Rabu, 07 September 2011

A Little True Story From the Past

16 November 2009, istirahat ke-2

Tidak tahu harus menulis apa. Pengen cari ide buat nulis cerpen baru yang bagus, singkat, dan mengena, tapi apa ya?

Tiba-tiba Jossie yang duduk di sebelah Meta membereskan tas dan bukunya. Sambil menahan air mata dia minta duduk di sebelahku lalu menyandarkan kepalanya ke meja dan menangis. Saat aku tanya kenapa, ia hanya menggelengkan kepala, mengusap air mata dan ingusnya dengan punggung tangan. Aku jadi tidak tega. Aku pernah menangis di kelas sampai sesenggukan dan tidak ada yang memedulikanku atau menawarkan tissue untukku. Jadi aku berpikir untuk membeli 1 pak kecil tissue di kantin bawah. Setelah sampai di kelas, aku tidak jadi memberikannya karena sepertinya air matanya sudah kering. Dia sedang menyalin buku catatan tambahan Kimiaku yang dipinjamnya minggu lalu sambil menarik ingus. Benar saja, dia menolak tissue yang kemudian kutawarkan sambil mengucapkan beberapa kata yang tidak begitu kuperhatikan. Tapi setelah selesai menulis sepertinya ia berubah pikiran dan mengambil tissue yang kutaruh di atas meja.

Hei, sepertinya ini bisa menjadi cerita yang menarik.

Aku merasa tidak enak karena aku tidak tahu harus bicara apa, untuk menanyakan masalahnya dan menenangkannya. Aku tidak pandai bicara dan hanya bisa menulis ini selagi dia sibuk mencari kegiatan yang bisa dilakukannya selain mengerjakan tugas Bahasa Indonesia yang tadi diberikan Bu Hera.

Selasa, 30 Agustus 2011

Read, read, read!

Hi-ho! These are my next to-read for September. Hope can finish them all on that month ‘cause I want to break my 2011 reading challenge, 20 books read in 2011, on Goodreads immediately so I can go for another books. And for now, I’m just have 9 >.<

Last book that I’ve read was Maximum Ride #1 (The Angel Experiment) on June. Fortunately, my sist bought the next serial, Maximum Ride #2 (School’s Out – Forever), at Toga Mas Jogja last week for just Rp 10.000,00! Wow, what a big sale for a thick book! And, yeah, because of that, I can fly with my Fang again~ XD *punched by Max*.

Next above Maximum Ride, you can see Paper Cranes by Cheryl Koenig. It’s a true story about a mom—Cheryl herself—who was struggling to bring back her son to his normal life after a tragic accident that almost took his life. I got this book from my brother’s classmate, Viena, 2 days ago. I didn’t borrow it but she lend it to me through my brother. He said, she wanted to know whether I like inspirational book or not. Maybe this book was nice for her and she wanted to share with me. We have similar interests, especially in books, and I like her. She has been like my own lil sister. Thank you, Viena. I’ll read it =).

And the last but not the least is the first book of The Lord of the Rings by J.R.R. Tolkien, The Fellowship of the Ring in English! It was published by Ballantine Books, New York and it’s the sixty-seventh printing, printed on November 1978. My sist got it from her friend who had posted it from Jakarta. A dictionary becomes a must then. Though Tolkien’s language style isn’t so hard for me, there are many difficult words that I should learn more. I’ve been thinking of this Oxford Learner’s Pocket Dictionary long time ago so I decided to buy it last Sunday. I think this dictionary will help me a lot with its cute size and easy-to-understand meanings. I can find the words I want easily and quickly while reading an English book.

Hm.. ada sedikit cerita lucu waktu aku membeli kamus ini.

