Senin, 31 Desember 2012

Forest of Fantasy

Halaman depan rumahku menjelma menjadi hutan (lagi). Pasti begitu kalau musim hujan datang, atau kapan pun saat hujan turun lebat selama beberapa hari berturut-turut, atau kalau ayahku tidak menaruh perhatian lagi sehingga tumbuh-tumbuhan liar seolah kembali menjadi penguasa sesungguhnya.




Hey, coba bayangkan (makhluk) apa saja yang mungkin ada di dalam sana.

Yah, meskipun aku lebih suka saat halaman itu tertata rapi (dulu ayahku sering menanam ketela dan pepaya, terlihat jauh lebih rapi saat itu), cukup menyenangkan juga mendapati berbagai tumbuhan yang tidak pernah kulihat sebelumnya.


  


Sama sekali tidak pernah membayangkan akan ada bunga seperti itu tumbuh di halaman depan rumah. Ukurannya cukup besar, dan kami semua mengiranya sebagai bunga bangkai. Awalnya agak tersembunyi di antara ilalang tapi lalu ayahku memotong ilalang di sekitarnya agar ia dapat mengambil gambar ini. Pernah sekali aku mencium baunya yang busuk, seperti bangkai tikus, dan melihat lalat-lalat mengerubunginya, di Minggu sore saat aku dan adikku hendak berangkat ke gereja. Semakin memperkuat dugaan kalau itu adalah bunga bangkai. Setelah mendapat informasi dari teman ayahku, dan memastikannya lewat pencarian di internet oleh kakakku, memang tumbuhan ini berkerabat dekat dengan bunga bangkai raksasa (Amorphopallus titanum) tapi lebih tepat kalau ia disebut sebagai suweg (Amorphopallus paeoniifolius). Genus yang sama, spesies yang berbeda *alamak jadi pelajaran Biologi*. Bunga ini adalah fase generatifnya, sedangkan fase vegetatifnya berupa batang-batang dengan daun bercabang-cabang seperti gambar di bawah ini. Oh, ini keren sekali!




Yak, itu adalah fase vegetatif dari bunga yang satunya lagi (ada dua bunga yang tumbuh di halaman depan rumahku. Istimewa!). Beberapa hari setelah ayahku membabat ilalang di sekitarnya, bunga-bunga itu makin lama makin kering dan akhirnya mati lalu muncullah batang-batang itu menggantikan keberadaannya. Jumlah mereka makin banyak, berjajar di sepanjang tepi halaman. Seru membayangkan kalau nantinya akan muncul lebih banyak bunga berbau busuk XD. Oh, aku belum bilang kalau mereka berumbi? Dan ternyata juga memiliki banyak manfaat untuk kesehatan? Untuk itu aku harus bilang waoow...

Seolah itu belum cukup mengesankan, ada tumbuhan lain yang menarik perhatian. Kakakku yang pertama kali mengenalinya. Yah, sebelumnya aku juga sudah melihatnya tapi menganggapnya tidak jauh berbeda dengan tumbuhan liar yang lain. Kakakku lulusan Biologi jadi dia pasti lebih tahu.




Naaah... yang ini namanya ceplukan (Physalis angulata). Kinda cute name, huh? Di dalamnya terdapat buah yang bisa dimakan. What?





Aku lahir, hidup, dan tinggal di Indonesia, khususnya kota Semarang, propinsi Jawa Tengah, tapi baru kali ini mendengar yang namanya ceplukan dan ternyata ceplukan itu bisa dimakan. Oke.

Yang berwarna kuning sudah matang dan rasanya manis. Kakakku memetik beberapa dan menyuruhku, adikku, dan ibuku untuk mencoba. Umm kalau aku... jujur merasa aneh saat pertama kali menggigitnya di dalam mulutku, entah belum terbiasa atau karena buah ini terlalu eksotis... He, nyambung nggak sih? =p Yang jelas rasanya aneh, aku tidak akan pernah memakannya lagi. Sepertinya hanya kakakku yang suka.




