Ok, that's enough. Have a nice read =p.
JELLYKU UNTUKMU
Ricky dan Andrew cekikikan waktu di kantin sekolah. Mereka mbayangin kalo rencana kali ini pasti sukses besar.
“Eh, ini kemarin kubuat spesial lho,” kata Ricky setengah berbisik.
Andrew mengamati benda yang ditaruh Ricky di atas meja dengan takjub. Benda itu keliatan lembek banget. Nggak disentuh aja udah goyang ke kanan, goyang ke kiri. Takut-takut, Andrew nyentuh permukaannya yang licin. Itu aja udah bikin dia merinding saking jijiknya karena sekarang benda itu mulai bergoyang tak terkendali kayak mau meledak!
“Yuks! Isinya apaan aja sih tu?” Tanya Andrew sambil mengelap tangannya pake tisu. Ternyata baunya busuk juga.
“Ehem… ehem…,” Ricky mulai, “Ulat bulu utuh, walang sangit, telur bebek busuk yang embrionya hampir jadi anak bebek…”
“Huekh!” sela Andrew. “Pantesan tadi aku liat kayak ada bulu-bulu… Sadis…”
“Eits, masih ada lagi. Susu basi yang udah seminggu lebih di kulkas, bekicot cincang, lintah, durian nemu di tempat sampah, ilernya adikku yang masih bayi, semuanya kurebus pake air yang mau masuk ke septictank plus jelly instant bubuk rasa coklat. Hahaha…,” kata Ricky dengan bangga.
Andrew meringis, “Aku nggak bisa mbayangin dapurmu jadi kayak gimana.”
“Wah, lha itu! Untung orang-orang rumah lagi pada pergi. Tinggal aku sama adikku. Aku aja harus pake masker dobel 3. Gilanya, adikku malah kayaknya nafsu banget sama aroma jelly buatanku sampe ngiler terus.”
Andrew tertawa lagi, “Dijamin Erika pasti meledak! Ini rencana kita yang paling ekstrim! Haha… Kira-kira reaksinya kali ini kayak gimana ya…?”
“Tenang aja, bentar lagi kita tahu kok. Tuh orangnya dateng,” Ricky mengisyaratkan pandangan ke arah pintu sambil senyum jail.
Erika datang dengan wajah berseri-seri. Ini sih saat yang pas bagi Ricky dan Andrew untuk menjalankan aksi mereka. Mereka berdua langsung akting, pasang muka seolah-olah nggak ada apa-apa. Jelly yang tadinya ada di atas meja langsung disamber Ricky, dia sembunyikan di bawah meja, siap-siap untuk dikeluarkan pada saat yang tepat.
“Wai!” seru Erika bersemangat. Andrew meliriknya tidak berminat sambil menyeruput es tehnya. Ricky meniup balon dari permen karet lalu melambai ke arah temannya yang ada di meja seberang.
“Ih, pada kenapa sih… Padahal aku punya kabar gembira lhoo…,” ujar Rika sambil pasang tampang ceria yang cukup imut. Mengingat dia memang imut.
Ricky meliriknya lalu berkata, “Apaan sih? Paling-paling cuma pengen ngasih tahu kalo tinggimu nambah satu senti, ‘kan?” Ricky dan Andrew tertawa lalu mereka toss.
Erika mulai kesal dan cemberut, “Iiih….!! Bukan itu!”
Tepat saat Erika akan duduk dekat Ricky, dengan cepat dan tanpa Erika sadari, Ricky sudah menaruh jelly spesial tadi di kursinya. Dan begitu Rika mendudukinya, dengan cepat pula kehebohan terjadi.
CEPROT!
Bom jelly itu langsung saja mengotori rok Erika dan airnya merembes sampai ke baliknya. Pecahan jelly dengan bermacam-macam isi itu pun muncrat ke mana-mana—soalnya jelly ini porsinya lumayan gede—ada yang kena anak yang kebetulan lagi lewat, yang lainnya berceceran di lantai, bikin orang yang nginjek langsung kepleset. Bahkan anak bebek setengah jadi yang ada di jelly itu ikut melompat ke mangkuk bakso di meja sebelah. Bukan main histeris anak yang namanya Yuli itu. Latahan sama pisuhannya keluar semua. Walaupun yang duduk semeja sama dia juga ikut kaget toh akhirnya mereka ketawa juga.
Suasana kantin tambah panas gara-gara kejadian itu. Ricky dan Andrew nggak berhenti-berhenti ngakak sampai berlutut di lantai sambil nahan sakit perut. Banyak juga anak-anak di kantin yang ikut ketawa tapi nggak sedikit yang kaget dan kasihan sama Erika.
