![]() |
| My low-waste weapons |
Tadinya kiriman
ini ingin saya publikasikan di Hari Bumi Sedunia—sekaligus hari ulang tahun
saya (hah!)—tapi karena hari-hari menjelang hari itu banyak pekerjaan yang
harus diselesaikan dan banyak pikiran yang harus diwujudnyatakan, kiriman ini
baru berhasil saya publikasikan sekarang. Akhirnya! Lagipula, tiap hari adalah
Hari Bumi, bukan? Sudah lama saya ingin berbagi cerita mengenai upaya yang
berhasil saya lakukan untuk mengurangi sampah yang sulit hingga tidak dapat
terurai oleh tanah yang kita injak di bumi tercinta. Upaya tersebut adalah
membawa botol minum berbahan stainless
steel ke mana pun saya pergi dan menolak menggunakan kantong plastik untuk
menampung barang belanjaan saya. Ya, sejauh ini baru dua upaya itu yang
berhasil saya lakukan.
Sedih.
Bagi saya yang
hidup di kawasan perkotaan di mana semuanya serba praktis, gaya hidup low-waste apalagi zero-waste merupakan sebuah tantangan yang bukan main beratnya;
supermarket dan minimarket ada di mana-mana, berbagai produk yang saya butuhkan
maupun tidak begitu saya butuhkan (cemilan merk terbaru yang menggoda selera
misalnya) mayoritas dikemas dalam kemasan plastik dan karton pabrikan. Jadi,
tiap kali saya berbelanja di supermarket atau minimarket langganan, saya merasa
sangat berdosa, “Katanya mau ngurangin
sampah plastik. Semua barang yang kaubeli dibungkus plastik, tuh!” Begitu
bunyi suara di kepala saya. Membawa tas belanja sendiri rasanya masih belum
cukup. Belum lagi kalau saya menerima paket dari situs belanja online yang hampir pasti dibungkus
plastik. Beban hidup jadi terasa lebih berat.
Walau begitu,
saya selalu berusaha menyemangati diri sendiri, setidaknya ada satu langkah
kecil yang sudah saya buat dan satu langkah itu pasti akan memicu
langkah-langkah kecil berikutnya.
Bagi Anda yang
ingin menerapkan gaya hidup low-waste,
Anda harus belajar untuk berencana sebelum berbelanja, karena inti dari gaya
hidup ini adalah perencanaan yang matang dan komitmen tentunya. Berikut
langkah-langkah yang saya lakukan untuk mengurangi penggunaan kantong plastik
yang dapat Anda ikuti juga:
1.
Buat
daftar belanja. Selain menghemat pengeluaran, daftar
belanja juga membantu Anda untuk menentukan jumlah tas belanja dan wadah yang
harus Anda bawa (untuk menampung belanjaan apa saja).
2. Siapkan
tas belanja. Pastikan Anda memiliki tas belanja
yang dapat digunakan berulang kali lebih dari satu dan tersedia dalam berbagai
ukuran. Tas belanja yang saya miliki ada yang khusus saya beli dari
supermarket, ada juga yang saya dapat dari membeli produk dari berbagai toko
(butik, gerai ponsel, gerai kacamata) atau tas bekas souvenir. Ada yang
berbahan plastik tebal maupun kain. Tiap kali belanja bulanan, saya akan membawa
tas-tas berikut: satu tas besar untuk barang-barang umum, tas kecil untuk
buah-buahan (kalau sedang ingin beli buah. Usahakan pilih buah yang tidak
dibungkus jaring), dan tas kecil untuk bawang merah dan bawang putih. Kalau
sedang ingin beli tape ketan, saya akan membawa tas plastik kecil dari rumah
karena kemasan tape ketan itu tidak anti tumpah (tas plastik itu akan saya cuci
agar bisa dipakai lagi).
3.
Siapkan
wadah khusus. Ada produk-produk segar yang tidak
langsung dikemas (yang biasanya akan dibungkus plastik kemudian) dan tidak
mungkin Anda jadikan satu dengan belanjaan lainnya. Contohnya adalah telur,
daging, kelapa parut, jus, es campur dan berbagai bahan makanan atau minuman
lain. Untuk produk-produk tersebut saya menyiapkan tempat telur, mangkuk atau
wadah bertutup, dan gelas bertutup. Saya sengaja membeli satu merk telur di
satu supermarket—agak mahal harganya dibanding telur biasa—supaya tempatnya
dapat saya gunakan kembali, tak perlu lagi
membungkus telur dengan plastik, pun lebih aman. Mangkuk atau wadah bertutup saya
gunakan untuk daging atau bahan makanan lain, dan gelas bertutup untuk kopi,
teh, jus, atau minuman lain. Saya baru saja membeli mug termos (baru muncul di
supermarket langganan), berukuran 450 ml, mungkin akan saya coba pakai kalau
ingin beli milk tea favorit—semoga
cukup hehe.
Nah, itulah 3 langkah mudah mengurangi
penggunaan kantong plastik saat berbelanja yang dapat saya bagikan. Tampak
ribet di awal dan ada kemungkinan Anda akan ditertawakan pegawai toko. Serius.
Saya mengalami ini beberapa kali di satu supermarket langganan ketika akan
menimbang telur atau buah. Pegawai yang melayani saya gonta-ganti, sih, jadi
tidak tahu kebiasaan saya—ketemu dengan pegawai yang sama juga dia tetap
menertawakan saya, denk. Yang paling bikin sebal adalah masa-masa awal saat
saya menimbang buah (apel/pir/jeruk yang saya beli untuk diri sendiri, paling
hanya tiga atau empat buah) tanpa menggunakan kantong plastik yang telah disediakan.
Salah satu pegawai ngeyel supaya saya
menggunakan kantong plastik walau saya sudah bilang tidak, tidak, dan tidak. Dipikirnya
saya anak kecil yang nggak tahu
caranya belanja kali, ya. Alhasil,
karena saya bukan tipe orang yang bisa galak dengan orang asing, saya pasrah
saja saat dia mengeluarkan buah saya dari dalam tas kain lalu memindahkannya ke
dalam kantong plastik dan dengan senyum puas menempelken stiker harga lalu
menyerahkannya kepada saya. Ih, bikin kesel, deh! Semoga Anda tidak mengalami hal yang sama. Kalau iya, jangan
menyerah! Masih ada kesempatan. Lama-lama Anda akan terbiasa dan dapat dengan
fasih mengucapkan, “Nggak usah diplastik,
ya, Mbak/Mas/Pak/Bu!” Intinya adalah disiplin, konsisten, dan tegas (dengan
pegawai toko). Rencanakan belanja Anda di rumah. Kalau di tengah jalan
tiba-tiba ingin belanja tapi tidak bawa tas belanja, ya tidak usah belanja
(kecuali belanjaan Anda sedikit dan muat dalam tas yang sedang Anda bawa atau
Anda berada dalam situasi di mana kalau nggak beli barang itu Anda bisa mati).
Perlahan Anda akan mengalami perubahan gaya hidup; pengeluaran lebih terkontrol,
menghindari cemilan kurang sehat, mulai membawa bekal, makan makanan yang lebih
sehat, dan mulai memerhatikan dan menggunakan produk-produk ramah lingkungan.
Sebagai informasi tambahan, saya memulai
gaya hidup ini karena terinspirasi oleh Lauren Singer yang bisa Anda tonton
videonya di sini. Dia memberi solusi atas kekhawatiran saya tiap kali membuang
sampah kemasan ke tempat sampah. Berikut rencana saya selanjutnya yang
terinspirasi darinya: membeli sikat gigi bambu, membeli sikat pencuci piring
ramah lingkungan, membeli sedotan stainless
steel, membeli produk pencuci piring, pelembut pakaian, dan pembersih
lantai curah, dan membuat deodoran dan lotion
sendiri. Selain itu, kesadaran saya untuk benar-benar mengurangi sampah kemasan
meningkat setelah menonton video yang menyorot Boyan Slat dan proyeknya yang luar
biasa untuk menjaring jutaan ton sampah dari lautan—Anda harus tonton videonya
di sini. Ini adalah masalah serius yang harus kita atasi bersama, teman-teman, kalau kita ingin bumi ini
bertahan lebih lama dan dapat terus memberikan kebaikannya untuk kita semua.
Jangan pernah meremehkan dampak yang bisa dibuat oleh satu orang.
Jika Anda memiliki pengalaman, informasi
tambahan, kritik, maupun saran yang ingin Anda bagikan terkait gaya hidup low-waste atau zero-waste, silakan tinggalkan pesan di kolom komentar :). Terima kasih sudah membaca! Selamat berjuang
menyelamatkan bumi tercinta! Sampai berjumpa di kiriman berikutnya!