Kalau yang ini sejenis bayam liar. Aku tidak tahu nama ilmiahnya. Ini juga bisa dimakan. Aku jadi ingat saat masa-masa sulit dulu, bayam ini berhasil menyelamatkan kami dari kelaparan. Ayahku memiliki ide untuk memetik daun-daunnya (sangat mudah karena ia dapat ditemukan hampir di seluruh penjuru halaman depan maupun belakang) lalu menggorengnya helai demi helai dengan adonan bumbu dan tepung beras dan sedikit terigu, hasilnya tak lain adalah bayam crispy, kriuk-kriuk dan asin. Saat tidak ada lauk yang bisa dimakan, ayahku akan memetik bayam ini, meracik sendiri bumbunya lalu menggoreng semuanya sampai sekaleng penuh. Aku paling suka kalau dapat daun yang besar, sangat nikmat walau itu satu-satunya lauk pendamping nasi. Itu dulu. Kalau sekarang kelaparan ya tinggal beli Ind*mie... =="




Hahaha. Seharusnya yang di tengah itu adalah pohon jambu air berwarna merah (letaknya di samping rumah, arah utara. Rumahku menghadap ke timur), tapi kau bisa lihat betapa selimut tanaman rambat itu hampir menutupi seluruh permukaannya, sampai-sampai bunga-bunganya menjuntai di mana-mana.




Andai lebah itu peri kecil... >_<




Tumbuhan liar yang lain... Aku sering mengabaikan mereka, mungkin aku sudah terlalu terbiasa. Tapi melihatnya dalam gambar seperti ini membuatku sadar betapa cantiknya mereka sesungguhnya.




Setidaknya sisi yang ini cukup terawat, hasil kerja keras ayah dan kakakku. Adenium, lidah buaya, lavender, cabai, mawar, you name it *nggaya*.




 
 





Memang akhir-akhir ini, seiring bertambahnya usia dan kesibukan, aku jarang duduk-duduk di teras dan bermain di halaman, tidak seperti saat masih kecil dulu yang seingatku sangat menyenangkan. Walau begitu ada satu hal yang tidak pernah hilang tiap aku memandangnya, yaitu perasaan tenang, segar, dan membangkitkan imajinasi, seolah berada di dunia lain. Tak ada yang punya halaman depan sekeren ini, seberantakan apa pun kelihatannya, aku selalu menyukainya.


Note: Foto-foto (kecuali bunga suweg, oleh ayahku) diambil oleh Sabbath Natalie tanggal 9 Desember 2012, kunjungi blognya di: Hijau Lamunku atau Yamori Berdecak.

Minggu, 18 November 2012

"Kapal Karam, Kapten!"

=.=

Sepertinya aku sudah gila ...*lirik judul di atas*

Yups, semoga blog ini nggak akan bernasib seperti kapal karam yang dilihat salah satu awak kapal perompak di kedalaman laut lepas, berhubung penulisnya sedang terombang-ambing di atas ombak ketidakpastian dan ditiup badai keraguan yang hebat... halah. Tapi jujur deh, aku masih belum mendapat gambaran jelas mengenai apa saja yang akan kutulis kemudian dan arah mana yang kutuju bersama blog ini. Yah, sepertinya aku masih memerlukan banyak waktu lagi untuk menyusun strategi. Mungkin aku juga akan menulis tentang bajak laut... *bweh*

"Turunkan jangkar! Buat dirimu berharga! Ambil semua tanpa sisa!"

Minggu, 22 April 2012

Uh... I'm Getting Old

Pagi ini aku sama sekali lupa kalau hari ini aku berulang tahun. Seperti Minggu pagi biasanya, memaksa diri untuk bangun dari tempat tidur, cepat-cepat mandi, dan pergi ke gereja, apalagi kali ini aku bertugas sebagai song leader. Aku baru mengingatnya setelah duduk di dalam gereja. "Oh ya, aku 'kan ulang tahun hari ini."

Yup, begitu saja.

Terus kenapa?

Haha. Entah kenapa aku tidak terlalu peduli dengan ulang tahunku kali ini. Mungkin itu dikarenakan yah... angka satu di depan berganti dengan angka yang lain (tak usah disebut angka berapa), yang membuatku jadi berasa "tua". Hahahah. Eh, tapi tidak juga sih, aku masih merasa berumur sembilan belas--gara-gara seangkatan dengan teman-teman yang berumur segitu *plak~ XD

Selain itu karena... ya karena memang rasanya tidak ada yang luar biasa. Lagipula apa enaknya sih jadi tambah tua (seseorang pernah berkata demikian)? Tapi aku benar-benar berterima kasih kepada Tuhan yang masih mengizinkanku menghirup napas dalam-dalam sampai saat ini. Tahu tidak? Beberapa hari yang lalu aku mimpi mati ditusuk pedang tepat di leher tapi tidak langsung menuju surga atau neraka, rohku masih bergentayangan dan baru masuk ke dunia akhirat pada hari Minggu 'ku turut ayah ke kota... eh... pada hari Minggu, tepat saat aku berulang tahun. Fiuh... Thank God it's not happen, until now. Who knows?

Aku juga berterima kasih kepada teman-teman yang telah memberi ucapan selamat ulang tahun kepadaku lewat Facebook maupun SMS, padahal akhir-akhir ini aku hampir tidak pernah memberi mereka ucapan selamat ulang tahun di ulang tahun mereka *dilempar pot*. Maaf ya teman-teman, terima kasih atas perhatiannya m(_ _)m

Ngomong-ngomong soal SMS, ada seseorang yang tidak kuduga akan mengirim pesan selamat ulang tahun kepadaku. Seseorang dari masa lalu. Huahah. Dia ganti nomor aja nggak bilang-bilang, tahu-tahu SMS pakai nomor baru, SMS pertama darinya sejak setahun lebih. Hmm kuanggap sebagai hadiah kecil yang cukup menyenangkan. Semoga dia tidak membaca ini. *Kalo gitu ngapain ditulis???*

Oh ya, aku juga ingin berterima kasih dengan teman lama yang memberiku ucapan selamat lewat Facebook. Aku tahu kamu pasti membacanya, L. Miss you so much. I'm so desperate here. Kapan kita ketemu??? Huh.

Hanya itu saja yang ingin kutuliskan. Aku masih terbayang-bayang dengan ujian mid Teori Musik (belum belajaaaar~), tugas Bahasa Inggris yang seabrek karena belum ada yang kukumpulkan dari awal semester dua sampai sekarang, dan memikirkan mata kuliah Keroncong karena aku dan kelompokku belum latihan lagi selama dua minggu lebih, ngeri mbayangin dosennya yang bisa aja makan orang *ampun, Pak ><*

May God always be with me
Jyaa ne~

Minggu, 01 April 2012

Refresh

I'm just got some new inspiration from here...
http://thereanggreani.tumblr.com/archive

It's my friend's site. We were in the same elementary school.
Have a nice read! ^^

Senin, 06 Februari 2012

Mellow with Mary

Berita nggak penting. Saya bangun pagi (yang pasti lebih awal dari biasanya) dan sudah mandi. Hahaha.

Sedang bersama Mary sekarang. Ia sukses menyiksa jariku dan bertambah sakit saja rasanya. Lebih parah daripada saat pertama kali belajar memainkan Jane. Aku baru berhasil, emm... lumayan berhasil, memainkan satu lagu dengan petikan, Love Is Blue (Claudine Longet/Blackburn). Aku suka lagu ini sewaktu kecil, dan masih sampai saat ini. Biru adalah warna kesukaanku. Selain itu akordnya juga lumayan gampang, dan sepertinya liriknya benar-benar mencerminkan suasana hatiku.

Blue, blue, my world is blue
Blue is my world, now I'm without you
Grey, grey, my life is grey
Cold is my heart since you went away

Red, red, my eyes are red
Crying for you alone in my bed
Green, green, my jealous heart
I doubted you and now we're apart

When we met how the bright sun shone
Then love died now the rainbow is gone

Black, black the nights I've known
Longing for you so lost and alone
Gone, gone, the love we knew
Blue is my world now I'm without you


Ehem... Perbedaannya, aku tidak punya "siapa-siapa" sebelumnya, hanya saja aku merindukan seseorang yang akan menjadi "siapa-siapa"-ku nantinya. Umm mungkin aku juga merindukan orang-orang yang pernah kutaksir sebelumnya, sangat menyayangkan hanya bisa memandang wajah mereka dan menyimpan sendiri perasaanku.

Huah. Melankolisnya keluar lagi. Padahal aku sudah bertekad tidak akan menulis tentang "cinta" di blog ini. Bikin sakit hati saja.

Apa boleh buat, aku suka menulis. Aku tidak tahan jika tidak menuliskan apa saja yang mengganjal di hatiku. Mumpung lagi good mood. Mungkin ini yang disebut dengan "pelampiasan" untuk mengurangi rasa sakit itu.

