Kamis, 25 November 2010

Trauma?

Malam ini adalah malam pertama aku berjalan sendiri sepanjang gang menuju rumahku sejak aku dijambret kurang lebih dua minggu yang lalu. Kalau sebelum peristiwa itu terjadi aku merasa berani-berani saja, kali ini aku merasa agak gemetar, jujur. Mungkinkah itu yang dinamakan trauma? Mungkin.

Aku sempat berpikir seharusnya aku tadi minta dijemput saja oleh ayahku sepulang dari latihan di BiggEst, tapi temanku menawariku untuk pulang bersamanya karena hari ini dia membawa mobil. Biasanya dia akan menurunkanku di pinggir jalan raya, seberang gang yang menuju rumahku, dan selanjutnya aku harus berjalan. Dia juga sempat bertanya, "Kamu nggak trauma to?" Haha aku nggak tahu harus jawab apa. Aku hanya berusaha mengingat saat-saat aku sering berjalan pulang sendiri dulu (larut malam pun pernah), saat aku merasa berani dan yakin tidak akan ada hal buruk menimpaku. Maka aku pun mau diantar olehnya. Tak tahunya aku malah gemetar begitu turun dari mobil.

Aku berjalan sambil memeluk hardcase biolaku, bukan karena apa-apa tapi karena engsel tuanya yang dulu sudah diperbaiki ayahku jebol lagi gara-gara kejadian waktu itu. Tapi kalau seandainya memang ada yang berniat macam-macam, mungkin lebih mudah bagiku untuk menggebuknya. Aku juga terus berdoa agar tidak ada orang jahat yang menghampiri. Aku selalu waspada setiap ada sepeda motor atau mobil yang lewat, bahkan pikiran konyol sempat terlintas waktu ada mobil yang berlawanan arah berjalan melambat: jangan-jangan kali ini penjahatnya mengendarai mobil dan berniat menculikku! Nyeh, aku ragu ada orang yang mau menculik gadis yang kurus kering kerontang dan tidak membawa duit serupiah pun di dalam tasnya (mengingat dompetku dengan sukses ikut terjambret oleh makhluk biadab nan terkutuk yang aku tidak tahu siapa gerangan). Untungnya mobil itu lewat dengan mulus.

Saat berjalan melewati TKP (tempat yang akan selalu mengingatkanku akan kejadian berdarah waktu itu), dari belakang aku mendengar suara deru beberapa sepeda motor mendekat dan ada dua orang yang memanggil-manggil namaku. Jantungku rasanya mau berhenti, bukankah seharusnya aku tidak perlu merasa takut? Kalau dia tahu namaku berarti aku juga mengenalnya 'kan? Tapi sekali lagi, mungkin rasa trauma itu yang membuatku sangat waspada dan mengesampingkan logika. Aku menoleh, berusaha mengenali pemilik suara-suara itu di tengah keremangan gang. Ternyata mereka adalah anak-anak ekstra biola, teman-teman perempuan adikku, yang tadi juga sehabis dari BiggEst. Fiuuh... kaget aku. Aku baru membalas sapaan mereka saat mereka sudah melewatiku. Benar-benar untung.

Dan akhirnya aku pun sampai di rumah dengan selamat. Haaahh... Tuhan benar-benar melindungiku hari ini. Aku yakin Dia tidak akan menimpakan yang lebih buruk lagi. Yang lalu itu sudah cukup menyadarkanku.

1 komentar:

  1. rasa trauma itu wajar..aq juga pernah mengalaminya..bahkan sampai2 saat aq membawa mobilku saja ..aku masih merasa takut sehingga harus memastikan bahwa mobil telah terkunci...
    tapi lambat laun perasaan itu akan hilang dan kita bisa melewati jalan2 tersebut dengan perasaan normal seperti sebelum kejadian itu..
    nilai positifnya..kita jadi mengerti cara kerja penjambret..kita jadi waspada..dan kita jadi menemukan trik untuk melawan...
    tetap menjadi berani ya... Tuhan menyertaimu senantiasa

    BalasHapus