Jumat, 29 Oktober 2010

Kepercayaan dan Optimisme

Pagi ini aku "ngebo" (istilah anak zaman sekarang untuk molor alias tidur kelamaan). Tidak tanggung-tanggung aku bangun pukul 11.30. What's wrong with me? Ini gara-gara semalam aku begadang sampai pukul 05.00 hanya untuk men-download lagu-lagu YUI *YUI-lover*.

Begitu bangun aku langsung mengecek HP. Ada SMS dari... ada deh, dan rupanya ada SMS yang mau masuk lagi tapi jadi tidak bisa masuk gara-gara memory full. Lalu aku menghapus sebuah SMS supaya SMS itu bisa masuk dan pengirimnya adalah teman gerejaku yang bertanya apakah aku bisa latihan di gereja pukul 11.00 dan SMS itu dikirim pukul 09.40.

???

Tanpa basa-basi lagi aku langsung mandi. SMS itu tidak aku balas terlebih dahulu karena aku ingat hari ini aku harus membimbing anak-anak ekstra biola di SMA adikku untuk berlatih sebuah lagu yang akan mereka pertunjukkan di acara EXPO Study di sekolah mereka besok Sabtu. Dan waktu latihannya adalah sepulang sekolah, jadi aku harus memastikan dulu kapan anak-anak biola akan latihan.

Tapi entah kenapa setelah itu aku malah langsung mengirim SMS ke teman gerejaku dan mengkonfirmasi kalau aku bisa datang, walau agak telat juga, dan meminta tolong padanya untuk menjemputku. Baru aku mengirim SMS ke teman adikku, Bayu namanya, untuk menanyakan kapan mereka latihan.

Sekedar informasi, adikku juga mengikuti ekstra biola. Karena ia tidak pernah membawa HP maka aku meng-SMS temannya.

Pukul 11.45. Balasan dari teman gerejaku datang dan katanya akan menjemputku pukul 12.00. Lalu balasan dari Bayu menyusul, katanya saat itu juga mereka latihan, di samping aula atas. OMG. Guruku tidak bisa datang untuk membimbing mereka karena beliau mengajar di tempat lain. Aku langsung mengirim SMS ke temanku, Witri, menanyakan padanya apakah ia dan Ajeng akan datang ke SMA itu. Katanya mereka sedang dalam perjalanan ke Semarang. Hah? Jadi mereka baru kembali dari Jogja hari ini? Setelah kutanyakan mereka sudah sampai mana, Witri menjawab mereka baru sampai di Jalan Raya Magelang-Jogja km 22.... (_ _) Zzzzzz....

Bingung, bingung deh aku. Akhirnya aku memberitahu Bayu kalau aku tidak bisa membimbing mereka dulu karena harus latihan di gereja dan baru mendatangi mereka sekitar pukul 13.00 serta menyuruh mereka berlatih sendiri.

Pukul 13.30. Saat aku sedang latihan di gereja, tiba-tiba adikku datang dan menunggu aku menyelesaikan sebuah lagu lalu menghampiriku dan berkata kalau teman-temannya sedang menungguku di SMA-nya. He? Kupikir mereka sudah selesai. Katanya permainan mereka kacau dan tidak ada guru pembimbing yang datang. Guru-guru di sekolah mereka sendiri pun tidak ada yang mau mengurus. Karena merasa percuma dan hopeless akhirnya dia mendatangiku. Aku mengatakan padanya kalau sebentar lagi aku selesai, cuma tinggal satu lagu dan ia pun pergi.

Ya ampun mesakke tenan to ya ya... (ini gara-gara YUI aku jadi begadang dan bangun kesiangan *digebuk gitar*)

Setelah selesai latihan di gereja, temanku mengantarku ke SMA adikku. Sesampainya di sana, di lorong kelas lantai 2 aku mendapati mereka selonjoran di sana, beberapa biola dan casingnya bertebaran di sebagian lorong itu. Ada juga yang sedang iseng bermain Canon in D. Saat mereka melihatku sepertinya mereka senang sekali *ge-er*. Tak kusangka anak-anak ini rela menungguku selama hampir dua jam. Saat aku bertemu dengan Bayu, ia mengeluh kalau mereka tidak akan bisa tampil dengan baik jadi lebih baik tidak usah tampil saja. Aku pun menjawab, "Ya jangan to ya, berarti kamu nggak menghargai aku, sudah mau datang ke sini," dan menyemangati mereka kalau mereka pasti bisa. Eh malah ditanggapi guyon. Katanya main lagu Canon in D saja, halaman pertama mereka yang main terus halaman kedua aku yang main sendiri. =.= Yang murid sini siapa sih sebenernya?

