 'kan ada dua kesempatan. Yang pertama acara pembukaan atau ceremony, itu pagi hari, yang kedua siang sekitar pukul 12.00. Nah, ini saya tawarkan mau tampil waktu yang mana. Kalau siang 'kan bisa lebih dimantapkan lagi latihannya."

Aku: "Ya sudah kalau begitu siang saja, Pak."

Pak Guru: "Oke, siang ya. Kalau saya sudah memastikan kesiapan di sini 'kan saya juga bisa memastikan kesiapan yang di sana (menunjuk ke aula). Oya, katanya mau diiringi gitar ya?"

Aku: "Wah, saya nggak tahu, Pak. (menengok ke Bayu) Piye? Katanya mau pake akustikan?"

Bayu: "Aku nggak tahu..."

Aku: "Ya nanti kayaknya mau pakai gitar, Pak."

Pak Guru: "Ya sudah, itu nanti 'kan anak-anak kelas 3 yang main."

Setelah itu Pak Guru pamit dan kami saling mengucapkan terima kasih. Saat aku masuk ke kelas, anak-anak bertanya ada apa. Aku memberitahu kalau mereka tampil siang sekitar pukul 12.00. Kata mereka itu adalah saat orangtua murid kelas 3 berkumpul.

Kami pun berlatih lagi dan seorang anak kelas 3 datang, katanya dia yang akan main gitar. Jadilah kami bermain diiringi permainan gitarnya ditambah Ivana (salah seorang murid ekstra biola) yang menyanyikan lagunya (judulnya Begitu Indah). Saat bermain bersama ini aku mendengar kalau suara antara biola dan gitar tidak bisa menyatu. Entah biolanya atau gitarnya yang fales, tapi aku rasa kedua-duanya fales...

Setelah latihan beberapa kali lagi, akhirnya kami memutuskan untuk menyudahinya. Menurutku juga sudah lumayan, mungkin steman biola dan gitarnya saja yang kurang pas, walau masih ada beberapa anak yang juga kurang pas memainkan nada. Tapi sudah mendinganlah.

Ketika beberapa anak pulang, aku, adikku, dan Bayu menghampiri aula di mana Ivana berada. Aku ingin menanyakan padanya apakah ada keyboardis yang akan mengiringi penampilan anak-anak biola besok. Dia malah menyebut Olga (adik kelasku di SMA dulu) dan Mas Ardy (pengajar drum di BiggEst) karena kemarin Kamis mereka berdua yang mengiringi anak-anak saat berlatih di BiggEst. Aku pun bertanya, "Lha yang dari SMA-mu nggak ada?" Dia menyebut temannya yang gendut, yang tadi menungggu di luar kelas saat kami berlatih. Ivana lalu membujuk-bujuk temannya itu supaya mau mengiringi anak-anak biola besok. Untungnya anak itu mau dan Ivana mengajakkku untuk mencoba bermain dengan keyboardis dan gitaris tadi di panggung aula. Hasilnya bagus dan aku merasa agak lega karena dengan begitu kekurangan permainan biola bisa tertutupi dan suasananya bisa lebih ramai.

Aku pulang naik mikrolet sedangkan adikku naik sepeda. Dia sudah ada di belakangku saat aku berjalan di gang pinggir jalan raya yang menuju rumahku. Saat itu kami berbicara mengenai latihan tadi. Dia menyatakan pendapatnya kalau permainan mereka tadi lebih mending daripada sebelum aku datang dan bercerita saat-saat aku belum ada di sana. Dia juga bercerita tentang guru perempuannya yang berbicara kepada Ivana. Kira-kira begini percakapannya.

Bu Guru: "Ini yang main biola jadi nggak?"

Ivana: "Jadi."

Bu Guru: "Kalau jadi, mainnya yang bagus sekalian, jangan ngisin-ngisini (malu-maluin) soalnya nanti tampil di depan orangtua murid."

WTH... What happen with these teachers??

