Sabtu, 13 Juni 2015

Selamat Ulang Tahun!

Sepertinya akhir-akhir ini aku akan sering telat memperbarui blog-ku. Maaf, ya. Semoga kalian tetap menikmatinya. Hohoho ^.^ 

25 April 2015


Hujan semalam masih bertahan hingga pagi ini, berupa gerimis yang cukup membuatmu basah kuyup dan kedinginan apabila terlalu lama berdiri di luar. Tapi aku tidak ingin bercerita tentang pagi yang melankolis kali ini. Aku ingin bercerita tentang kue ulang tahun pertama yang kubuat sendiri sepanjang sore hingga malam kemarin! XD
 

Hari ulang tahunku sendiri memang sudah lewat, aku bahkan hampir melupakannya di hari-hari sebelumnya karena terlalu mencemaskan banyak hal. Walau aku ingat pun aku tidak akan terlalu heboh juga menyambutnya karena hari ulang tahun sama saja seperti hari-hari biasa, tidak ada yang terlalu istimewa. Tapi tetap saja aku berterima kasih kepada Pakdhe Wid, Mas Nosan, Pipin, Kikik, dan kakakku yang memberi ucapan selamat ulang tahun lewat SMS. Aku sangat senang mereka benar-benar ingat—aku menyembunyikan tanggal lahirku di akun facebook-ku, selain tidak ingin membuat akunku penuh dengan ucapan selamat dari orang-orang yang tidak kukenal, aku ingin melihat siapa saja orang yang ingat tanpa mendapatkan pemberitahuan, itu artinya mereka benar-benar spesial ^^. Nah, aku sudah bilang sebelumnya kan kalau bagiku tidak ada yang terlalu istimewa di hari ulang tahun? Walau begitu, di tahun ini setidaknya aku ingin melakukan satu hal yang belum pernah kulakukan sepanjang hidupku: membuat kue ulang tahun plus hiasannya sendiri, dan beginilah jadinya!



Memang tidak sempurna, tapi aku menyukainya! Aku menikmati tiap tahap membuatnya: mencampur, mengocok, mengaduk, memanggang, memotong, mengoles, membentuk, menata. Ah, sungguh menyenangkan!

Meski menyenangkan bukan berarti tidak ada masalah ;)

Aku menggunakan resep kue yang sama seperti yang selama ini kubuat, resep turun temurun dari nenekku, dulu ibuku sering membuatnya dan ia mengajarkannya padaku. Yang menjadi masalah adalah, aku menggunakan loyang bundar yang baru kubeli berdiameter 22 cm dan tinggi 3 cm, sedangkan adonan yang kubuat biasa dituang ke dalam loyang persegi dengan sisi 22 cm dan tinggi 5 cm. Bayangkan kuenya membludak jadi seperti apa. Awalnya aku tidak ingin menuang semua adonannya tapi ibuku bersikeras untuk menuang semuanya, menurutnya kuenya paling akan menggembung sedikit. Tetap saja aku cemas. Kecemasanku bertambah saat loyang kupindah ke rak atas oven, kueku semakin menggembung dan tampak menyentuh atap oven =w=. Saat matang, aku melihat ada sedikit bagian gelap di bagian tengah yang sepertinya menyentuh—atau hampir menyentuh?—atap oven. Selain itu kuenya baik-baik saja, aku sudah mengeceknya dengan lidi dan memastikan kuenya matang merata, meski tampak agak menggembung ke samping dan gosong di pinggir permukaannya. Saat aku membaliknya, aku cukup terkejut karena ternyata bagian dasarnya mulus tanpa cela—biasanya kalau ibuku yang membuat, bagian dasarnya sering menempel di loyang—sehingga aku memutuskan bagian dasar akan menjadi bagian atas, jadi aku harus memotong bagian atas—yang sekarang jadi bagian dasar—agar kuenya dapat berdiri tegak lurus. Aku belum pernah memotong dengan cara seperti itu dan sangat senang saat mendapatkan hasil yang sempurna! Hahaha. Kakakku langsung memotong-motongnya, dan rasanya sangat enak—seperti biasa XD.
 

Tiba saatnya untuk membuat lapisan krimnya! Aku belum pernah membuat krim sebelumnya. Aku mengikuti resep krim yang ada di bungkus gula pasir. Di situ tertulis 3 bahan untuk membuat krim: mentega putih, soft cream, dan susu kental manis. Aku tidak punya soft cream karena tidak tersedia di toko bahan kue langgananku, jadi aku hanya mengocok mentega putih dan susu kental  manis. Ibuku menambahkan gula halus sebagai pengganti soft cream, selain itu agar rasanya bertambah manis sedikit—aku sudah menuangkan setengah kaleng susu tapi rasanya masih tawar. Saat krim sudah jadi, maka aku sampai pada bagian yang paling menantang: menghias! Mengoles seluruh permukaan sampai rata dengan krim itu susah-susah gampang, banyak susahnya sih. Entah karena tekstur krim yang kubuat atau pisau yang kugunakan atau memang aku yang tidak berbakat mengoles? Semakin kurapikan kelihatannya semakin kacau. Saat kurasa kelihatan sedikit rapi aku harus cukup puas dengan bentuk yang seperti itu kalau tidak ingin menghabiskan sepanjang malam untuk mengacaukannya lebih jauh. Aku paling suka bagian mencampur warna. Aku membuat empat macam warna: biru muda, merah muda, coklat tua, dan coklat muda. Hanya empat warna itu yang terbayang dalam pikiranku saat merencanakan untuk membuat kue ini beberapa bulan yang lalu. Warna-warnanya sungguh cantik, persis seperti yang ada dalam bayanganku, walau bentuk-bentuk yang kubuat selanjutnya tidak sesempurna itu. Sekali lagi entah karena alat yang kugunakan atau tanganku yang tidak berbakat. Yah, ini kan pertama kalinya, aku sudah cukup puas dengan hasil kerja tanganku dan imajinasiku yang sederhana. Menurutku kueku cukup cantik, dan jika aku bertemu dengan orang yang tepat, aku akan mampu membuat yang lebih baik dari ini suatu hari nanti! XD.

Oh, ya. Keuntungan dari membuat kue ulang tahun sendiri adalah, selain kau bebas menentukan bentuk kue dan hiasan yang kauinginkan, kau juga bebas menentukan lilin angka mana yang ingin kaupasang di atasnya! Mwahaha. Percaya atau tidak, aku berumur sembilan belas untuk selamanya! XD
Lakukanlah hal-hal yang ingin kaulakukan. Meski kadang merepotkan—begitu juga yang dipikirkan oleh orang-orang di sekitarmu—kau akan memelajari banyak hal dan menemukan kepuasan tersendiri. Kepuasan itulah yang akan membuatmu ingin melakukan sesuatu yang lebih baik lagi di masa yang akan datang. Selamat ulang tahun! \(>w<)/

Jumat, 02 Januari 2015

Hello, New Year!

Selamat Tahun Baru 2015 untuk kalian semua! Semoga tahun  ini menjadi tahun yang luar biasa untuk kita ohohoho ^^

Cerita singkat saja, ya.

Malam tahun baru kemarin kami mendapat tamu spesial di rumah, mereka adalah teman-teman adikku waktu SMA, Viena dan Dibti. Sungguh sebuah kejutan yang menyenangkan! Kalau Viena sih sudah kenal banget, kalau Dibti baru pertama ini kami berkenalan, mereka semua sangat manis! >w< Gemes deh. Ceritanya mereka berdua main ke rumah teman yang lain, Stella, yang juga dekat dari rumah kami karena lingkungan rumah mereka sedang ramai sekali, banyak yang merayakan tahun baru. Setelah dari rumah Stella, mereka sekalian mampir untuk mengunjungi adikku. Sekitar tengah malam mereka datang dan baru pukul setengah dua mereka pulang. Mereka berdua membuat suasana di rumah jadi ceria untuk beberapa saat ^.^
Dibti - Adik - Viena (photo by: Sabbath)

Aku di antara dua adek manis >_< (photo by: Sabbath)

Aku - Kakak - Viena - Adik =p (photo taken by: Dibti)

Keesokan harinya aku bangun agak siang, sekitar pukul setengah sembilan dan langsung melanjutkan pekerjaanku semalam, bermain-main dengan macam-macam benang, gunting, kait, dan jarum ohohoho. Sungguh menyenangkan membuat sesuatu untuk orang-orang spesial. Kakakku juga sibuk membuat macam-macam untuk lapaknya. Kami menyulap meja makan menjadi meja tidak jelas, penuh dengan bahan dan alat kerajinan kami fufufu. Sudah berantakan begitu sejak... satu atau dua minggu yang lalu, pokoknya sejak liburan, malah yang ini terlihat agak rapi lho. Syukurlah ibu tidak marah.

Gak berantakan gak asyik katanya =p (photo by: Sabbath)



Agak siang lagi, tiba-tiba adikku ingin ke Java Mall untuk membeli fine tuner di Gramedia. Beberapa fine tuner-nya dol alias boneka wakakak, rusak maksudnya =p. Awalnya aku tidak mau ikut tapi akhirnya ikut juga karena ingin ganti suasana sebentar, capek juga duduk di depan meja terus. Singkat cerita adikku tidak menemukan apa yang ia cari, sepertinya Gramedia tidak menjual barang pritilan seperti itu (tuh kan, kubilang juga apa, ngeyel sih), dan aku membeli buku-buku yang sama sekali tidak kurencanakan sebelumnya. Aku gelap mata! Ada buku diskon! Aku tidak tahan melihat buku bagus seharga sepuluh ribuan! Kapten Kolor itu, aku ingin sekali melengkapi koleksiku, aku baru punya dua. Lalu buku yang itu, aku suka sampulnya dan sepertinya ceritanya menarik! Oh, tidak! Kubelilah ketiga buku itu sebelum aku menyesal.



Yap, seperti itulah aku memulai tahun baruku: merajut, muter-muter toko buku, membaca, dan berimajinasi. Ohohoho. Sederhana, tapi aku menyukainya. Semoga menjadi awal yang baik. Kuharap kalian juga memiliki langkah awal yang baik untuk memulai tahun ini. Sampai jumpa di posting berikutnya! ^.^)/