Kami pindah ke kelas yang tak jauh dari situ untuk menghindari kebisingan musik band yang ada di aula gedung sebelah dan berlatih pelan-pelan di situ. Di tengah aku mengajar tiba-tiba jendela terbuka dan tampaklah seorang guru-laki-laki mengamati kami. Aku hanya memberinya senyuman, sekedar untuk bersikap ramah lalu meneruskan mengajar. Tanpa kusadari ternyata Bayu sudah ada di luar, ngobrol dengan guru itu, lalu ia memanggilku karena gurunya itu ingin bicara denganku.

Setelah berkenalan kami bercakap-cakap. Kira-kira beginilah percakapanku dengan beliau, aku agak lupa juga *sindrom ingatan jangka pendek*.

Pak Guru: "Gimana ini Mbak, yang biola bisa?"

Aku: "Ya kalau latihan bisa, Pak."

Pak Guru: "Kalau latihan bisa. Kalau untuk besok?"

Aku: (agak mikir juga, tapi akhirnya menjawab) "Ya... bisa, Pak."

Pak Guru: "Bener bisa nggak? Kalau belum siap ya lebih baik..."

Entah kenapa menurutku guru ini tidak percaya sekali dengan kemampuan murid-muridnya. Aku awalnya juga merasa begitu sih *dilempar beling*, tapi akhirnya aku membela mereka.

Aku: "Kalau saya optimis bisa, Pak."

Pak Guru: "Begini lho, Mbak, besok itu 'kan ada dua kesempatan. Yang pertama acara pembukaan atau ceremony, itu pagi hari, yang kedua siang sekitar pukul 12.00. Nah, ini saya tawarkan mau tampil waktu yang mana. Kalau siang 'kan bisa lebih dimantapkan lagi latihannya."

Aku: "Ya sudah kalau begitu siang saja, Pak."

Pak Guru: "Oke, siang ya. Kalau saya sudah memastikan kesiapan di sini 'kan saya juga bisa memastikan kesiapan yang di sana (menunjuk ke aula). Oya, katanya mau diiringi gitar ya?"

Aku: "Wah, saya nggak tahu, Pak. (menengok ke Bayu) Piye? Katanya mau pake akustikan?"

Bayu: "Aku nggak tahu..."

Aku: "Ya nanti kayaknya mau pakai gitar, Pak."

Pak Guru: "Ya sudah, itu nanti 'kan anak-anak kelas 3 yang main."

Setelah itu Pak Guru pamit dan kami saling mengucapkan terima kasih. Saat aku masuk ke kelas, anak-anak bertanya ada apa. Aku memberitahu kalau mereka tampil siang sekitar pukul 12.00. Kata mereka itu adalah saat orangtua murid kelas 3 berkumpul.

Kami pun berlatih lagi dan seorang anak kelas 3 datang, katanya dia yang akan main gitar. Jadilah kami bermain diiringi permainan gitarnya ditambah Ivana (salah seorang murid ekstra biola) yang menyanyikan lagunya (judulnya Begitu Indah). Saat bermain bersama ini aku mendengar kalau suara antara biola dan gitar tidak bisa menyatu. Entah biolanya atau gitarnya yang fales, tapi aku rasa kedua-duanya fales...

Setelah latihan beberapa kali lagi, akhirnya kami memutuskan untuk menyudahinya. Menurutku juga sudah lumayan, mungkin steman biola dan gitarnya saja yang kurang pas, walau masih ada beberapa anak yang juga kurang pas memainkan nada. Tapi sudah mendinganlah.

Ketika beberapa anak pulang, aku, adikku, dan Bayu menghampiri aula di mana Ivana berada. Aku ingin menanyakan padanya apakah ada keyboardis yang akan mengiringi penampilan anak-anak biola besok. Dia malah menyebut Olga (adik kelasku di SMA dulu) dan Mas Ardy (pengajar drum di BiggEst) karena kemarin Kamis mereka berdua yang mengiringi anak-anak saat berlatih di BiggEst. Aku pun bertanya, "Lha yang dari SMA-mu nggak ada?" Dia menyebut temannya yang gendut, yang tadi menungggu di luar kelas saat kami berlatih. Ivana lalu membujuk-bujuk temannya itu supaya mau mengiringi anak-anak biola besok. Untungnya anak itu mau dan Ivana mengajakkku untuk mencoba bermain dengan keyboardis dan gitaris tadi di panggung aula. Hasilnya bagus dan aku merasa agak lega karena dengan begitu kekurangan permainan biola bisa tertutupi dan suasananya bisa lebih ramai.