Kalau aku boleh menambahkan sedikit informasi, guru-guru di SMA adikku ini kelihatannya tidak mengurus anak-anak ekstra biola dengan baik sejak awal ekstra ini ada. Begini. Dari pihak BiggEst, sekolah musik yang menawarkan ekstra biola, mewajibkan siswa yang ingin mengikuti ekstra ini untuk membayar sejumlah uang yang sudah ditentukan tiap bulannya, dan pembayaran disalurkan melalui pihak sekolah. Masalahnya sekolah ini tidak mau melayani pembayarannya, malah menyuruh anak-anak langsung membayar ke guru ekstra, padahal mereka juga mendapat bagian dari pembayaran itu. Itu masalah pertama. Masalah kedua, guru pembimbing ekstra biola sepertinya tidak mengurusi ekstra yang menjadi tanggung jawabnya. Serasa tidak ada guru pembimbing. Bagaimana rasanya kalau ekstra tidak ada guru pembimbing? Bingung. Dan sangat menyulitkan pihak anak-anak dan guru ekstra. Apalagi kalau ada situasi tidak terduga yang membuat kedua pihak ini sangat membutuhkan adanya seorang perantara. Masalah yang ketiga. Setelah kedua masalah tadi, para guru ini bisa-bisanya melemahkan mental anak-anak mereka dengan mengucapkan kata-kata seperti yang sudah kusebutkan di atas??

HELLO??? Kalian ngurusin aja enggak gitu loh! Sekalinya nyamperin eh, seenaknya aja menurunkan semangat anak-anak yang benar-benar ingin belajar dan tampil untuk menunjukkan kemampuan mereka. Ada yang pengen mereka lebih baik nggak usah tampil lah, ada yang seenaknya ngomong jangan sampe malu-maluin lah. Nggak ada dukungan sama sekali. Malah bikin tambah hopeless. Sadar nggak sih kalau ucapan mereka itu nggak pantes keluar dari mulut seorang guru? Mereka itu 'kan seharusnya menyemangati dan membuat kepercayaan diri mereka muncul nggak peduli sejelek apa pun hasilnya nanti! Percaya kalau murid mereka pasti bisa dan menanamkan rasa optimis dalam diri murid-muridnya. Itu baru namanya guru.

Aku akui, seperti yang sudah kusebutkan tadi, awalnya aku agak ragu dengan kemampuan anak-anak ini, tapi aku sadar aku tidak boleh berpikiran seperti itu. Segalanya itu mungkin asal aku percaya dan mengusahakannya. Toh setelah aku ajari mereka pelan-pelan akhirnya mereka bisa juga dan jadi lebih baik daripada latihan-latihan sebelumnya. Kalau saat ini mereka sungguh-sungguh berlatih untuk penampilan besok, aku yakin pasti mereka akan menjadi jauh lebih baik lagi daripada tadi siang.

Jadi, Pak Guru dan Bu Guru yang mengajar di SMA-nya adikku, sepertinya Bapak dan Ibu perlu banyak belajar dan baca buku lagi deh, kalau perlu sekolah guru lagi aja sekalian supaya Bapak dan Ibu tahu cara menjadi guru yang baik dan benar.

Dan untuk anak-anak biola di SMA-nya adikku: Semangat! Aku yakin kalian pasti bisa!

Senin, 25 Oktober 2010

Embulku Sayang

Aku nggak tahu deh harus nulis judul apa. Judul di atas sudah merefleksikan perasaanku yang paling dalam...

Jadi beginilah ceritanya.

Kemarin Minggu pagi kira-kira pukul 06.10 saat aku dan keluargaku akan berangkat ke gereja, seperti yang biasa aku lakukan, aku menghampiri tempat di mana anak-anakku (baca: hamster-hamsterku) berada. Yang pertama kuhampiri adalah ember kecil wadah pop corn XXI. Begitu kulihat isinya yang ada hanyalah kumpulan serutan kayu, si Embulku yang kutaruh di situ sudah lenyap! Disappear! Aku pun langsung berseru, "Weh! Iki ning ngendi ki..." Aku tidak bisa menyelesaikan kalimatku. Seketika aku merasakan lubang di hatiku bertambah, kosong, hampa rasanya. Aku celingukan, mencari-cari di lantai sekitar TKP, juga sekilas di lantai pinggir ruang tamu tapi tidak kutemukan dia.

Siapakah si Embul?

