Selasa, 01 Mei 2018

Road to Low-waste Lifestyle


My low-waste weapons

Tadinya kiriman ini ingin saya publikasikan di Hari Bumi Sedunia—sekaligus hari ulang tahun saya (hah!)—tapi karena hari-hari menjelang hari itu banyak pekerjaan yang harus diselesaikan dan banyak pikiran yang harus diwujudnyatakan, kiriman ini baru berhasil saya publikasikan sekarang. Akhirnya! Lagipula, tiap hari adalah Hari Bumi, bukan? Sudah lama saya ingin berbagi cerita mengenai upaya yang berhasil saya lakukan untuk mengurangi sampah yang sulit hingga tidak dapat terurai oleh tanah yang kita injak di bumi tercinta. Upaya tersebut adalah membawa botol minum berbahan stainless steel ke mana pun saya pergi dan menolak menggunakan kantong plastik untuk menampung barang belanjaan saya. Ya, sejauh ini baru dua upaya itu yang berhasil saya lakukan.

Sedih.

Bagi saya yang hidup di kawasan perkotaan di mana semuanya serba praktis, gaya hidup low-waste apalagi zero-waste merupakan sebuah tantangan yang bukan main beratnya; supermarket dan minimarket ada di mana-mana, berbagai produk yang saya butuhkan maupun tidak begitu saya butuhkan (cemilan merk terbaru yang menggoda selera misalnya) mayoritas dikemas dalam kemasan plastik dan karton pabrikan. Jadi, tiap kali saya berbelanja di supermarket atau minimarket langganan, saya merasa sangat berdosa, “Katanya mau ngurangin sampah plastik. Semua barang yang kaubeli dibungkus plastik, tuh!” Begitu bunyi suara di kepala saya. Membawa tas belanja sendiri rasanya masih belum cukup. Belum lagi kalau saya menerima paket dari situs belanja online yang hampir pasti dibungkus plastik. Beban hidup jadi terasa lebih berat.

Walau begitu, saya selalu berusaha menyemangati diri sendiri, setidaknya ada satu langkah kecil yang sudah saya buat dan satu langkah itu pasti akan memicu langkah-langkah kecil berikutnya.

Bagi Anda yang ingin menerapkan gaya hidup low-waste, Anda harus belajar untuk berencana sebelum berbelanja, karena inti dari gaya hidup ini adalah perencanaan yang matang dan komitmen tentunya. Berikut langkah-langkah yang saya lakukan untuk mengurangi penggunaan kantong plastik yang dapat Anda ikuti juga:
1.     Buat daftar belanja. Selain menghemat pengeluaran, daftar belanja juga membantu Anda untuk menentukan jumlah tas belanja dan wadah yang harus Anda bawa (untuk menampung belanjaan apa saja).
2.  Siapkan tas belanja. Pastikan Anda memiliki tas belanja yang dapat digunakan berulang kali lebih dari satu dan tersedia dalam berbagai ukuran. Tas belanja yang saya miliki ada yang khusus saya beli dari supermarket, ada juga yang saya dapat dari membeli produk dari berbagai toko (butik, gerai ponsel, gerai kacamata) atau tas bekas souvenir. Ada yang berbahan plastik tebal maupun kain. Tiap kali belanja bulanan, saya akan membawa tas-tas berikut: satu tas besar untuk barang-barang umum, tas kecil untuk buah-buahan (kalau sedang ingin beli buah. Usahakan pilih buah yang tidak dibungkus jaring), dan tas kecil untuk bawang merah dan bawang putih. Kalau sedang ingin beli tape ketan, saya akan membawa tas plastik kecil dari rumah karena kemasan tape ketan itu tidak anti tumpah (tas plastik itu akan saya cuci agar bisa dipakai lagi).
3.    Siapkan wadah khusus. Ada produk-produk segar yang tidak langsung dikemas (yang biasanya akan dibungkus plastik kemudian) dan tidak mungkin Anda jadikan satu dengan belanjaan lainnya. Contohnya adalah telur, daging, kelapa parut, jus, es campur dan berbagai bahan makanan atau minuman lain. Untuk produk-produk tersebut saya menyiapkan tempat telur, mangkuk atau wadah bertutup, dan gelas bertutup. Saya sengaja membeli satu merk telur di satu supermarket—agak mahal harganya dibanding telur biasa—supaya tempatnya dapat saya gunakan kembali, tak perlu lagi membungkus telur dengan plastik, pun lebih aman. Mangkuk atau wadah bertutup saya gunakan untuk daging atau bahan makanan lain, dan gelas bertutup untuk kopi, teh, jus, atau minuman lain. Saya baru saja membeli mug termos (baru muncul di supermarket langganan), berukuran 450 ml, mungkin akan saya coba pakai kalau ingin beli milk tea favorit—semoga cukup hehe.

Nah, itulah 3 langkah mudah mengurangi penggunaan kantong plastik saat berbelanja yang dapat saya bagikan. Tampak ribet di awal dan ada kemungkinan Anda akan ditertawakan pegawai toko. Serius. Saya mengalami ini beberapa kali di satu supermarket langganan ketika akan menimbang telur atau buah. Pegawai yang melayani saya gonta-ganti, sih, jadi tidak tahu kebiasaan saya—ketemu dengan pegawai yang sama juga dia tetap menertawakan saya, denk. Yang paling bikin sebal adalah masa-masa awal saat saya menimbang buah (apel/pir/jeruk yang saya beli untuk diri sendiri, paling hanya tiga atau empat buah) tanpa menggunakan kantong plastik yang telah disediakan. Salah satu pegawai ngeyel supaya saya menggunakan kantong plastik walau saya sudah bilang tidak, tidak, dan tidak. Dipikirnya saya anak kecil yang nggak tahu caranya belanja kali, ya. Alhasil, karena saya bukan tipe orang yang bisa galak dengan orang asing, saya pasrah saja saat dia mengeluarkan buah saya dari dalam tas kain lalu memindahkannya ke dalam kantong plastik dan dengan senyum puas menempelken stiker harga lalu menyerahkannya kepada saya. Ih, bikin kesel, deh! Semoga Anda tidak mengalami hal yang sama. Kalau iya, jangan menyerah! Masih ada kesempatan. Lama-lama Anda akan terbiasa dan dapat dengan fasih mengucapkan, “Nggak usah diplastik, ya, Mbak/Mas/Pak/Bu!” Intinya adalah disiplin, konsisten, dan tegas (dengan pegawai toko). Rencanakan belanja Anda di rumah. Kalau di tengah jalan tiba-tiba ingin belanja tapi tidak bawa tas belanja, ya tidak usah belanja (kecuali belanjaan Anda sedikit dan muat dalam tas yang sedang Anda bawa atau Anda berada dalam situasi di mana kalau nggak beli barang itu Anda bisa mati). Perlahan Anda akan mengalami perubahan gaya hidup; pengeluaran lebih terkontrol, menghindari cemilan kurang sehat, mulai membawa bekal, makan makanan yang lebih sehat, dan mulai memerhatikan dan menggunakan produk-produk ramah lingkungan.

Sebagai informasi tambahan, saya memulai gaya hidup ini karena terinspirasi oleh Lauren Singer yang bisa Anda tonton videonya di sini. Dia memberi solusi atas kekhawatiran saya tiap kali membuang sampah kemasan ke tempat sampah. Berikut rencana saya selanjutnya yang terinspirasi darinya: membeli sikat gigi bambu, membeli sikat pencuci piring ramah lingkungan, membeli sedotan stainless steel, membeli produk pencuci piring, pelembut pakaian, dan pembersih lantai curah, dan membuat deodoran dan lotion sendiri. Selain itu, kesadaran saya untuk benar-benar mengurangi sampah kemasan meningkat setelah menonton video yang menyorot Boyan Slat dan proyeknya yang luar biasa untuk menjaring jutaan ton sampah dari lautan—Anda harus tonton videonya di sini. Ini adalah masalah serius yang harus kita atasi bersama, teman-teman, kalau kita ingin bumi ini bertahan lebih lama dan dapat terus memberikan kebaikannya untuk kita semua. Jangan pernah meremehkan dampak yang bisa dibuat oleh satu orang.

Jika Anda memiliki pengalaman, informasi tambahan, kritik, maupun saran yang ingin Anda bagikan terkait gaya hidup low-waste atau zero-waste, silakan tinggalkan pesan di kolom komentar :). Terima kasih sudah membaca! Selamat berjuang menyelamatkan bumi tercinta! Sampai berjumpa di kiriman berikutnya!

3 komentar:

  1. Menurut saya, langkah langkah yang ada di atas itu cukup membantu dan menarik,, dengan cara tersebut, kita akan lebih mudah dalam melakukan penghematan plastik dalam kegiatan yang berhubungan dengan plastik

    BalasHapus
  2. Langkah2 tersebut sangat menginspirasi saya dan mengajarkan kita betapa pentingnya pengurangan penggunaan plastik. Dan saya akan mencobanya, sebenarnya setiap belanja saya juga menerapkan langkah2 seperti itu tapi hanya sampai ke langkah yang ke 2 saja 😂

    BalasHapus
  3. Sampah merupakan benda yang tak lepas dari kehidupan kita sehari hari. Apalagi hidup diperkotaan. Banyak sekali sampah plastik terutama yang berserakan dimana-mana". Tpi dgn ada blog seperti ini bisa membawa manfaat untuk menggunakan plastik dgn benar dan tepat

    BalasHapus