Erika sendiri cuma bisa ternganga. Ia menatap ke arah Ricky dan Andrew yang masih belum berhenti ketawa dengan perasaan kecewa. Tanpa berlama-lama lagi ia langsung berjalan cepat keluar kantin, melewati anak-anak yang menertawainya maupun yang nggak tahu apa-apa karena barusan datang.
Andrew yang mulai sadar situasi melayangkan pandangan ke seisi kantin, mencari Erika. Ia melihat Erika di dekat pintu, agak jauh di seberang ruangan, bicara sebentar dengan seorang cowok yang sepertinya dia kenali lalu mereka menghilang. Kelihatan sekali kalau Erika marah besar.
Andrew menyikut lengan Ricky yang parahnya masih aja terus ketawa.
“Eh, yang tadi itu emang lucu,” kata Andrew, “tapi kayaknya habis ini kita yang dapet masalah.”
“Hah?” kata Ricky, masih setengah sadar.
Ternyata beberapa pasang mata sedang memandang ganas ke arah mereka, terutama ‘korban-korban tambahan’ kekacauan tadi, termasuk Yuli yang batal makan suapan pertama bakso uratnya.
Baru saja Yuli akan mendamprat mereka tapi tiba-tiba datang Vina, teman dekat Erika selain Ricky dan Andrew, dan langsung berkata, “Aku tahu kalian bertiga itu sahabat. Aku juga tahu kalo kalian sering ngerjain dia walaupun kelihatannya selama ini dia nggak keberatan. Memang dia nggak keberatan. Tapi kali ini udah keterlaluan tahu nggak sih? Awas kalo kalian sampai bikin dia sakit hati,” ancam Vina.
“Wooo….,” ujar Ricky meremehkan, “Yang kukerjain dia kok yang sewot kamu? Tenang aja kali. Biasanya juga dia nggak bakal kenapa-kenapa kok. Ya ‘kan?” liriknya pada Andrew. Mereka pun tertawa kecil meski Andrew merasa ada yang janggal.
“Ya, mudah-mudahan aja nggak bakal kenapa-kenapa,” kata Vina sinis lalu pergi.
“Hah! Apa sih maunya. Berisik,” gumam Ricky.
Andrew teringat cowok yang dilihatnya tadi. “Eh, tadi aku liat—“
“Andrew White! Ricky Martin! Bagus sekali ya pemandangan di sini?!”
Terdengar suara khas Bu Vero yang menggelegar. Seisi kantin langsung heboh begitu melihat guru Fisika yang killer itu tiba-tiba ada di sana.
“Sialan! Aku paling benci dipanggil gitu,” bisik Andrew.
“Emangnya aku nggak?” balas Ricky.
* * *
“Kok bisa sih dia sama si Yosi itu?” kata Ricky jengkel.
Andrew nggak kalah heran, “Selama ini dia nggak pernah cerita apa-apa ke kita. Lagian si Yosi itu ‘kan… ah, pokoknya aku nggak suka.”
Mereka memandang lapangan basket dari lantai dua, mengamati Erika dan Yosi yang lagi jalan berdua menuju perpustakaan.
“Rasanya tanganku gatel pengen ngerjain yang namanya Yosi.” Otak Ricky mulai dipenuhi ide-ide baru cemerlangnya. Dan waktu ia mulai dengan senyum jailnya, ting! Rencana tinggal dilaksanakan.
Tapi sebelum dia sempat berbuat apa-apa, Vina sudah ada di sampingnya.
“Asal kamu tahu ya, sebenernya udah lama dia pengen cerita ke kalian. Tapi dia nggak yakin kalian bakal nanggepin serius. Ternyata bener ‘kan? Sekarang kalian malah pengen ngerjain Yosi… Dan minggu kemarin itu dia udah bener-bener mau cerita. Eh… malah kalian kerjain, batal deh,” kata Vina santai.
“Kalo nggak muncul tiba-tiba nggak bisa ya?” kata Andrew sambil mengelus dada.
“Ya… Selama kalian masih membahayakan, aku bakal muncul terus.”
“Cerewet,” kata Ricky, beringsut melewati Vina.
“Eits, mau ke mana? Mending kamu jangan ndeketin mereka berdua dulu selama—”
“Eh, kamu pikir selama seminggu ini aku pernah ndeketin mereka? Lihat Erika aja baru kali ini, sama… Yosi pula. Lagian aku mau ke kamar mandi. Puas? Napa? Mau ikut?” Ricky meneruskan langkah pelan tanpa menggubris Vina lagi.