Dia adalah hamster kesayanganku, satu-satunya anak dari generasi pertama hasil perkawinan Miku dan Moron yang bisa bertahan hidup. Kunamai Embul karena dia yang paling gembul di antara saudara-saudaranya. Dibandingkan dengan adik-adiknya yang lahir 5 atau 6 bulan kemudian, ukuran badannya malah jauh lebih kecil. Saat adik-adiknya sudah berumur dua bulan, ukuran badan si Embul malah seperti kalau adik-adiknya berumur 1 bulan. Sepertinya dia menderita kretinisme karena aku juga merasa dia tidak bertambah besar. Tapi biarlah, walaupun begitu aku tetap menyayanginya. Dia juga satu-satunya hamster yang tidak pernah menggigitku. Hmm pernah sih tapi ia akan melakukannya kalau aku mengagetkannya dan itu sangat jarang terjadi. Pertama kali aku mengambilnya, dia malah menjilati tanganku, sedikit menggigit tapi mungkin baginya hanya untuk mengetes dan rasanya tidak sakit.

Nah begitu aku berteriak kalau si Embul kabur, aku langsung disalah-salahin & disukur-sukurin oleh kedua orang tuaku. Katanya aku ngeyel karena tidak mau memasukkan Embul beserta wadah pop corn-nya ke dalam akuarium (di akuarium itu sudah ada adik-adiknya, takutnya berantem lagi kalau digabung). Menurutku Embul tidak akan bisa keluar dari ember itu karena dia kecil lagipula dia juga sedang sakit. Entah kenapa kepalanya benjol lumayan besar dan di daerah benjolan itu bulu-bulunya rontok. Sudah agak mendingan waktu aku bedaki dengan bedak bayi walau masih benjol.

Embul adalah hamster kelima yang kabur dari tempat di mana seharusnya mereka berada. Aku masih tidak percaya kalau dia bisa keluar dari ember. Dulu aku juga pernah meletakkannya di ember itu sebelum ayahku menyiapkan akuarium, dia tidak bisa keluar tuh dari situ. Aku yakin pasti ada penyebab lain, sesuatu yang aku sendiri tidak tahu apa...

Beberapa kali aku mencoba mencarinya, merangkak-rangkak di lantai, mencari di kolong-kolong, tapi tetap tidak kutemukan. Aku hampir menangis saat memikirkannya. Rumahku lumayan besar untuk seekor hamster kecil apalagi ada daerah-daerah yang tidak terjamah saking berantakannya. Apakah dia menemukan lubang tikus? Atau lubang kecil di pintu lalu ke luar? Ke dunia yang lebih buas dan kejam di luar sana? Entahlah aku tidak tahu dan tidak ingin memikirkan hal itu! Aku hanya berharap yang baik-baik saja untuk Embulku tercinta.

Embul, semoga kamu bisa bertahan hidup di mana pun kamu berada, di luar sana atau di dalam sini, semoga kamu tidak bertemu tikus-tikus kerabatmu yang jelek dan jahat itu, atau semut-semut penggigit yang nakal. Maafkan aku, Embul, tidak bisa menjagamu dengan baik... Huhuhu...

PS: Bohong banget kalau Hamtaro dkk bisa keluar dari kandang masing-masing untuk bermain bersama dan kembali lagi saat pemilik mereka sudah pulang.

Sabtu, 23 Oktober 2010

Welcome Concert - Love Is Grace

Beberapa hari yang lalu, aku mengunggah beberapa foto waktu konser dulu (Minggu,28 Februari 2010) di akun Facebook-ku. Judulnya "Welcome Concert - Love Is Grace" yang diselenggarakan oleh BiggEst Music Entertainment School di Auditorium RRI Semarang. Welcome Concert sendiri berarti... apa ya? Haha XD. Hmm sebentar (mengingat-ingat perkataan Bu Ester), artinya kurang lebih konser yang diadakan untuk menyambut para siswa BiggEst di dunia permusikan. Maksudnya ini adalah kali pertama mereka tampil menunjukkan kemampuan mereka setelah beberapa lama dilatih oleh BiggEst. Ya begitulah kira-kira, maaf kalau kurang tepat. Sedangkan tema Love Is Grace dipilih karena mengingat konser ini diadakan di bulan Februari yang masih terasa suasana Valentine-nya (mungkin. Sok tau =p). Konser ini adalah konser besar pertama yang diadakan oleh BiggEst, juga konser pertamaku >_<.

Di bawah ini adalah foto-foto waktu gladi bersih, yang mulai kira-kira pukul 10.00.








