Pertama, di SD
Kristen 1 YSKI. (SD tempat aku sekolah dulu ^^)Waktu itu hari pertama aku mengajar. Anak-anak kusuruh untuk mencoba menggesek biolanya masing-masing. Tiba-tiba salah seorang anak yang duduk paling depan (ia kelas 2) berdiri dan menghampiriku dengan ekspresi sedikit takut dan panik. Dia pun berkata, "Kak, biolanya nggak bisa bunyi..." Aku sampai kaget. Kukira dia mau bilang apa... Oke, aku akui ini kesalahanku. Di hari pertama ini aku kurang mempersiapkan materi pengenal
Masih di SD yang sama, kali ini kejadiannya Sabtu minggu lalu. Aku sedang sibuk membimbing 2 muridku yang ketinggalan materi karena tidak masuk beberapa kali, sedangkan 2 muridku yang lain yang sudah menyelesaikan bab pertama kusuruh untuk mengerjakan soal-soal di buku. Karena soal-soalnya berbahasa Inggris sementara mereka masih kelas 2, otomatis mereka terus bertanya kepadaku, terutama yang bernama Rio. Agak cerewet dia memang. Aku pun berkata kepadanya, "Ya udah, kamu diskusi dulu sama Tasya. Kakak mau ngajarin Kerren sama Dixto dulu." Jawaban tak terduga muncul, "Diskusi itu apa?" Haaah... Kadang aku lupa kalau sedang berbicara dengan anak kecil. Kujawab saja, "Diskusi itu ngobrol, tanya-tanya."
Kapan kalian pertama kali mengenal kata 'diskusi'?
Kedua, di SD St. Aloysius. (SD tempatku dulu sekolah juga, dari kelas 3-6 ^.^)
Di SD ini aku memilik
i murid yang spesial dan membutuhkan perlakuan khusus karena ia adalah anak autis. Tahu tidak, sih? Aku langsung grogi dan panik setengah mati waktu aku diberitahu oleh pendampingnya. Itu hari keduaku mengajar. Aku belum memiliki banyak pengalaman mengajar anak normal tapi sudah diberi tanggung jawab mengajar anak autis juga. Aku tidak membenci anak autis, justru aku mengagumi mereka karena mereka jenius, hanya saja aku takut tidak bisa membimbingnya dengan baik. Sampai sekarang pun aku masih bingung bagaimana mengatasi anak yang satu ini. Yah, mau bagaimana lagi. Aku anggap saja ini kesempatan yang istimewa untuk memperluas pengetahuan dan menambah pengalamanku.Seperti kebanyakan anak autis lainnya, muridku ini sering membicarakan dan menanyakan hal sepele yang mungkin tidak terpikirkan oleh orang lain. Salah satunya seperti ini. Dia melihat biolaku, menunjuk ke benang-benang yang melilit di ujung senar yang terkait di tail piece dan bertanya, "Kenapa itu warnanya hitam semua? Kalau di punyaku 'kan ada hijau, merah, biru..." Walau kujawab, ia akan mengulang kalimat yang sama seolah ia tidak membutuhkan jawaban, hanya ingin mengungkapkan apa yang ada di pikirannya saja.
Peristiwa yang paling kuingat tentang anak ini adalah saat aku menawarinya untuk memimpin doa seusai ekstra. Aku ingat perkataan pendampingnya tentang hal yang paling dibutuhkan anak seperti dia, yaitu dapat bersosialisasi dengan orang-orang sekitarnya. Cara ini mungkin membantu. Ia pun dengan senang hati menerima tawaranku, anak-anak yang lain sepertinya juga senang kalau ia yang memimpin doa. Sebelum berdoa dia berkata, "Mau berdoa dalam bahasa Inggris?" Teman-temannya yang lain bingung mau menjawab apa. Eeee.... Aku langsung berkata, "Bahasa Indonesia aja," sambil menahan tawa. Dan dia pun berdoa dengan sangat khusyuk dalam Bahasa Indonesia.
Ketiga, di SDI Al-Azhar 14.
Kejadiannya kemarin sore waktu ekstra sudah selesai, saat itu satu per satu anak-anak menyalamiku. Salah seorang anak yang bernama Saffa entah kenapa bertanya seperti ini, "Kak, ulang tahunnya kapan?" Ia bertanya sambil senyum-senyum, geser ke kanan geser ke kiri kayak senam poco-poco.
He? Aku menjawab, "Kenapa? Ulang tahunku masih lama."
Ia malah bertanya lagi, "Bulan apa...? Tanggal berapa...?"
Ya sudah lah. Aku tidak mau membuat anak orang jadi penasaran. Lagipula mungkin dia mau memberiku kado haha. Jadi ya kujawab saja, "Bulannya bulan April, tanggal 22."
Eh, dia tanya lagi, "Tahunnya dua ribu berapa?"
Em sebentar, mungkin aku salah dengar. "Apa? Tahun lahir?"
"Iya, tahunnya dua ribu berapa?"
Lho? Lho? @_@ "Kalau aku lahirnya tahun dua ribu berapa, umurku jadi berapa dong sekarang?"
"Oh iya denk. Maksudnya seribu berapa..?"
"Kalau tahunnya 1992... Kenapa? Mau ngasih kado?"
Bukannya menjawab pertanyaanku, dia malah sudah keluar kelas. Ternyata sambil bertanya-tanya tadi sedikit demi sedikit ia bergeser menuju ke pintu kelas.
Tak kusangka anak semanis dia aneh juga orangnya.
Waktu kuceritakan kejadian itu ke kakakku, kakakku berkata, "Berarti kamu harus siap menerima kejutan apa pun waktu ulang tahunmu nanti."