Aku membelinya di Gramedia Java Supermall saat aku berjalan-jalan bersama ayah, ibu, dan kakakku. Begitu masuk Gramedia aku langsung mencari rak kamus Oxford, iseng aja sih pengen liat harganya, awalnya nggak ada niat untuk beli. Tapi ternyata di rak itu tertempel kertas merah bertuliskan diskon 20% dan harga asli kamus itu sendiri sangat menggoda, apalagi kalau ditambah diskon. Aku langsung ambil kamus itu tapi kutimang-timang dulu sambil mikir beli, enggak, beli, enggak, beli, enggak karena aku memang tidak ada rencana untuk membelinya dan uang yang kubawa tidak banyak. Saat itu ada sedikit perdebatan juga antara aku, kakakku, dan ibuku. Kakakku juga ingin membelinya tapi ibuku tidak menyetujui, lebih baik membeli kamus yang berbeda atau salah satu saja yang membeli jika memang ingin kamus yang sama. Setelah beberapa menit adu argumentasi di depan rak akhirnya aku yang membawa kamus itu ke kasir. Saat aku mendengar mbak penjaga kasir menyebutkan harga tanpa diskon dan melihat angka itu di layar dengan tatapan tidak percaya, aku langsung berkata, “Itu diskon 20% ‘kan?”

Kata para penjaga kasir (ada dua orang saat itu), “Nggak diskon.”

Aku agak ngeyel, siapa tahu mereka lupa, “Tapi tadi di sana ada tulisannya diskon 20%.”

“Yang diskon yang besar, yang di bawahnya,” kata mereka.

Doeeeennk! Aku langsung tepok jidat. Dengan sedikit enggan, aku mengeluarkan dua lembar uang, masing-masing berwarna biru dan hijau.

Deretan paling atas rak berisi Learner’s Pocket Dictionary dan Learner’s Pocket Grammar (yang Grammar lebih mahal). Dua deret di bawahnya adalah Advanced Dictionary yang besar dan tebalnya kira-kira hampir sama dengan Brisingr. Kertas merah bertuliskan diskon 20% tertempel tepat di pinggiran kayu dasar deretan rak atas (mudeng nggak? =p), otomatis di atas Advanced Dictionary. Aku terkecoh, atau... tertipu? Mereka 'kan satu rak, kalau kau melihatnya saat itu pasti akan berpikir kalau deret yang atas juga didiskon.

Salah satu penjaga kasir berkata, "Beli yang besar aja biar dapet diskon."

Aku langsung mikir, mana kuaaaat~... Harganya aja dua ratus ribu lebih. Walau didiskon, aku juga tidak akan mampu beli =.=. Lagipula aku memang menginginkan kamus yang kecil.

Aku sempat berpikir, kalau begitu lebih baik kakakku saja yang membelinya, aku bisa beli bulan depan. Tapi penyesalan itu sedikit demi sedikit hilang seiring banyaknya manfaat yang kudapat dari kamus ini. Kau harus rela mengorbankan sesuatu kalau ingin mendapatkan yang lebih baik.

Kamis, 31 Maret 2011

Terlalu Skeptis Jadi Pesimis

Itulah yang sedang kurasakan sekarang. Mungkin karena ada begitu banyak masalah yang sedang menghantuiku saat ini. Yang satu belum selesai, muncul lagi yang lain, selalu begitu. Terlalu banyak yang dipikirkan membuatku stres.

Dari situ aku jadi ragu apakah aku bisa menyelesaikannya semua dengan tuntas. Rasanya terlalu berat untuk dijalani. Lama-kelamaan aku berpikir kalau semuanya serba mustahil. Mustahil aku dapat melaluinya.

Nah, kalimat yang seharusnya tidak boleh dikatakan keluar juga. Sering dengar 'kan pernyataan ini: "Kalau kau berkata bahwa kau tidak bisa, maka itulah yang akan terjadi padamu" ? Dan itu pun berlaku sebaliknya? Ya, ya, tentu saja aku tahu benar maksud kalimat itu. Segala sesuatu bermula dari diri sendiri. Kalau sudah berpikiran mustahil, otomatis aku akan berhenti berusaha, dan terjadilah kemustahilan itu.