Foto paling atas adalah foto saat Tim Little Star berlatih. Foto kedua dan ketiga adalah foto Tim Senior di mana aku termasuk juga di dalamnya. Hayo tebak, yang manakah diriku? xp

Waktu gladi bersih ini, kakak dan ayahku juga ikut nonton. Kakakku nantinya nonton konser ini jadi sekalian mau lihat lokasi, bawa kamera dan handycam (pinjeman semua tuh >_<) juga untuk mengetes. Pas aku ada waktu senggang di tengah latihan, aku dan kakakku naik ke balkon mencari tempat duduk yang nantinya bakal ditempati kakakku. Tempatnya mantap, agak di tengah gitu deh dan dari situ kami melihat ke panggung yang lagi dipakai latihan anak-anak tim ansamble gitar. Semua personil terlihat jelas. Dan ternyata tempatnya juga memungkinkan untuk dipasangi tripot jadi nggak capek megang handycam terus. Nice.

Kalau tidak salah ingat, gladi bersih selesai sekitar pukul 13.30. Sampai rumah aku langsung tiduran di kamar, capek juga lho latihan gitu soalnya pake nunggu giliran segala.

Pukul 15.00 aku langsung mandi dan siap-siap, make up sendiri seadanya. Pukul 16.30 aku berangkat diantar ayahku naik sepeda motor, habis itu ayahku balik lagi ke rumah jemput kakakku.

Konser dimulai pukul 18.00 dan inilah susunan acaranya:

1. Pembukaan
2. Sambutan panitia penyelenggara
3. Prolog

- The Concert -

1. Tim Senior:

  • Mirror Cannon
  • Minuet
  • Amazing Grace

2. Tim Twinkle Star & Little Star

  • Twinkle Twinkle Little Star

3. Tim Little Star

  • Minuet 1
  • Flow Gently Sweat Afton

4. Piano

  • Secret (Irine)
  • Ballade Pour Adeline (Lovina Angelia)

5. Ansamble Gitar feat. Christy Voice

  • T’rima Kasih Tuhan
  • My Peace

6. Piano

  • Two Waltzes (Titisari Wardani)
  • Somewhere Out There (Mila Gunawan)

7. Kwartet Violin

  • Love Is Grace

8. Tim Senior feat. Coffee Break Acoustic (Band)

  • Bunda
  • Sempurna
  • Terima Kasih Cinta (Voc. Mas Ardy dari Coffee Break)
  • Cinta Pertama dan Terakhir
  • Begitu Indah (Voc. Bu Ester & MC yang perempuan, duh nggak tahu namanya)
  • Valentine
  • Bukan Cinta Biasa
  • Rasa Ini
  • Terbaik Untukmu
  • I love You Bibeh

Sekolah-sekolah yang siswanya ikut dalam konser ini adalah:
  • SD Dian Wacana
  • SD Meteseh
  • SD Ar Ridho
  • SD Al-Azhar
  • SD Al-Azhar 14
  • SD Al Azhar 25
  • SMP Al-Azhar
  • SD St. Aloysius
  • SMAN 3
  • SMAN 14
  • SD Kristen 1 YSKI
  • SD Kristen 2 YSKI
  • SD Kristen 3 YSKI
  • SMP Kristen YSKI
  • SMA Kristen YSKI
Dibantu juga teman-teman dari:
  • SMM Yogyakarta
  • ISI Yogyakarta
  • UNY
  • UNNES
Vocal:
  • Haliza (SD St. Aloysius)
  • Mega (SMP Kristen YSKI)
  • Clarissa (SMP Kristen YSKI)
  • Chara (SMP Kristen YSKI)
  • Clarity (SMP Kristen YSKI)
  • Stefiosa (SD Kristen 2 YSKI)
  • Evan (SMA Kristen YSKI)
  • Adevita (SMA Kristen YSKI)
  • Priska (SMA Kristen YSKI)
  • Gilang

Coffee Break Acoustic terdiri dari:
  • Andre (Keyboard)
  • Ardy (Drum)
  • Indri (Gitar)
  • Andro Yopi (Bass)
Ini hanya beberapa personil dari Coffee Break yang ikut memeriahkan konser.

