“Hei, Julie! Lihat.”
Miss Golie berdehem memeringatkan sambil melotot ke arah Jannet. Penggaris papan tulisnya diayun-ayunkan seolah mengancam. Jannet kembali ke kertas ulangan di depannya tapi tetap mencuri-curi pandang ke arah Julie yang berada di baris sebelahnya. Diam-diam ia mengeluarkan secarik kertas dari laci agar Julie bisa melihat.
“Apa itu?” bisik Julie saat Miss Golie sedang sibuk menata rambutnya.
“Aku menemukannya di perpustakaan, kemungkinan besar ini bisa membantu pencarian kita!” balas Jannet bersemangat. “Pulang sekolah nanti, saat yang tepat untuk memulainya.”
“Benarkah? Kita harus beritahu si Mor juga.”
Mereka berdua menoleh ke bangku paling pojok di belakang. Terlihat Mor sedang serius membaca soal ulangan sambil mengetuk-ngetukkan pulpen ke meja.
“Yep, kita cegat dia setelah selesai ulangan,” kata Jannet.
“Ya, kalian bisa melakukannya setelah kalian menyelesaikan semuanya, Nona Jannet dan Nona Julie.” Miss Golie ternyata sudah menjulang di hadapan mereka dengan penggaris diayun-ayunkan. Jannet sampai terlonjak saking kagetnya. Reflek, ia mengembalikan kertas tadi ke dalam laci, sangat berharap Miss Golie tidak melihatnya. “Tapi sayangnya kalian sudah menyia-nyiakan waktu yang kuberikan. Berikan kertas kalian dan kalian boleh keluar sekarang.”
“Tapi, Miss... hanya tinggal dua nomor lagi,” Julie memohon.
“Aku bahkan baru mengerjakan setengahnya,” susul Jannet tanpa dosa, membuat ramai seisi kelas dengan tawa dan ejekan.
Kemudian terdengar suara Mor, “Miss, waktunya tinggal sepuluh menit lagi. Saya rasa tidak ada salahnya kalau membiarkan mereka menyelesaikannya sebentar saja.” Jannet dan Julie mengangguk-angguk penuh harap. “Lagipula, tidak akan membuat banyak perbedaan untuk Jannet.” Anak-anak lain pun kembali tertawa dan mengiyakan. Mor hanya cengar-cengir saat Jannet memasang tampang membunuh ke arahnya.
“Aku hargai kesetiakawananmu, Mor. Tapi seharusnya mereka menyadari hal itu saat berbisik-bisik tadi. Nah, sekarang berikan kertasnya.”
Dengan enggan, Jannet dan Julie menyerahkan kertas mereka dan membereskan peralatan masing-masing. Jannet memberi isyarat peringatan kepada Mor tapi Mor hanya mengangkat bahu.
“Kau tahu? Dua nomor itu mudah saja bagiku!” kata Julie saat mereka sudah di luar kelas. “Nilai sempurnaku...,” tampangnya kelihatan seperti tidak ada harapan.
“Ya, ya, ya. Aku yang salah, maafkan aku. Tapi lihat ini.” Jannet memastikan tidak ada orang di lorong itu dan mengeluarkan kertas tadi dari tasnya. Cepat-cepat ia membuka lipatannya dan di situ segera terlihat sebuah gambar. “Denah ruang bawah tanah sekolah kita! Aku yakin tidak ada orang lain yang tahu.”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar