Halaman depan rumahku menjelma menjadi hutan (lagi). Pasti begitu kalau musim
hujan datang, atau kapan pun saat hujan turun lebat selama beberapa hari
berturut-turut, atau kalau ayahku tidak menaruh perhatian lagi sehingga
tumbuh-tumbuhan liar seolah kembali menjadi penguasa sesungguhnya.
Hey, coba bayangkan (makhluk) apa saja yang mungkin ada di dalam sana.
Yah, meskipun aku lebih suka saat halaman itu tertata rapi (dulu ayahku sering menanam ketela dan pepaya, terlihat jauh lebih rapi saat itu), cukup menyenangkan juga mendapati berbagai tumbuhan yang tidak pernah kulihat sebelumnya.
Sama sekali tidak pernah membayangkan akan ada bunga seperti itu tumbuh di halaman depan rumah. Ukurannya cukup besar, dan kami semua mengiranya sebagai bunga bangkai. Awalnya agak tersembunyi di antara ilalang tapi lalu ayahku memotong ilalang di sekitarnya agar ia dapat mengambil gambar ini. Pernah sekali aku mencium baunya yang busuk, seperti bangkai tikus, dan melihat lalat-lalat mengerubunginya, di Minggu sore saat aku dan adikku hendak berangkat ke gereja. Semakin memperkuat dugaan kalau itu adalah bunga bangkai. Setelah mendapat informasi dari teman ayahku, dan memastikannya lewat pencarian di internet oleh kakakku, memang tumbuhan ini berkerabat dekat dengan bunga bangkai raksasa (Amorphopallus titanum) tapi lebih tepat kalau ia disebut sebagai suweg (Amorphopallus paeoniifolius). Genus yang sama, spesies yang berbeda *alamak jadi pelajaran Biologi*. Bunga ini adalah fase generatifnya, sedangkan fase vegetatifnya berupa batang-batang dengan daun bercabang-cabang seperti gambar di bawah ini. Oh, ini keren sekali!
Yak, itu adalah fase vegetatif dari bunga yang satunya lagi (ada dua bunga yang tumbuh di halaman depan rumahku. Istimewa!). Beberapa hari setelah ayahku membabat ilalang di sekitarnya, bunga-bunga itu makin lama makin kering dan akhirnya mati lalu muncullah batang-batang itu menggantikan keberadaannya. Jumlah mereka makin banyak, berjajar di sepanjang tepi halaman. Seru membayangkan kalau nantinya akan muncul lebih banyak bunga berbau busuk XD. Oh, aku belum bilang kalau mereka berumbi? Dan ternyata juga memiliki banyak manfaat untuk kesehatan? Untuk itu aku harus bilang waoow...
Seolah itu belum cukup mengesankan, ada tumbuhan lain yang menarik perhatian. Kakakku yang pertama kali mengenalinya. Yah, sebelumnya aku juga sudah melihatnya tapi menganggapnya tidak jauh berbeda dengan tumbuhan liar yang lain. Kakakku lulusan Biologi jadi dia pasti lebih tahu.
Naaah... yang ini namanya ceplukan (Physalis angulata). Kinda cute name, huh? Di dalamnya terdapat buah yang bisa dimakan. What?
Aku lahir, hidup, dan tinggal di Indonesia, khususnya kota Semarang, propinsi Jawa Tengah, tapi baru kali ini mendengar yang namanya ceplukan dan ternyata ceplukan itu bisa dimakan. Oke.
Yang berwarna kuning sudah matang dan rasanya manis. Kakakku memetik beberapa dan menyuruhku, adikku, dan ibuku untuk mencoba. Umm kalau aku... jujur merasa aneh saat pertama kali menggigitnya di dalam mulutku, entah belum terbiasa atau karena buah ini terlalu eksotis... He, nyambung nggak sih? =p Yang jelas rasanya aneh, aku tidak akan pernah memakannya lagi. Sepertinya hanya kakakku yang suka.
Kalau yang ini sejenis bayam liar. Aku tidak tahu nama ilmiahnya. Ini juga bisa dimakan. Aku jadi ingat saat masa-masa sulit dulu, bayam ini berhasil menyelamatkan kami dari kelaparan. Ayahku memiliki ide untuk memetik daun-daunnya (sangat mudah karena ia dapat ditemukan hampir di seluruh penjuru halaman depan maupun belakang) lalu menggorengnya helai demi helai dengan adonan bumbu dan tepung beras dan sedikit terigu, hasilnya tak lain adalah bayam crispy, kriuk-kriuk dan asin. Saat tidak ada lauk yang bisa dimakan, ayahku akan memetik bayam ini, meracik sendiri bumbunya lalu menggoreng semuanya sampai sekaleng penuh. Aku paling suka kalau dapat daun yang besar, sangat nikmat walau itu satu-satunya lauk pendamping nasi. Itu dulu. Kalau sekarang kelaparan ya tinggal beli Ind*mie... =="
Hahaha. Seharusnya yang di tengah itu adalah pohon jambu air berwarna merah (letaknya di samping rumah, arah utara. Rumahku menghadap ke timur), tapi kau bisa lihat betapa selimut tanaman rambat itu hampir menutupi seluruh permukaannya, sampai-sampai bunga-bunganya menjuntai di mana-mana.
Andai lebah itu peri kecil... >_<
Tumbuhan liar yang lain... Aku sering
mengabaikan mereka, mungkin aku sudah terlalu terbiasa. Tapi melihatnya
dalam gambar seperti ini membuatku sadar betapa cantiknya mereka
sesungguhnya.
Setidaknya sisi yang ini cukup terawat, hasil kerja keras ayah dan kakakku. Adenium, lidah buaya, lavender, cabai, mawar, you name it *nggaya*.
Memang akhir-akhir ini, seiring bertambahnya usia dan kesibukan, aku jarang duduk-duduk di teras dan bermain di halaman, tidak seperti saat masih kecil dulu yang seingatku sangat menyenangkan. Walau begitu ada satu hal yang tidak pernah hilang tiap aku memandangnya, yaitu perasaan tenang, segar, dan membangkitkan imajinasi, seolah berada di dunia lain. Tak ada yang punya halaman depan sekeren ini, seberantakan apa pun kelihatannya, aku selalu menyukainya.
Note: Foto-foto (kecuali bunga suweg, oleh ayahku) diambil oleh Sabbath Natalie tanggal 9 Desember 2012, kunjungi blognya di: Hijau Lamunku atau Yamori Berdecak.
wah itu ceplukan,ada jual di jogja loh,dan mamaku waktu kecil dulu suka makan itu tumbuh dihutan,kalo lama2 sdh terbiasa,enak juga.haha.enak ya punya rumah dengan kebun yang luas.
BalasHapusHaha thanks ^^
HapusIya enak tapi susah ngrawatnya tuh >.<
Emang kamu domisili di jogja?