Aku pulang naik mikrolet sedangkan adikku naik sepeda. Dia sudah ada di belakangku saat aku berjalan di gang pinggir jalan raya yang menuju rumahku. Saat itu kami berbicara mengenai latihan tadi. Dia menyatakan pendapatnya kalau permainan mereka tadi lebih mending daripada sebelum aku datang dan bercerita saat-saat aku belum ada di sana. Dia juga bercerita tentang guru perempuannya yang berbicara kepada Ivana. Kira-kira begini percakapannya.

Bu Guru: "Ini yang main biola jadi nggak?"

Ivana: "Jadi."

Bu Guru: "Kalau jadi, mainnya yang bagus sekalian, jangan ngisin-ngisini (malu-maluin) soalnya nanti tampil di depan orangtua murid."

WTH... What happen with these teachers??

Kalau aku boleh menambahkan sedikit informasi, guru-guru di SMA adikku ini kelihatannya tidak mengurus anak-anak ekstra biola dengan baik sejak awal ekstra ini ada. Begini. Dari pihak BiggEst, sekolah musik yang menawarkan ekstra biola, mewajibkan siswa yang ingin mengikuti ekstra ini untuk membayar sejumlah uang yang sudah ditentukan tiap bulannya, dan pembayaran disalurkan melalui pihak sekolah. Masalahnya sekolah ini tidak mau melayani pembayarannya, malah menyuruh anak-anak langsung membayar ke guru ekstra, padahal mereka juga mendapat bagian dari pembayaran itu. Itu masalah pertama. Masalah kedua, guru pembimbing ekstra biola sepertinya tidak mengurusi ekstra yang menjadi tanggung jawabnya. Serasa tidak ada guru pembimbing. Bagaimana rasanya kalau ekstra tidak ada guru pembimbing? Bingung. Dan sangat menyulitkan pihak anak-anak dan guru ekstra. Apalagi kalau ada situasi tidak terduga yang membuat kedua pihak ini sangat membutuhkan adanya seorang perantara. Masalah yang ketiga. Setelah kedua masalah tadi, para guru ini bisa-bisanya melemahkan mental anak-anak mereka dengan mengucapkan kata-kata seperti yang sudah kusebutkan di atas??

HELLO??? Kalian ngurusin aja enggak gitu loh! Sekalinya nyamperin eh, seenaknya aja menurunkan semangat anak-anak yang benar-benar ingin belajar dan tampil untuk menunjukkan kemampuan mereka. Ada yang pengen mereka lebih baik nggak usah tampil lah, ada yang seenaknya ngomong jangan sampe malu-maluin lah. Nggak ada dukungan sama sekali. Malah bikin tambah hopeless. Sadar nggak sih kalau ucapan mereka itu nggak pantes keluar dari mulut seorang guru? Mereka itu 'kan seharusnya menyemangati dan membuat kepercayaan diri mereka muncul nggak peduli sejelek apa pun hasilnya nanti! Percaya kalau murid mereka pasti bisa dan menanamkan rasa optimis dalam diri murid-muridnya. Itu baru namanya guru.

Aku akui, seperti yang sudah kusebutkan tadi, awalnya aku agak ragu dengan kemampuan anak-anak ini, tapi aku sadar aku tidak boleh berpikiran seperti itu. Segalanya itu mungkin asal aku percaya dan mengusahakannya. Toh setelah aku ajari mereka pelan-pelan akhirnya mereka bisa juga dan jadi lebih baik daripada latihan-latihan sebelumnya. Kalau saat ini mereka sungguh-sungguh berlatih untuk penampilan besok, aku yakin pasti mereka akan menjadi jauh lebih baik lagi daripada tadi siang.

Jadi, Pak Guru dan Bu Guru yang mengajar di SMA-nya adikku, sepertinya Bapak dan Ibu perlu banyak belajar dan baca buku lagi deh, kalau perlu sekolah guru lagi aja sekalian supaya Bapak dan Ibu tahu cara menjadi guru yang baik dan benar.

Dan untuk anak-anak biola di SMA-nya adikku: Semangat! Aku yakin kalian pasti bisa!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar