25
April 2015
Hujan
semalam masih bertahan hingga pagi ini, berupa gerimis yang cukup membuatmu
basah kuyup dan kedinginan apabila terlalu lama berdiri di luar. Tapi aku tidak
ingin bercerita tentang pagi yang melankolis kali ini. Aku ingin bercerita
tentang kue ulang tahun pertama yang kubuat sendiri sepanjang sore hingga malam
kemarin! XD
Hari
ulang tahunku sendiri memang sudah lewat, aku bahkan hampir melupakannya di
hari-hari sebelumnya karena terlalu mencemaskan banyak hal. Walau aku ingat pun
aku tidak akan terlalu heboh juga menyambutnya karena hari ulang tahun sama
saja seperti hari-hari biasa, tidak ada yang terlalu istimewa. Tapi tetap saja
aku berterima kasih kepada Pakdhe Wid, Mas Nosan, Pipin, Kikik, dan kakakku
yang memberi ucapan selamat ulang tahun lewat SMS. Aku sangat senang mereka
benar-benar ingat—aku menyembunyikan tanggal lahirku di akun facebook-ku, selain tidak ingin membuat
akunku penuh dengan ucapan selamat dari orang-orang yang tidak kukenal, aku
ingin melihat siapa saja orang yang ingat tanpa mendapatkan pemberitahuan, itu
artinya mereka benar-benar spesial ^^. Nah, aku sudah bilang sebelumnya kan kalau
bagiku tidak ada yang terlalu istimewa di hari ulang tahun? Walau begitu, di
tahun ini setidaknya aku ingin melakukan satu hal yang belum pernah kulakukan
sepanjang hidupku: membuat kue ulang tahun plus hiasannya sendiri, dan
beginilah jadinya!
Memang
tidak sempurna, tapi aku menyukainya!
Aku menikmati tiap tahap membuatnya: mencampur, mengocok, mengaduk, memanggang,
memotong, mengoles, membentuk, menata. Ah, sungguh menyenangkan!
Meski menyenangkan bukan berarti tidak ada masalah ;)
Meski menyenangkan bukan berarti tidak ada masalah ;)
Aku
menggunakan resep kue yang sama seperti yang selama ini kubuat, resep turun
temurun dari nenekku, dulu ibuku sering membuatnya dan ia mengajarkannya
padaku. Yang menjadi masalah adalah, aku menggunakan loyang bundar yang baru
kubeli berdiameter 22 cm dan tinggi 3 cm, sedangkan adonan yang kubuat biasa
dituang ke dalam loyang persegi dengan sisi 22 cm dan tinggi 5 cm. Bayangkan
kuenya membludak jadi seperti apa. Awalnya aku tidak ingin menuang semua
adonannya tapi ibuku bersikeras untuk menuang semuanya, menurutnya kuenya
paling akan menggembung sedikit. Tetap saja aku cemas. Kecemasanku bertambah
saat loyang kupindah ke rak atas oven, kueku semakin menggembung dan tampak
menyentuh atap oven =w=. Saat matang, aku melihat ada sedikit bagian gelap di
bagian tengah yang sepertinya menyentuh—atau hampir menyentuh?—atap oven.
Selain itu kuenya baik-baik saja, aku sudah mengeceknya dengan lidi dan
memastikan kuenya matang merata, meski tampak agak menggembung ke samping dan
gosong di pinggir permukaannya. Saat aku membaliknya, aku cukup terkejut karena
ternyata bagian dasarnya mulus tanpa cela—biasanya kalau ibuku yang membuat,
bagian dasarnya sering menempel di loyang—sehingga aku memutuskan bagian dasar
akan menjadi bagian atas, jadi aku harus memotong bagian atas—yang sekarang
jadi bagian dasar—agar kuenya dapat berdiri tegak lurus. Aku belum pernah
memotong dengan cara seperti itu dan sangat senang saat mendapatkan hasil yang
sempurna! Hahaha. Kakakku langsung memotong-motongnya, dan rasanya sangat
enak—seperti biasa XD.
Tiba
saatnya untuk membuat lapisan krimnya! Aku belum pernah membuat krim
sebelumnya. Aku mengikuti resep krim yang ada di bungkus gula pasir. Di situ
tertulis 3 bahan untuk membuat krim: mentega putih, soft cream, dan susu kental manis. Aku tidak punya soft cream karena tidak tersedia di toko
bahan kue langgananku, jadi aku hanya mengocok mentega putih dan susu
kental manis. Ibuku menambahkan gula
halus sebagai pengganti soft cream,
selain itu agar rasanya bertambah manis sedikit—aku sudah menuangkan setengah
kaleng susu tapi rasanya masih tawar. Saat krim sudah jadi, maka aku sampai
pada bagian yang paling menantang: menghias! Mengoles seluruh permukaan sampai
rata dengan krim itu susah-susah gampang, banyak susahnya sih. Entah karena
tekstur krim yang kubuat atau pisau yang kugunakan atau memang aku yang tidak
berbakat mengoles? Semakin kurapikan kelihatannya semakin kacau. Saat kurasa
kelihatan sedikit rapi aku harus cukup puas dengan bentuk yang seperti itu
kalau tidak ingin menghabiskan sepanjang malam untuk mengacaukannya lebih jauh.
Aku paling suka bagian mencampur warna. Aku membuat empat macam warna: biru
muda, merah muda, coklat tua, dan coklat muda. Hanya empat warna itu yang
terbayang dalam pikiranku saat merencanakan untuk membuat kue ini beberapa
bulan yang lalu. Warna-warnanya sungguh cantik, persis seperti yang ada dalam
bayanganku, walau bentuk-bentuk yang kubuat selanjutnya tidak sesempurna itu.
Sekali lagi entah karena alat yang kugunakan atau tanganku yang tidak berbakat.
Yah, ini kan pertama kalinya, aku sudah cukup puas dengan hasil kerja tanganku
dan imajinasiku yang sederhana. Menurutku kueku cukup cantik, dan jika aku
bertemu dengan orang yang tepat, aku akan mampu membuat yang lebih baik dari
ini suatu hari nanti! XD.
Oh,
ya. Keuntungan dari membuat kue ulang tahun sendiri adalah, selain kau bebas
menentukan bentuk kue dan hiasan yang kauinginkan, kau juga bebas menentukan
lilin angka mana yang ingin kaupasang di atasnya! Mwahaha. Percaya atau tidak,
aku berumur sembilan belas untuk selamanya! XD
Lakukanlah
hal-hal yang ingin kaulakukan. Meski kadang merepotkan—begitu juga yang
dipikirkan oleh orang-orang di sekitarmu—kau akan memelajari banyak hal dan
menemukan kepuasan tersendiri. Kepuasan itulah yang akan membuatmu ingin
melakukan sesuatu yang lebih baik lagi di masa yang akan datang. Selamat ulang
tahun! \(>w<)/