Entahlah, mungkin aku kurang kuat mental, juga pemalas. Dua sifat yang benar-benar bisa membuat hancur hidup seseorang. Aku perlu belajar dari orang-orang di sekelilingku yang lebih berpengalaman. Sadar atau tidak, mereka sering memberiku banyak inspirasi dan solusi. Dan pada akhirnya mereka pasti menyertakan satu hal penting ini: "Jangan pernah mengandalkan diri sendiri, selalu sertakan Tuhan dalam setiap pekerjaan yang sedang kaulakukan."

Yah, itu sesuatu yang sering terlupakan bukan?

Kamis, 20 Januari 2011

They Make Me Smile

Ini hanya sebagian kecil pengalamanku sewaktu mengajar ekstrakurikuler biola di beberapa SD. Semuanya meninggalkan kesan tersendiri yang tidak akan mungkin kulupakan.

Pertama, di SD Kristen 1 YSKI. (SD tempat aku sekolah dulu ^^)

Waktu itu hari pertama aku mengajar. Anak-anak kusuruh untuk mencoba menggesek biolanya masing-masing. Tiba-tiba salah seorang anak yang duduk paling depan (ia kelas 2) berdiri dan menghampiriku dengan ekspresi sedikit takut dan panik. Dia pun berkata, "Kak, biolanya nggak bisa bunyi..." Aku sampai kaget. Kukira dia mau bilang apa... Oke, aku akui ini kesalahanku. Di hari pertama ini aku kurang mempersiapkan materi pengenalan biola (saking groginya aku tidak tahu harus menerangkan apa). Senar biola sewaktu digesek dengan bow tidak akan pernah bisa berbunyi kalau bow hair (yang dari ekor kuda itu) tidak digosok terlebih dahulu dengan rosin. Kalau mengingat ekspresinya saat itu aku jadi kasihan karena ia telah menjadi korban kecerobohan pertamaku.

Masih di SD yang sama, kali ini kejadiannya Sabtu minggu lalu. Aku sedang sibuk membimbing 2 muridku yang ketinggalan materi karena tidak masuk beberapa kali, sedangkan 2 muridku yang lain yang sudah menyelesaikan bab pertama kusuruh untuk mengerjakan soal-soal di buku. Karena soal-soalnya berbahasa Inggris sementara mereka masih kelas 2, otomatis mereka terus bertanya kepadaku, terutama yang bernama Rio. Agak cerewet dia memang. Aku pun berkata kepadanya, "Ya udah, kamu diskusi dulu sama Tasya. Kakak mau ngajarin Kerren sama Dixto dulu." Jawaban tak terduga muncul, "Diskusi itu apa?" Haaah... Kadang aku lupa kalau sedang berbicara dengan anak kecil. Kujawab saja, "Diskusi itu ngobrol, tanya-tanya."

Kapan kalian pertama kali mengenal kata 'diskusi'?

Kedua, di SD St. Aloysius. (SD tempatku dulu sekolah juga, dari kelas 3-6 ^.^)

Di SD ini aku memiliki murid yang spesial dan membutuhkan perlakuan khusus karena ia adalah anak autis. Tahu tidak, sih? Aku langsung grogi dan panik setengah mati waktu aku diberitahu oleh pendampingnya. Itu hari keduaku mengajar. Aku belum memiliki banyak pengalaman mengajar anak normal tapi sudah diberi tanggung jawab mengajar anak autis juga. Aku tidak membenci anak autis, justru aku mengagumi mereka karena mereka jenius, hanya saja aku takut tidak bisa membimbingnya dengan baik. Sampai sekarang pun aku masih bingung bagaimana mengatasi anak yang satu ini. Yah, mau bagaimana lagi. Aku anggap saja ini kesempatan yang istimewa untuk memperluas pengetahuan dan menambah pengalamanku.

Seperti kebanyakan anak autis lainnya, muridku ini sering membicarakan dan menanyakan hal sepele yang mungkin tidak terpikirkan oleh orang lain. Salah satunya seperti ini. Dia melihat biolaku, menunjuk ke benang-benang yang melilit di ujung senar yang terkait di tail piece dan bertanya, "Kenapa itu warnanya hitam semua? Kalau di punyaku 'kan ada hijau, merah, biru..." Walau kujawab, ia akan mengulang kalimat yang sama seolah ia tidak membutuhkan jawaban, hanya ingin mengungkapkan apa yang ada di pikirannya saja.