Jumat, 27 Januari 2012

Akhir Semester Awal

Tadi terbangun pukul 03.00 di sofa ruang tengah. Waktu aku melihat layar HP, ada SMS dari nomor tak dikenal yang menanyakan tentang nilai. Aku pun langsung bangkit, menyalakan komputer, dan tersambung ke internet. Setelah hampir jenggotan gara-gara buka satu situs sederhana aja nggak bisa-bisa, akhirnya muncul juga halaman hijau itu. Isi username, password, bla bla bla, setelah login segera kuklik menu kartu hasil studi...




Tadaaaaaaaaaaa~.....................................




Dengan satu sapuan mata, kebanyakan nilai yang tampak adalah 4.00, kugeser perlahan halaman ke bawah dan IP yang muncul adalah... 3.59. Aku tidak tahu itu nilai yang cukup bagus atau tidak karena sebenarnya aku ingin mendapatkan nilai cumlaude. Tapi mengingat proses belajarku yang kurang maksimal dan kebanyakan main, tidur nyenyak di kelas XD, ditambah baru mengerjakan tugas kalau sudah mendekati batas deadline, mau tidak mau aku harus bisa menerima nilai ini.

Yang membuatku cukup terperangah adalah saat melihat nilai C dengan bobot 2.00 di mata kuliah Musik Masa Kini! T-T.... Yah, aku memang sudah menduga kalau aku bakal dapat nilai jelek, kelompok bandku waktu itu juga kurang mendukung (dalam hal permainan kami pas-pasan semua). Tapi 'kan aku sudah berusaha keras saat ujian akhir semester! Bisa dibilang permainan drumku lumayan lho waktu itu! Dibandingkan saat jam kuliah biasa, aku rasa permainanku jauh lebih baik. Itu adalah mata kuliah yang pertama kalinya memaksaku menyentuh stik dan menggebuk drum tanpa diajari siapa pun pada awalnya dan itu tidak mudah apalagi harus langsung bisa mengiringi satu lagu penuh. Aku bisa menerima kalau nantinya dapat nilai jelek tapi aku tetap saja tidak mengira kalau bakal sejelek ini.... Apa boleh buat, ternyata kemampuanku masih segitu saja. Yang masih menjadi pertanyaan adalah apakah aku harus mengulang mata kuliah ini? Oooooh~...... membayangkannya saja sudah seram. Kalau memang tidak diharuskan sih, sebenarnya aku sangat tidak berminat untuk mengulang. Cukup di semester 1 saja, terima kasih.

Satu lagi mata kuliah yang kuprediksikan bakal mendapat nilai yang cukup buruk juga, Drama. Aku benci akting. Kata dosennya sih, mengingat prodi yang kami—mahasiswa musik—masuki adalah prodi pendidikan, otomatis kami akan, setidaknya, berada di depan kelas menjadi seorang pengajar, dan seorang pengajar harus pandai berakting, dalam hal ini membawa diri, agar tidak canggung, gugup, dan berbagai sikap lain yang tidak sepantasnya tampak dalam diri pengajar. Tapi tetap saja aku tidak suka dan kurang berbakat dalam hal itu. Mungkin aku bisa sedikit-sedikit kalau lawan mainku benar-benar meyakinkan dan ada seorang pengarah akting semacam sutradara agar aku tahu di mana letak kesalahanku. Ya sudahlah, aku tidak ambil pusing. Lagipula aku bisa menerima nilai yang kudapat, dan aku kira sesuai dengan apa yang sudah kutampilkan, 2.50. Hoho.

Untuk mata kuliah yang lain aku benar-benar puas, bahkan ada beberapa mata kuliah yang tadinya kupikir bakal parah ternyata malah diberi nilai paling tinggi. Oh, terima kasih Tuhan karena kau sudah menjawab doaku. Aku berjanji akan lebih berjuang lagi di semester selanjutnya. Paling tidak IP-ku kali ini berada sedikit di atas standar yang diminta oleh pihak pemerintah yang memberiku beasiswa. Hei, hari gini kalau mau kuliah gratis sampai lulus itu butuh perjuangan besar! Ah, aku jadi teringat PKM (Program Kreativitas Mahasiswa) yang sampai saat ini belum kubuat sebagai salah satu syarat yang harus dipenuhi sebagai penerima beasiswa. Aku tidak suka menulis karya ilmiah. Beri aku tugas menulis cerpen atau novel, pasti akan kuselesaikan secepat kilat—nggak juga denk. Hahaha.

Akhir kata, I must keep the spirit on!