Tim Senior membawakan 3 lagu pembukaan. Lagu pertama, Mirror Canon, agak kacau karena Violin 1 masuk terlalu awal (atau Violin 2 yang terlambat ya?). Kalau menurutku sih ini disebabkan oleh conductor yang agak nggak jelas memberi instruksi, kurang tegas dan mantap. Aku jadi bingung. Agak tegang juga bagian ini tapi akhirnya suasana bisa lebih rileks saat lagu Amazing Grace dimainkan karena diiringi oleh permainan piano Mas Andre. Benar-benar terhanyut deh rasanya hihihi...

Setelah itu timku menunggu giliran tampil lagi di samping panggung. Lamaaa banget rasanya, pegel juga tuh kaki-kaki nunggu kelamaan. Saat menunggu giliran ini, ayahku datang membawa temannya yang seorang wartawan Harian Semarang, namanya Oom Nugroho, untuk meliput dan mewawancarai Bu Ester selaku Director konser ini. Oom Nugroho cuma datang sebentar karena setelah itu beliau ada urusan lain. Saat menunggu ini juga kami mendengar permainan piano dari anak-anak yang tampil. Kecil-kecil udah keren aja mainnya, jadi pengen... Selain itu lihat anak-anak dari Tim Little Star dan Twinkle Star, lucu-lucu deh bikin gemes >.<.

Nah, ini foto-foto waktu konser...



Tim Little Star



Tim Little Star & Twinkle Star
Lagu: Twinkle Twinkle Little Star



Tim Senior
Lagu: Rasa Ini, Vocal: Clarissa & Clarity



BiggEst n Friends >.<


Setelah konser selesai biasalah, foto-foto ^^.

Aku, ayahku, dan kakakku pulang langsung bonceng tiga dan selamat sampai di rumah kira-kira pukul 21.00.

Sebenarnya fotonya ada lumayan banyak sih tapi banyak yang kepotong 'n pencahayaannya kurang bagus (sepertinya kamu harus banyak belajar lagi ya, kakakku hehehe) jadi hanya ini yang kuambil, sisanya disimpan entah di mana oleh kakakku. Oya, ada rekaman videonya juga lho. Katanya kakakku sih sudah diedit tapi nggak tahu deh sudah selesai atau belum. Kalau sudah diedit semua akan kuunggah di facebook =p. (Terima kasih ya Mas Abhi sudah berkenan meminjamkan handycam, maaf kalau sudah merepotkan...)

Walaupun nggak kebagian konsumsi (cuma dapet minum doank. Laper, hiks T_T), secara keseluruhan aku merasa bersyukur bisa ikut serta dalam konser ini. Tahu nggak sih, padahal besoknya (Senin, 29 Februari 2010) aku ada try out sekolah untuk persiapan Ujian Nasional. Aku rela nggak belajar seharian itu demi konser ini. Di bulan sebelumnya aku juga rela pulang sore-sore dari sekolah untuk latihan dan rela datang pukul 18.00 ke BiggEst untuk menambah frekuensi latihan selain sepulang sekolah. Menurutku jarang-jarang ada kesempatan ikut konser seperti ini. Lagian try out hari Senin itu cuma Bahasa Indonesia, terus satunya apa lagi gitu, aku lupa =p. (Besoknya setelah hasil try out keluar, nilai Bahasa Indonesiaku cuma 6 koma sekian... (_ _) langsung deh guruku bertanya-tanya. Nggak pa-pa lah, try out doank, nyatanya aku lulus juga XD)

Terima kasih kepada BiggEst karena telah memberiku kesempatan untuk bergabung, kepada kakakku yang jauh-jauh datang dari Jogja hanya untuk melihat adiknya tampil dan membawa peralatan yang lumayan banyak juga bersedia mendokumentasikan hampir keseluruhan acara >_< (besoknya dia langsung balik ke Jogja), kepada Oom Nugroho yang menyempatkan diri untuk meliput di tengah kesibukannya, kepada ayahku yang bersedia mengantar-jemput, kepada ibuku yang membantu mendandani aku (hahaha), kepada teman-teman semua yang tidak bisa kusebutkan satu per satu, kepada orang-orang di balik layar yang sudah membuat acara ini dapat terlaksana. Dan yang terpenting adalah terima kasih kepada Tuhan karena telah membuat segalanya dapat berjalan dengan lancar. Tak ada kata lain selain terima kasih. Semoga BiggEst dapat terus menyelenggarakan acara seperti ini dan terus maju untuk menjadi lebih baik lagi.

God always bless us... ^^