Peristiwa yang paling kuingat tentang anak ini adalah saat aku menawarinya untuk memimpin doa seusai ekstra. Aku ingat perkataan pendampingnya tentang hal yang paling dibutuhkan anak seperti dia, yaitu dapat bersosialisasi dengan orang-orang sekitarnya. Cara ini mungkin membantu. Ia pun dengan senang hati menerima tawaranku, anak-anak yang lain sepertinya juga senang kalau ia yang memimpin doa. Sebelum berdoa dia berkata, "Mau berdoa dalam bahasa Inggris?" Teman-temannya yang lain bingung mau menjawab apa. Eeee.... Aku langsung berkata, "Bahasa Indonesia aja," sambil menahan tawa. Dan dia pun berdoa dengan sangat khusyuk dalam Bahasa Indonesia.

Ketiga, di SDI Al-Azhar 14.

Kejadiannya kemarin sore waktu ekstra sudah selesai, saat itu satu per satu anak-anak menyalamiku. Salah seorang anak yang bernama Saffa entah kenapa bertanya seperti ini, "Kak, ulang tahunnya kapan?" Ia bertanya sambil senyum-senyum, geser ke kanan geser ke kiri kayak senam poco-poco.

He? Aku menjawab, "Kenapa? Ulang tahunku masih lama."

Ia malah bertanya lagi, "Bulan apa...? Tanggal berapa...?"

Ya sudah lah. Aku tidak mau membuat anak orang jadi penasaran. Lagipula mungkin dia mau memberiku kado haha. Jadi ya kujawab saja, "Bulannya bulan April, tanggal 22."

Eh, dia tanya lagi, "Tahunnya dua ribu berapa?"

Em sebentar, mungkin aku salah dengar. "Apa? Tahun lahir?"

"Iya, tahunnya dua ribu berapa?"

Lho? Lho? @_@ "Kalau aku lahirnya tahun dua ribu berapa, umurku jadi berapa dong sekarang?"

"Oh iya denk. Maksudnya seribu berapa..?"

"Kalau tahunnya 1992... Kenapa? Mau ngasih kado?"

Bukannya menjawab pertanyaanku, dia malah sudah keluar kelas. Ternyata sambil bertanya-tanya tadi sedikit demi sedikit ia bergeser menuju ke pintu kelas.

Tak kusangka anak semanis dia aneh juga orangnya.

Waktu kuceritakan kejadian itu ke kakakku, kakakku berkata, "Berarti kamu harus siap menerima kejutan apa pun waktu ulang tahunmu nanti."

Minggu, 09 Januari 2011

I Miss Someone

Aku hanya merindukannya, itu saja. Ah, sebenarnya aku tidak tahu apakah aku benar-benar merindukannya. Aku bahkan baru mengenalnya dan hanya sedikit yang kutahu tentangnya. Tapi apa yang dapat aku lakukan? Aku merindukannya.

Mungkin ini hanya perasaan sesaat yang dulu pernah kurasakan terhadap orang lain. Setelah lama menanti dan menyimpan semua perasaanku sendiri lalu aku menyerah dan melupakannya. Apakah kali ini akan berakhir seperti itu juga? Aku tidak tahu. Yang jelas aku merindukannya sekarang.

Aku berharap dia sedang merasakan hal yang sama terhadapku. Tidak. Itu terlalu konyol. Mustahil. Benar-benar suatu kebodohan kalau aku sampai berpikir seperti itu. Mimpi yang terlalu indah untuk jadi kenyataan. Tapi semakin lama dipikirkan aku jadi semakin merindukannya.

Setelah itu biasanya aku akan memutar sebuah lagu. Fukai Mori - Do As Infinity. Hanya lagu ini yang dapat mengingatkanku tentang dirinya. Berharap dengan memutarnya berulang-ulang maka ia akan berada di sampingku...


Heran, sejak kapan aku jadi melankolis begini...?

Argh, masalah perasaan memang sulit dimengerti.