“Kamu tahu ‘kan, kalo kami juga sayang Erika?” kata Andrew. Vina mengalihkan perhatiannya ke Andrew lalu memandang lapangan basket. “Emang sejak kapan mereka jadian?”
* * *
Selama satu minggu Ricky dan Andrew menerima hukuman mengosek WC akibat perbuatan mereka di kantin, selama satu minggu itu juga dan hari-hari setelahnya, mereka nggak pernah lagi bertatap muka dengan Erika secara langsung. Seperti menghilang entah ke mana, padahal satu sekolahan. Kalaupun akhirnya melihat juga, pasti dari jarak yang jauh.
“Gimana nih? Gara-gara kamu sih, bosen aku,” Andrew memutar-mutar sedotan di gelasnya yang sudah kosong.
Ricky cuma diam, memandang kosong ke arah meja di depannya. Andrew menyikut lengan Ricky, “Eh.”
“Enak aja nyalahin aku. Kamu ‘kan juga ikut-ikutan.”
“Tapi semua ide selalu dateng dari kamu.”
“Ya kenapa juga kamu ikut-ikutan?”
“Kamu sendiri yang ngajak. Kalo nggak nanti dibilang nggak setia kawan…”
“Aku nggak pernah bilang gitu!”
“Aku ‘kan bilang ‘kalo’.”
“Ah! Udahlah!”
Ricky dan Andrew kembali diam. Masing-masing merasa kosong, dan kali ini memang lagi bener-bener nggak ada kerjaan, karena biasanya kalo lagi nggak ada kerjaan mereka bakal langsung bikin Erika njerit, kaget, shock, terus merengek-rengek, atau nglakuin sesuatu yang bikin Erika ngeluarin ekspresi kaget yang baru yang tentu aja lucu banget bagi mereka. Buat mereka, tampang kayak Erika memang paling enak dikerjain. Tapi sekarang mereka cuma bisa nganggur, diem-dieman, nggak ada semangat.
Sebenernya ngerjain Erika bukan alasan utama mereka untuk menjadikannya sahabat. Ya memang karena sayang aja dan mengerjainya adalah ungkapan rasa sayang mereka.
Tapi kalau dipikir-pikir, kejadian yang terakhir itu memang agak keterlaluan…
“Jelly spesial datang!!”
CEPROT! CEPROT!
Tiba-tiba Ricky dan Andrew merasakan sesuatu yang dingin dan kenyal pecah di kepala
mereka, dan pecahannya ada yang masuk ke balik baju seragam mereka. Baunya manis kayak coklat susu.
“Sorry ya nggak bisa bikin yang menjijikkan, nanti mami bisa marah kalo dapurnya aku berantakin.”
“Nggak pa-pa, lumayan kok rasanya,” kata Andrew, memungut jelly yang masih tersisa di rambutnya.
“Ngapain kamu di sini? Nggak sama si Yosi lagi?” tanya Ricky tak percaya dengan nada meremehkan. Ia mencoba membersihkan tubuhnya dari jelly-jelly yang manis itu
Erika tersenyum nakal, “Mmm… kata Vina kayaknya kalian hampa tanpa aku. Emang enak ditinggalin?” ejeknya. “Makanya jangan macem-macem sama Erika! Oya, kalian masih hutang maaf sama aku!”
Ricky diam sejenak tapi akhirnya berkata, “Ya… aku… minta maaf…”
“Ya, aku juga. Maafin aku ya,” susul Andrew.
Erika tertawa melihat tingkah mereka. “Kalian tu memang lucu, deh!” ia mengacak-acak rambut Ricky dan Andrew. “Nyantai aja kali! Pasti kumaafin kok. Oya, walaupun kalian sudah tahu orangnya tapi belum kukenalin secara resmi ‘kan? Sebenernya dia memang masuk sekolah ini bareng aku, tapi karena takut kalian jadiin korban selanjutnya, jadi kutunda deh.”
Erika menggandeng tangan Yosi yang ternyata sejak tadi ada di dekat-dekat situ. “Kenalin, ini Yosi, sepupu kesayanganku dari Bali. Yosi, ini temen-temenku, Ricky… Andrew. Awas! Jangan dinakalin, lho!” Yosi menjabat tangan mereka satu per satu dengan mantap.
Ricky melongo, “Jadi…”
“Awalnya kupikir juga gitu, tapi aku diberitahu Vina,” jelas Andrew.
“Sialan lo! Kok nggak bilang-bilang sih?!”
“Kamu nggak tanya kok,” jawab Andrew santai.
Semua tertawa kecuali Ricky yang mulai ‘menghajar’ Andrew sedemikian rupa tanpa ampun.
~FIN~
Tidak ada komentar:
Posting Komentar